Event

Event
Kegiatan mahasiswa yang akan, sedang, dan telah dilakukan.

Info dan Pengumuman

Info dan Pengumuman
Info tentang organisasi, anggota, majelis ilmu, dan berita eksternal lainnya.

Wahana Berpendapat

Wahana Berpendapat
Silahkan menyampaikan saran, kritik, dan pendapatnya.

cover photo

cover photo

Membakar Uang Demi Kenikmatan Sesaat

| Monday, December 14, 2009
Oleh : Nur Isna (Biologi 2007)


Kalau teman-teman diminta membakar uangnya demi suatu hal yang merugikan kesehatan tubuh, mau melakukannya tidak? Tentu saja tidak kan. Karena bukan hanya kesehatan saja yang dirugikan, tapi keadaan kantong juga. Hehe..:D Daripada seperti itu, lebih baik uangnya ditabung atau digunakan untuk memenuhi biaya hidup teman-teman, apalagi anak kosan atau asrama. Tapi, tahukah kalian? Masih ada saja orang yang mau melakukan hal itu, baik sadar maupun tidak. Oh ya? Iya, dan bukan cuma segelintir orang yang melakukan hal itu. Orang-orang seperti itu dapat dijumpai cukup sering loh! Sebenernya apa sih yang sedang saya bicarakan ini? Mungkin itu yang ada di pikiran teman-teman skearang ya. Okay, to the point aja ya..Yang sedang saya bicarakan itu adalah MEROKOK!!!

Merokok bisa diibaratkan membakar uang demi hal yang sia-sia. Orang yang membeli rokok hanya membelinya untuk dibakar saja, sama seperti membakar uang. Memang sih biasanya orang membeli rokok tidak hanya untuk dibakar namun juga untuk dihisap. Tapi, ada juga orang-orang yang tidak menghisapnya. Cukup dengan membakar sebatang rokok, perasaan mereka bisa menjadi tenang. Entahlah, mungkin karena aroma rokok yang telah melekat di hidung dan otak mereka sehingga otaknya telah terstimulus menjadi lebih rileks bila mencium aroma rokok. Padahal tidak sedikit dari mereka yang mengerti bahayanya merokok. “Berasa ada yang kurang kalo sehari gak ngerokok.”, begitu pendapat beberapa orang teman saya yang seorang perokok. Bagi mereka, rokok sudah seperti candu. Baru bisa rileks kalau sudah merokok, baru bisa PD kalau sudah merokok, adalah beberapa alasan dari orang-orang untuk tetap merokok meskipun mereka sadar risiko merokok.

Menurut saya, orang yang merokok adalah orang yang egois, apalagi kalau merokok di tempat umum. Kenapa saya bisa berkata seperti itu? Karena orang yang merokok biasanya tidak memikirkan perasaan orang lain yang tidak suka dengan bau dan asap rokok. Yang ada di benak mereka biasanya, “Ah, biarin..yang penting saya senang merokok!”. Rasanya paling greget kalau orang yang merokok di dalam angkutan umum dan asapnya ditebar kemana-mana. Iiiih, bawaannya pengen ngejitak orang itu. Gimana kalo ternyata di dalam angkutan umum itu ada seorang penderita asma dan dia tidak tahan terhadapa asap rokok. Kalo asmanya kumat dan parah, berani tanggung jawab??

Terkadang saya memberikan kode secara tidak langsung bahwa saya tidak suka dengan rokok. Bila seorang perokok merokok di angkutan umum, saya langsung batuk-batuk. Bukan pura-pura, tapi memang asap rokok terasa menusuk dan menyakitkan untuk paru-paru saya. Bikin tenggorokan gatal dan pengen batuk buat mengeluarkannya. Alhamdulillah dengan cara saya itu ada sebagian orang yang mengerti dan langsung mematikan rokoknya. Tapi itu cuma sebagian kecil, sisanya? Wuiiihh..malah makin dahsyat dia mengepulkan asap rokoknya. Serasa mendapat tantangan dari saya. Orang-orang seperti itu yang membuat saya harus semakin rapat menutup mulut dan hidung, serta mengurut dada. Yah, saya pikir sih ini salah satu kesempatan untuk beramal dengan bersabar:D Tapi, kadang kalo memang sedang jengkel, di otak saya terpikir beberapa ide kriminal sperti ingin rasanya memasukkan rokok itu ke mulutnya. Kan kasihan kalo dia sudah membeli rokok, tapi asapnya dibuang-buang, mending ditelan saja biar puas..puas..puas…hehehehe :P

Budaya merokok nampaknya tidak bisa lepas dari kehidupan orang Indonesia. Liat saja di stasiun tivi, kalau mewawancarai seseorang, meskipun rakyat kecil namun mereka tetap dapat merokok dan menampakkan hal tersebut di depan kamera. Sepertinya kebanyakan orang lebih memilih tidak makan daripada tidak merokok. Padahal manfaat di balik rokok itu hampir tidak ada bila dibandingkan dengan manfaat makanan. Anehnya, meskipun kampanye anti merokok cukup gencar, namun jumlah orang yang merokok tetap saja banyak. Dan yang paling penting, meskipun telah diciptakan undang-undang anti merokok di fasilitas umum, seperti kendaraan umum, pada kenyataannya masih banyak saja orang yang melanggar. Seakan-akan peraturan hanyalah formalitas belaka, tanpa ada tindakan lebih lanjut.

Merokok diidentikkan dengan kejantanan, berani, dan gagah. Padahal dibalik itu semua, merokok hanya akan merusak kesehatan, terutama bagi kaum wanita. Namun, sekali lagi, anehnya tetap saja cukup banyak dijumpai wanita yang merokok. “Merokok sudah menjadi bagian dari gaya hidup.”, begitulah antara lain kalimat mereka untuk berkilah. Seakan-akan orang yang tidak merokok adalah orang yang tidak gaul dan sulit untuk diterima dalam pergaulan.

Banyak orang yang bilang, bahwa rokok sudah menjadi bagian penting dalam perekonomian Indonesia. Lihat saja, banyak pabrik rokok di Indonesia. Pabrik tersebut tidak hanya mendatangkan devisa namun juga menyedot tenaga kerja manusia. Iklan-iklan rokok yang ditampilkan di berbagai media pun sangat menarik, bahkan hampir tidak terlihat bahwa itu adalah iklan rokok. Berbagai cara digunakan untuk menarik minat masyarakat terhadap rokok. Menurut saya, hal itu seperti mengemas racun dengan label madu. Rokok dengan segudang bahan kimia berbahaya penyusunnya dikemas sedemikian rupa sehingga berkesan baik-baik saja. Padahal merokok dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, seperti pesan pemerintah: Merokok dapat menyebabkan kanker, impotensi, gangguan kehamilan dan janin.

Orang yang merokok tidak hanya merugikan dirinya sendiri, melainkan orang-orang yang berada dalam lingkungannya. Orang yang paling menderita karena ulah para perokok adalah orang-orang yang berada di lingkungan perokok, yang biasa disebut perokok pasif. Perokok pasif memiliki resiko terkena penyakit akibat rokok yang lebih besar daripada perokok aktif. Hal ini dikarenakan jumlah asap yang dihirup perokok pasif lebih banyak daripada perokok aktif. Tentu saja ini diakibatkan asap rokok yang dihembuskan oleh perokok aktif lebih banyak daripada asap yang dihirup perokok aktif selama menghisap rokok. Secara tidak langsung perokok aktif bertanggung jawab dalam menyakiti fisik perokok pasif. Hiii, berarti secara tidak langsung para perokok sudah mendzalimi orang-orang sekitarnya. Kalo misalnya dibales ama Allah gimana ya?

Ngerokok bener-bener gak ada manfaatnya deh. “Saya jadi lebih PD and rileks kok setelah merokok!!”, hm..kalo rokoknya abis terus jadi gak PD and rileks lagi? Cuma sesaat donk manfaatnya, hanya kenikmatan semu. Kalo itu doank manfaatnya mah masih bisa digantiin ama yang lain. Masih ada alternatif lain yang jauh lebih baik daripada merokok. Kalo pengen rileks bisa dicoba tuh aromaterapi, bikin sendiri dari kulit jeruk yang dikeringkan misalnya ato istirahat aja juga bisa. Biar PD? Bukan dengan ngerokok lah..justru harus meyakinkan diri sendiri bahwa kamu bisa, minta juga dukungan moril dari temen ato keluarga. Semua orang tuh punya potensi masing-masing, trus dicari and diasah aja. Kalo misalnya kamu gak jago gambar, siapa tau kamu jago nyanyi. Orang yang ngerokok itu justru nunjukin kalo dirinya itu gak PD. So, masih pengen ngerokok???

0 comments:

Post a Comment

 

Copyright © 2010 Al-Hayaat | Design by Dzignine