Event

Event
Kegiatan mahasiswa yang akan, sedang, dan telah dilakukan.

Info dan Pengumuman

Info dan Pengumuman
Info tentang organisasi, anggota, majelis ilmu, dan berita eksternal lainnya.

Wahana Berpendapat

Wahana Berpendapat
Silahkan menyampaikan saran, kritik, dan pendapatnya.

cover photo

cover photo

Pondok Qur'an Bandung: Menerima Pendaftaran

| Monday, May 21, 2012
Assalamualaykum.
Ini ada program bagus sambil menyambut ramadhan. Silakan bisa coba ikut bagi yang berkesempatan. :)
Pondok Qur'an Bandung membuka pendaftaran santri tahfizh baru. 
Rentang waktu pendaftaran: 9 Mei - 11 Juni 2012
Fasilitas : asrama, makan, tempat tidur, pendidikan dll 100 % FREE --> peserta TERBATAS
Segera daftar via sms ke 085221354962
format: #NAMA#ALAMAT#USIA#NO HP
CP: ust.Solahudin (081214481501) ustdzh Resti (085223046692)


Tes Gelombang 1: 20 Mei 2012, @Jl. Terusan Kircon, Komp. Kiara Sari Asri No. 20
Belajar dimulai: 1 Juli 2012
Ayo cepet daftar.

Baca selengkapnya »

Nonton Bareng: Syria???

|
Assalamualaykum.


Gun shots, cries and yell....
Syria is really bleeding.....
Mau tahu info tentang keadaan syria???
Datang aja ;Senin 21 mei 2012 @basement sostek labtek VII ITB
Jam 13.00-selese.
Acara: Nobar (Nonton Bareng)...
Sebarkan dan ajak temen2 cewemu....
*girls only*
cp : 08997835258
#pray for syria




Baca selengkapnya »

Talkshow Kontemporer: Irshad Manji?

|
Assalamu'alaykum.w.w.




Massa kampus yang senantiasa haus informasi dan ilmu - ilmu yang sedang hangat saat ini. Sempat panas beberapa hari lalu akan kedatangan Irshad Manji. Siapakah dia? Bagaimana isi bukunya? Bagaimana seharusnya kita menanggapi? Apa untungnya kita mengetahui informasi terkaitnya? baikkah apa yang Dia sampaikan?? Mari melihat segalanya dari sudut panjang yang objektif. Insya Allah, Gamais memfasilitasi Talkshow seputar hal ini pada :


Hari/Tanggal : Senin, 21 Mei 2012
Pukul : 16.00 - 18.00 WIBTempat : Selasar Hijau Masjid Salman ITB




Akan juga pembedahan buku Allah, Liberty, dan Love langsung dari aktivis PIMPIN (Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Islam).
Baca selengkapnya »

Ibarat Pohon yang Tak Berbuah

| Wednesday, May 16, 2012

Syaikh Abdurrahman bin Qasim An Najdi rahimahullah mengatakan,
“Amal adalah buah dari ilmu. Ilmu itu dicari demi mencapai sesuatu yang lain.

Fungsi ilmu ibarat sebatang pohon, sedangkan amalan seperti buahnya.

Maka setelah mengetahui ajaran agama Islam seseorang harus menyertainya dengan amalan. Sebab orang yang berilmu akan tetapi tidak beramal dengannya lebih jelek keadaannya daripada orang bodoh.

Di dalam hadits disebutkan,
“Orang yang paling keras siksanya adalah seorang berilmu dan
tidak diberi manfaat oleh Allah dengan sebab ilmunya.”

Orang semacam inilah yang termasuk satu di antara tiga orang
yang dijadikan sebagai bahan bakar pertama-tama untuk menyalakan api neraka.

Di dalam sebuah sya’ir dikatakan,
Orang alim yang tidak mau mengamalkan ilmunya
Mereka akan disiksa sebelum disiksanya para penyembah berhala.
(lihat Hasyiyah Tsalatsatul Ushul, hal. 12)

Ancaman Bagi Orang yang Berilmu Tapi Tidak Beramal
---------------------------------------------------------------
Syaikh Nu’man bin Abdul Karim Al Watr mengatakan,
“Di dalam al-Qur’an Allah ta’ala sering sekali menyebutkan amal shalih beriringan dengan iman. Allah juga mencela orang-orang yang mengatakan apa-apa yang mereka tidak kerjakan. Dan Allah mengabarkan bahwa perbuatan seperti itu sangat dimurkai-Nya.

Allah berfirman (yang artinya),
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan. Sungguh besar kemurkaan di sisi Allah karena kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash Shaff [61]: 2-3)

***
Di dalam shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan hadits Usamah bin Zaid, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Pada hari kiamat nanti akan ada seseorang yang didatangkan kemudian dilemparkan ke dalam neraka. Isi perutnya terburai, sehingga ia berputar-putar sebagaimana berputarnya keledai yang menggerakkan penggilingan.

Penduduk neraka pun berkumpul mengerumuninya. Mereka bertanya,
‘Wahai fulan, apakah yang terjadi pada dirimu? Bukankah dahulu engkau memerintahkan kami untuk berbuat kebaikan dan melarang kami dari kemungkaran?’.

Dia menjawab, ‘Dahulu aku memerintahkan kalian berbuat baik akan tetapi aku tidak mengerjakannya. Dan aku melarang kemungkaran sedangkan aku sendiri justru melakukannya’.”


(Ayumi, 2012a)
Baca selengkapnya »

SITH MENGAJI dan DOA BERSAMA

| Tuesday, April 24, 2012


SITH MENGAJI
JUM'AT, 4 MEI 2012 BA'DA ASHAR JAM 16.00 @ KEBAB
*Bakal ada doa bersama buat UAS juga loh!
Baca selengkapnya »

Mengikat yang mendesir, yang membuatmu melayang..

|
oleh Hajah Sofyamarwa Rachmawati 
image source


Saya sangat suka membaca, dibawah ini resume yang saya buat dari sebuah buku yang situlis salah satu penulis favorit saya, Hernowo. Tulisannya ringan, dan banyak dari tulisan tulisannya yang membuat kita jadi termotivasi buat banyak membaca dan menulis. Tanpa menggurui, bahkan beliau memaparkan sejelas jelasnya tahapan menulis. Bukan sekedar "langkah-langkah", tapi seolah beliau memahami perasaan kita sebagai pembaca.

*   *   *   *

PERKAYA DIRI DENGAN MEMBACA
Ketika kau sedang memegang buku di tangan dan membacanya, bayangkan kau sedang berada pada balon udara yang terus membawamu melambung tinggi ke atas. Seperti itulah dirimu ketika membaca buku, materi yang baru membuatmu semakin tinggi dan lebih tahu banyak hal ketimbang sebelumnya. (h. 22)
Walaupun tidak semua isi buku aku pahami, tapi setidaknya aku telah melatih sel-sel otak ku untuk terus bekerja dan banyak hal yang dapat aku ketahui dari bacaanku. (Sofyamarwa, 2010)

"Makna adalah sesuatu yang mendesir di hatimu,hal-hal yang membuatmu melayang.." (Hernowo, 2004)
Membaca buku membuat pembacanya aktif.  Tulisan-tulisan pada buku dapat menimbulkan imajinasi-imajinasi tersendiri bagi pembaca. Ketika kau membaca sebuah novel misalnya, muncul berbagai adegan dalam kepalamu, karakter pemain, setting latar, suara, warna, bahkan rasa. Ya, itulah yang membedakan ketika kita membaca buku dengan hanya sekedar menonton sajian di kotak  kecil bernama televisi.
UBAH BEBAN YANG ADA MENJADI MANFAAT, MAKA BALON UDARAMU AKAN TERBANG LEBIH TINGGI LAGI :D


JAGA DAN SEBARKAN 'KEKAYAANMU' DENGAN MENULIS
Salah satu manfaat menulis adalah mengefektifkan kegiatan membaca buku (Hernowo, 2004).
Jika kau suka membaca, nampaknya merupakan suatu keharusan untuk menuliskan apa yang kau dapatkan. Tulis saja kesan atau kalimat-kalimat ringan yang kau sukai, pokoknya "ikat" hal-hal yang bermanfaat bagi dirimu lewat tulisan.
Karena kau tahu? Betapa hebatnya efek yang ditimbulkan dari kegiatan baca-tulis yang dipadukan!
Pada mulanya mungkin kau hanya mencoba merumuskan gagasan -gagasan orang lain dari buku, namun pada akhirnya, kau akan terdorong untuk dapat menuliskan gagasan-gagasan mu sendiri lewat tulisan-tulisanmu! Ya, aku sudah merasakannya! Nah,sekarang saatnya merenung, apakah selama ini cara membaca saya sudah efektif bila tak dituliskan? Luangkan saja secuil waktumu (7-10 menit) untuk membaca buku dan menuliskan apa yang sudah diperoleh dari kegiatan membaca tersebut. Tak usah khawatir bila kau tak bisa jadi penulis hebat dalam waktu yang sebentar, toh yang harus kau pikirkan adalah apa manfaatnya bagi dirimu, itu saja.
Untuk mengetahui apakah suatu hal bermanfaat bagimu atau tidak, tanyakan secara tajam pada dirimu! Dengan begitu, biasanya otak akan mulai berpikir, mencari berbagai motivasi, sehingga akhirnya kau dapat mengemukakan berbagai alasan kenapa kau mau melakukan hal itu.

PILIHLAH BUKU-BUKU YANG MENGGERAKKAN PIKIRANMU.
"Kita membaca buku untuk mencari tahu tentang diri kita sendiri. Apa yang dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan oleh orang lain, entah mereka nyata atau hanya imajiner, merupakan petunjuk yang sangat penting terhadap pemahaman kita mengenai apa sebenarnya diri kita ini, dan bisa menjadi apakah kita ini." (Ursula K. Le Guin-seorang penulis) h. 67

Seseorang dengan judul buku pilihannya bisa menunjukkan siapa dirinya. Tentu saja, kebutuhannya lah yang mendorong dirinya untuk memilih judul buku tersebut. Pada hakikatnya tidak ada buku yang tidak bermanfaat. Namun juga tidak bisa dipungkiri bahwa banyak buku yang sebenarnya kurang pantas untuk dibaca serta tidak penting untuk diketahui.
Pintar-pintarnya kita lah untuk memilih mana buku yang 'bergizi' mana yang tidak. Tapi ingat, yang kita cari adalah manfaat, maka petiklah manfaat dari apapun yang kau baca.

BERUSAHALAH SEKUAT TENAGA UNTUK MENULISKAN PIKIRANMU
Yang perlu ditulis adalah PIKIRANMU, bukan sekedar susunan huruf-huruf yang mati. Artinya,
ketika menulis, maka yang dipelajari adalah isi (pikiranmu), bukan sarana (kata-katamu). Jadi ketika menulis, bebaskan pikiranmu, ya, Sangat bebas!  Maka bebaskan segala pikiran dari segala hal yang membatasi pikiranmu ketika menulis. Menurut James W. Pennebaker (seorang psikolog yang telah meneliti manfaat menulis secara bebas untuk keperluan penyembuhan diri. Penemuan tentang keajaiban menulis yang membuat sesorang dapat kebal dari serangan penyakit dan terutama sembuh dari tekanan yang menderanya) dalam bukunya Opening Up, jika kamu dalam keadaan bebas saat menulis, dan yang kau tulis adalah hal-hal yang menyesakimu, maka kamu akan terbantu dalam mengatasi tekanan yang menderamu.
Alirkan saja secara bebas! Kesalahan-kesalahanmu, pengalaman-pengalamanmu, perasaanmu
tentang dirimu, potensi-potensimu, pendapatmu,--semuanya! Sekali lagi, bebaskan dirimu dari segala hal! Keluarkan hingga bersih, Keluarkan, keluarkan! Kuras semuanya! Jadi plong? Ya, Lega!
Tak usahlah berpusing-pusing dulu dengan kaidah-kaidah kebahasaan. Lebih baik biasakan dirimu saja untuk terus menulis.
Nah, hasil tulisanmu yang bebas ini adalah bahan untuk tulisanmu. Bedakan kegiatan menulis
bebas (mengumpulkan bahan) dan menulis untuk dipublikasikan (yang dirapikan). Karena dua hal itu sangat berbeda.
PESAN PENTINGNYA: MENULISLAH UNTUK MELATIH DIRIMU AGAR MAU MENERIMA DIRIMU SECARA APA ADANYA. MENULISLAH BERBEKAL KEJUJURAN. TULISLAH APAPUN YANG ADA DI PIKIRAN DAN PERASAANMU. TERBUKALAH PADA DIRIMU SENDIRI KETIKA MENULIS.

BIASAKANLAH MEMBACA DAN MENULISKAN DIRIMU SETIAP HARI
Menulis yang baik diawali dengan menulis sesuatu yang ditujukan untuk keperluan diri sendiri dahulu. Baru setelah berlatih menulis bebas untuk keperuan diri sendiri secara rutin, tahap berikutnya adalah mempelajari kaidah-kaidah kebahasaan. Jika tahapan ini ditempuh, menulis dapat memberikan efek yang dahsyat!
Kaubisa tuliskan dalam buku catatan kecilmu dulu, tuliskan saja setiap hal berkesan yang kau alami, ya,tuliskan saja! Karena menulis dapat membantu seseorang untuk mengenali diri - mengenali pikiran, perasaan dan apapun yang bergejolak dalam diri.

IF YOU CAN DREAM IT, YOU CAN DO IT!
"Pikiran bukan sebuah wadah untuk diisi melainkan api yang harus dinyalakan." Plutarch
Membaca dan menulislah setiap hari, lalu temukan bahwa kehidupanmu sangat menarik!
***********************
Resume buku Mengikat Makna karya Hernowo, 2004. Penerbit Mizan Learning Center: Bandung.
Diresume antara tanggal 29 Des-2 Jan

Baca selengkapnya »

Nilai, Kebudayaan, dan Semangat Perubahan

| Saturday, April 21, 2012



Oleh : Fasa Aditya
Biologi : 2009

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa kebudayaan merupakan unsur penting dalam membangun suatu peradaban. Berbicara kata kebudayaan disini tidak hanya sebatas kata “budaya” yang seperti kita kenal bersama, seperti budaya reog, budaya jaipong, budaya membatik dan lain sebagainya.  Berbicara mengenai budaya disini merupakan suatu nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sehingga akan 
berguna dalam membentuk karakter warga negara Indonesia dalam menghadapi era teknologi informasi yang tumbuh dengan cepat.

Kemajuan teknologi informasi yang begitu cepat dapat memberikan efek kerusakan moral dan kepribadian yang buruk pada setiap masyarakatnya. Dengan latar belakang tersebut, maka orang-orang tersadarkan akan pentingnya suatu etika dalam kehidupan sehari-hari dimana industri dan teknologi tidaklah cukup untuk mencapai suatu kesuksesan. Dengan era dan jaman yang telah berubah maka setiap orang wajib untuk mempersiapkan diri utuk menghadapi era tersebut.

Negara Indonesia telah banyak berganti sistem dan pemimpin. Hasilnya adalah tidak menghasilakan suatu perbuahan yang signifikan dalam perkembangan negara Indonesia. Hal tersebut karena negara ini tidak membangun kepribadian dan budaya dari rakyatnya. Suatu penelitian menyebutkan bahwa 80% kesuksesan seseorang adalah karena kepribadianya yang bagus dan sisanya adalah wawasan yang luas dan kecerdasannya yang tinggi.

Negara indonesia merupakan negara yang pandai dalam mengkonsep suatu strategi. Akan tetapi pada saat eksekusinya tidaklah baik. Eksekusi yang tidak baik disebabkan oleh sumber daya manusia yang kurang baik. Sumber daya manusia  yang kurang baik disebabkan oleh semangat orang-orangnya untuk melaksanakan konsep tersebut masih sangatlah kurang. Semangat tersebut dapat dibangun oleh suatu kebanggaan pada instansinya. Kebanggan tersebut dapat dibangun melalui budaya masyarakatnya. Dengan kebanggaan yang tinggi tersebut dapat menstimulus orang untuk dapat menjadi yang terbaik.

Dalam mencapai targetan untuk menjadi negara maju, setiap negara akana mengalami entropi atau hambatan. Entropi dapat dianalogikan sebagai mobil yang pada awalnya dalam 1 liter dapat mencapai 10 kilometer pada realisasinya hanya dapat menempuh 5 kilometer dalam 1 liternya. Hal tersebut karena karburatornya yang terhambat atau  onderdilnya yang sudah tua. Nilai entropy yang mencapai 50% dalam suat masyarakatnya dapat menyebabkan keruntuhan negara tersebut. Untuk menilai suatu entropy dapat di hitung berdasarkan 4 aspek yakni Karakter leadeship, value, dan sistem.

Dari keempat aspek tersebut, tidak bisa dijalankan secara satu persatu.contohnya adalah leadership tidak bisa berdiri sendiri. Banyak orang yang memiliki leadership yang baik akan tetapi kepribadiannya buruk. Hal tersebut dapat membahayakan bagi negara Indonesia. Akan tetapi, celakannya negara Indonesia hanya membangun leadershipnya tanpa membangun kepribadiannya.

Baca selengkapnya »

Belajar dari Shaf Shalat yang Bolong

| Thursday, April 19, 2012
oleh : Hajah Sofyamarwa R. (Biologi 2009)
Bismillahirrahmaanirrahiim..
Ahad, 15 April 2012
Dhuhur itu, tidak seperti biasanya, saya membantu mbak Rini dan bu Idar (karyawan salman-red) merapatkan shaf shalat. Hal itu jarang saya bisa lakukan (padahal harusnya saya sebagai anak asrama salman bisa), karena aktivitas semacam ini tidak mudah bagi saya. Walaupun pernah tahu bahwa shaf shalat harus rapat, saya masih segan untuk mengingatkan orang yang akan shalat. Pasti saat itu saya hanya dapat melakukannya dengan isyarat tangan dengan suara yang lebih kecil. Berusaha tidak menyinggung siapapun terutama jama'ah yang sudah lebih tua.
Shalat berjamaah akan dimulai, saya pun bergegas mencari tempat untuk saya shalat. Ternyata di shaf yang mau saya tempati, sudah penuh. Saya harus bikin shaf baru di depan. Grasak grusuk, saya dan beberapa jamaah lainnya membuat shaf baru sambil memakai mukena. Karena saat itu saya udah siap, saya langsung takbiratul ikhram dan mulai shalat mendahului yang lain.
Ibu-ibu di sebelah saya menyusul, namun menyisakan satu lubang kosong di shaf kami. Saat mulai shalat, beliau agak kurang merapat, sehingga antara saya dan ibu tersebut ada jarak yang cukup besar, yang bila saya coba bergeser, hanya akan memindahkan lubangnya ke sisi lainnya. Saat itu kami lagi shalat, dalam posisi yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Padahal tadi di awal saya yang menyuruh jamaah untuk merapatkan shaf, tapi ternyata shaf saya yang berlubang, persis di sebelah saya!
Semoga shalat saya tetap diterima, karena saya memikirkan hal ini ketika shalat. Separuh berharap ibu tersebut akan bergeser atau akan ada orang lain yang mengisinya. Tapi sekali lagi, saat itu saya dalam kondisi shalat dan tidak tahu harus berbuat apa.
Mungkin ilustrasinya begini:
"Help. Ayolah ada yang datang dan ngisi shaf ini. Ayo pahami bahwa kami ingin shaf yang rapat.."
Oh ya kalo bisa telepati itu mungkin. Tapi toh saya kan ngga bisa.
Sampe beberapa rakaat, beberapa orang yang mau shalat, ngga mengambil tempat di sebelah saya. T_T
Terus saya jadi mulai mikir bahwa itulah salah satu alasan mengapa seharusnya setiap muslim memahami dan menjalankan agamanya, (kalau dalam hal ini keutamaan dari shaf yang rapat).
Bahwa dalam filosofi shalat berjamaah yang saya rasakan, pada dasarnya makmum harus 'kompak' saling memahami. Kalau hanya beberapa saja yang paham, jadi seperti istilah bertepuk sebelah tangan. Dan ini berlaku tidak hanya di waktu shalat, tapi kapanpun. 
Bahwa semua muslim memang harus paham dirinya sebagai muslim yang akan melengkapi yang lainnya seperti sebuah bangunan yang kokoh.
Bahwa seorang penyampai (dalam kasus ini saya yang meminta orang untuk merapatkan shafnya), memang hanya bisa menyampaikan, karena yang mengatur semuanya juga Allah.
Yang rapat ya shafnya!
Foot to Foot, Shoulder to Shoulder! :D
"Barang siapa menutup shaf, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya satu kali dan akan membangunkan sebuah istana untuknya di Surga." (HR. Nasa'i & Huzaimah)
PS: Salah saya juga karena mulai shalat duluan, tanpa bersama-sama mengondisikan kerapihan dengan jamaah di sebelah saya. Alhamdulillah pada akhirnya ada juga yang mengisi tempat di sebelah saya, saat itu juga saya langsung lega.
 
 
Kamis, 19 April 2012
00:54
:)

image source
Baca selengkapnya »

Ta'lim: Peran Wanita dalam Peradaban

| Wednesday, April 18, 2012

Judul Ta'lim : Peran Wanita dalam Peradaban
Waktu        : Jum'at, 20 April 2012 pukul 16.00 teng!
Tempat       : R.1401 Labtek Biru (double helix)
Be there! 

Baca selengkapnya »

BCL (Beginilah Cerita si Lebah) Season 1

|
Oleh : Joko Pebrianto T. (Biologi 2009)

سم الله الرحمن الرحيم

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia" (QS. An-Nahl : 68)


Saya yakin, kata lebah sudah tidak asing lagi di telinga kita. Semua orang tentu mengetahui hewan yang bernama lebah ini. Hewan ini biasa kita ditemukan pada tanaman-tanaman berbunga. Hewan ini dikenal karena dapat menghasilkan madu. Lebah termasuk dalam ordo Hymenoptera atau disebut juga serangga bersayap selaput (tenang, ini bukan kuliah kok). Lebah tersebar di seluruh penjuru dunia. Subhanallah ya.

Teman-teman semua, sebenarnya banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari lebah. Mungkin selama ini kita tidak menyadari bahwa dari perilaku lebah terkandung nilai-nilai yang sangat dalam bila kita pelajari (kenapa malah membicarakan nilai sih?). Mau tau nilai-nilainya? Yuk mari kita simak berikut ini :

1. Lebah hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih.

Lebah hanya hinggap di tempat-tempat pilihan. Dia sangat berbeda dengan lalat yang senang di tempat-tempat kotor. Lebah hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lainnya yang mengandung bahan madu atau nektar.

Begitulah pula sifat seorang mukmin. Allah swt. berfirman:

"Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu." (Al-Baqarah: 168)

2. Mengeluarkan yang bersih.

Kita semua tentu mengetahui zat penting yang dapat dihasilkan oleh lebah, yaitu madu yang sangat dikenal karena berfungsi untuk kesehatan dan membantu menyembuhkan penyakit. Akan tetapi, sesungguhnya dari organ tubuh manakah madu dikeluarkan? Itulah salah satu keistimewaan lebah. Lebah produktif dengan kebaikan, bahkan dari organ tubuh yang pada binatang lain merupakan najis. Baru-baru ini, ditemukan pula produk lebah selain madu yang juga mempunyai khasiat tertentu untuk kesehatan. Produk apakah itu? AIR LIUR.

Seorang mukmin haruslah menjadi orang yang produktif dengan kebajikan. Allah berfirman :

"Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan." (Al-Hajj: 77)

Al-khair adalah kebaikan atau kebajikan. Akan tetapi al-khair dalam ayat di atas bukan merujuk pada kebaikan dalam bentuk ibadah ritual. Sebab, perintah ke arah ibadah ritual sudah terwakili dengan kalimat “rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu” (irka’u, wasjudu, wa’budu rabbakum). Al-khair di dalam ayat itu justru bermakna kebaikan atau kebajikan yang buahnya dirasakan oleh manusia dan makhluk lainnya.

3. Tidak pernah merusak

Lebah tidak suka merusak ataupun mematahkan bunga, ranting, apalagi pohon yang dihinggapinya. Begitu juga seharusnya seorang mukmin. Seorang mukmin tidak pernah melakukan perusakan dalam hal apa pun. Bahkan dia selalu melakukan perbaikan-perbaikan dengan cara-cara yang tepat, salah satunya dengan berdakwah. Seorang mukmin juga harus berani mencegah dan menghentikan kezaliman.

4. Bekerja keras

Lebah adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat "menetas"), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuk sari madu. Subhanallah, hari-harinya dipenuhi dengan semangat berkarya dan beramal. Bukankah Allah pun memerintahkan kita untuk bekerja keras? Hal ini dijelaskan dalam firman Allah :

"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." (Alam Nasyrah: 7)

5. Bekerja secara kelompok dan tunduk pada satu pimpinan

Lebah hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif, dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri. Pembagian kerja yang dilakukan sangat baik dan efektif. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya. Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan

feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengundang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman. "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaff: 4)

6. Tidak pernah melukai kecuali diganggu

Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan "kehormatan" umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin juga harus seperti itu, yaitu tidak mencari-cari musuh, tetapi ketika kehormatan kita diancam, maka kita harus siap untuk membelanya. Karena kehormatan sebagai seorang muslim dan mukmin harus kita jaga sampai kapan pun.

Teman-teman, ternyata banyak sekali hikmah yang dapat diambil dari kehidupan lebah. Hikmah tersebut perlu kita renungi untuk perbaikan diri kita. Apakah kita sudah berusaha untuk mengimplementasikan hikmah-hikmah tersebut? Hanya diri masing-masing dan Allah yang tahu.

Semoga kisah lebah ini dapat menginspirasi kita untuk terus lebih baik sebagaimana seorang muslim dan mukmin semestinya. Sehingga kita bisa menjadi muslim dan mukmin yang lebih baik sebagaimana yang diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah. Aamiin.

Wallahu a'lam bishshawab.

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."

(QS.Al Insyirah:5-6)

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bersambung ke BCL Season 2 ...

Daftar Pustaka

Muhammad, Arya. 2009. Hikmah Sang Lebah Madu. arya-muhamad.blogspot.com/2009/08/hikmah sang-lebah-madu.html. Diakses pada tanggal 24 Mei 2011.

Ozzan, 2007.Jadilah Seperti Lebah. http://bacaanhikmah.blogspot.com/2007/05/jadilah-seperti-lebah.html. Diakses pada tanggal 24 Mei 2011.

Anonim1, 2010. Dakwatuna.com. Diakses pada tanggal 24 Mei 2011.

Anonim2.2010. Keajaiban Lebah Madu. www.harunyahya.com/indo/buku/pesona02.htm. Diakses pada tanggal 24 Mei 2011.

Baca selengkapnya »

Pedang Damaskus: Pedang Legenda Dalam Sejarah

| Monday, April 16, 2012
Oleh: Arekha Bentangan (Mikrobiologi 2008)
Damascus Sabre


Pedang Damaskus pertama kali dikenal oleh para tentara salib yang secara langsung menyaksikan senjata ini pada pertempuran dengan pasukan muslim pada sekitar tahun 1750. Pedang menawan ini dikenal dengan sebutan baja “berair”. Dijuluki seperti itu dikarenakan terdapat pola garis seperti ombak berwarna gelap dan terang serupa dengan pola air pada seluruh permukaan logam. Ada banyak cerita yang beredar mengenai kemampuan pedang ini, Dikatakan bahwa pedang ini cukup kuat untuk membelah batu besar, dan bila pedang diletakkan dan di atasnya dijatuhkan kain sutra, maka kain akan terbelah menjadi dua tanpa terlihat bekas potongan. Dalam kisah lain juga diceritakan bahwa pedang ini dapat memotong pedang lawan dalam sekali tebas tanpa menyebabkan kerusakan sedikitpun, dan dapat diduga, tebasan selanjutnya merupakan hal terakhir yang dilihat oleh para musuh. Reputasi tersebut yang sangat mengintimidasi para pasukan salib yang tengah menginvasi wilayah kependudukan umat islam.



Wave Pattern
Close up of Islamic Sabre #10, made by Assad Ullah in the 17th Century.



Pada masa itu, Damaskus berada dalam kekuasaan Dinasti Ayyubiyah. Ibnu Asakir (wafat pada 1177 M) dalam bukunya berjudul “Sejarah Kota Damaskus” juga mengisahkan kota yang sempat menjadi ibu kota Dinasti Umayyah pada abad ke-7 M dan 8 M itu sebagai pusat pembuatan pedang yang kesohor. Pedang buatan Damaskus yang kerap disebut sebagai pedang Persia sangat lentur dan ulet. Kehebatan pedang dari dunia Islam sempat membuat peradaban Barat terperangah dan terkagum-kagum.

Damascus Blacksmith 1900

Salah satu penyebab kekalahan pasukan salib ialah faktor peralatan tempur. Walaupun pasukan Salib memiliki jumlah pasukan yang lebih besar, namun pasukan muslim memiliki kuda perang yang tangguh dan memiliki perlengkapan dan persenjataan yang lebih baik, misalnya baju perang yang ringan dan kuat sehingga dapat bergerak dengan lincah serta bersenjatakan pedang Damaskus.

Nanoteknologi
Dengan teknologi terkini, diketahui bahwa efek pola air yang dimiliki oleh pedang Damaskus diperoleh dengan menempa baja yang mengandung proporsi jumlah karbon yang besar. Daerah gelap pada permukaan pedang akibat pola yang dibuat residu karbon, sedangkan pola terang dibentuk oleh partikel ikatan karbit besi. Kandungan karbon yang tinggi memungkinkan diperolehnya pedang dengan ketahanan tinggi, namun kehadiran karbon di campuran bahan mentah sangat sulit atau hampir tidak mungkin untuk dikontrol. Terlalu sedikit karbon menyebabkan pedang menjadi lemah, namun terlalu banyak karbon menyebabkan pedang menjadi getas. Bila proses pembuatan pedang tidak berlangsung dengan baik, baja akan membentuk besi sementit, fase besi yang sangat rentan. Namun, para ahli metalurgi Islam mampu mengontrol kerentanan inheren dan menempa bahan mentah tersebut menjadi senjata. Suatu artikel jurnal di Nature  menceritakan bahwa tim riset yang diketuai oleh Peter Paulfer dari universitas Dresden memiliki ide yang menceritakan mengapa baja karbon dapat dibuat dan mengapa saat ini menghilang. Ide tersebut didasari oleh ilmu pengetahuan material modern: Nanoteknologi, hal yang sulit terpikirkan pada abad ke-17. 

Pembuatan baja telah dipelajari dengan seksama dan didokumentasikan oleh para ilmuan muslim. Ilmu diturunkan bagi para ahli pedang di Dunia Islam, yang menjaga dengan baik rahasia ini. Baja Damaskus sangat berharga karena menggabungkan antara kekuatan, elastisitas dan ketahanannya. Saat ini, ilmu mengenai teknik membuat baja Damaskus telah menghilang. Walaupun pembuatan baja telah berkembang dengan pesat, namun para peneliti sampai saat ini masih saja kesulitan untuk meniru dan membuat baja yang mirip dengan baja Damaskus. Dapat kita lihat bahwa ilmuan Islam pada abad 7 sudah memiliki kehebatan dalam pengembangan teknologi material yang bahkan melebihi bangsa lainnya. Saat ini tinggal bagaimana kita sebagai calon cendekiawan Islam yang harus menunjukan kemampuan kita dalam memecahkan berbagai persoalan bangsa bahkan menunjukan pada dunia bahwa ilmuan Islam juga tidak kalah dari ilmuan lainnya.   

Baca selengkapnya »

PENJELASAN DAUROH TENGAH TAHUN

| Wednesday, April 11, 2012
           Untuk menjalankan visi dan misi al hayat khususnya dalam bidang pembinaan kader dan calon kader al hayat. Diperlukan suatu alur kaderisasi yang jelas agar proses dakwah di kampus khusunya di SITH dapat berjalan dengan baik dan berjalan secara berkesinambungan. Salah satu permasalahan yang sering terjadi di lembaga dakwah fakultas Al hayat, seringkali terjadi semacam kesenjangan ketika akan memasuki fase magang bagi calon kader al-hayat. Hal terebut sangat disayangkan mengingat ketika masa TPB tingkat partisipasi calon kader al hayat dalam lembaga dakwah fakultas SITH dan Farmasi (FATEHA) sangatlah tinggi.
            Setelah dianalisis lebih lanjut, salah satu permasalahan yang terjadi adalah sesuatu yang sangat mendasar. Yakni kurang mengenalnya calon kader al-hayat terhadap al-hayat, baik secara organisasi maupun secara personal ke orang-orangnya. Hal tersebutlah yang menyebabkan kesenjangan ketika akan memasuki fase magang sehingga tingkat partisipasi kader al hayat (2011) berkurang.
            Didasarkan atas latar belakang tersebut sehingga dibutuhkan suatu metode yang dimaksudkan untuk memperkenalkan calon kader al-hayat (SITH 2011) terhadap organisasi al-hayat baik itu secara organisasi maupun secara personal. Salah satu metode yang paling feasible untuk kondisi saat ini (waktu, biaya dan tenaga) adalah dengan mengadakan acara dauroh.
            Acara dauroh yang dimaksud saat ini akan berisi tentang pengenalan calon kader al hayat (SITH 2011) terhadap organisasi al hayat. Pada kemasannya, diharapakan juga terjadi interaksi antara kader-kader al-hayat sehingga terdapat suatu proses pengakraban anatara kader-kader al-hayat (angkatan 2008 keatas,2009,2010) dengan calon kader al hayat (2011).
            Untuk melancarkan acara dauroh tersebut, diperlukan pembentukan kepanitiaan khusus (Pansus) yang fokus agar acara tersebut dapat terlaksana dengan baik. Oleh karena itu, pembentukan pansus akan segera dilaksanakan dengan panitia kader al hayat angkatan 2010. Pemilihan angkatan 2010  sebagai panitia merupakan suatu bentuk kaderisasi berjenjang pada kader al hayat. Dimana pada kesempatan tersebut, akan terjadi kerjasama lintas departemen pada kader al hayat angkatan 2010 sehingga diharpakan akan terjadi kekompakan internal pada al hayat 2010.


FASA ADITYA (10609020)
Kepala Departemen Pembinaan
Baca selengkapnya »

Tentang Sapa-Menyapa

| Wednesday, March 3, 2010
Oleh : Pijar Riza (Biologi 2008)

           Saya sedang berjalan menuju warnet langganan yang jauhnya beberapa blok dari rumah ketika berpapasan dengan dia. Wajahnya gak pernah berubah, semakin tua, namun rasanya tetap sama seperti ketika pertama kali saya melihatnya dulu (kalau tidak salah waktu SD). Dia masih menaiki sepeda yang sama, sepeda warna biru yang punya keranjang di depannya. Sepedanya pun masih oleng dengan cara yang sama. Semua orang di kompleks memanggil wanita itu “Mak”. Saya gak tahu nama aslinya siapa, saya juga memanggilnya dengan sebutan yang sama. Setau saya, Mak selalu dititipi uang (plus, plus) oleh orang-orang sekomplek yang terlalu sibuk untuk membayar tagihan listrik, air, atau telfon. Ibu saya sering sekali menggunakan jasa dari Mak, jadi saya cukup familiar dengan dia, dan sebaliknya. Namun akhir-akhir ini saya jarang ada di rumah (kampusku, rumahku), jadi sudah cukup jarang bertemu dengan Mak. Oleh karena itu, ketika berpapasan dengan dia, saya menyempatkan diri untuk menyapa, sambil sedikit menundukkan kepala dan tersenyum simpul (baru level 3 bila dibandingkan dengan senyum Herafi yang level 10), Sundanese style.
Saya: “Mak…”
Mak: “…”
Saya: “Saya anak Pak Safari, Mak.” Mak: “Pak Safari?” Saya: “Suaminya Bu Tatin.” Mak: “Waaaah…ncep, kasep pisan sekarang. Subhanallah…kelas berapa, sekarang cep? Eh, masih di pasantren yah?” Saya: “Sudah kuliah, bu.” Mak: “Ooooh…Iya? Di mana?” Saya: “ITB” Mak: “Hebaaaat, euy si Ncep. Nah gitu orang pinter, orang soleh mah nyapa ke orang tua, teh. Waah…meni kasep pisan, euy sekarang mah. Udah bujang, lagi…”


            Saya pun berlalu, tak mengharapkan respon apa-apa karena memang cuma formalitas belaka. Budaya sunda menyarankan anak muda untuk menyapa bila berpapasan dengan orang yang lebih tua,sebagai tanda hormat, minimal sekedar “punten…” kalau kita tidak tahu namanya. Tapi tak diduga, beberapa detik setelahnya saya mendengar rem sepedanya berdecit keras. Saya menoleh, berat tubuh Mak ikut terlempar kedepan sebagai konsekuensi dari Hukum Newton 1 (Inersia, setiap objek akan mencoba mempertahankan posisinya selama tidak ada gaya lain yang mempengaruhi objek tersebut). Kakinya berpijak ke tanah untuk ikut membantu menjalankan fungsi rem sepedanya yang sudah kurang pakem (maklum, sepeda tua). Tiba-tiba, Mak berhenti dan menoleh ke arah saya.
Mak: “Eh, kamu, kamu, kamu teh anak si itu, ya? Bapak siapa, sih? Emmm…..” (Dia menyebut nama-nama orang yang nyerempet nama-nama ayah saya: Sapardi, Suparman, Brad Pitt, Arnold Schwarzenneger, Bruce Willis, dll.)
         Saya hanya tersenyum (tapi level senyumannya naik karena saya senang habis dipuji ganteng). Saya sama sekali gak menyangka kalau sapaan sederhana yang diniatkan hanya untuk formalitas belaka bisa membuat Mak sangat senang. Mungkin, sapaan itu membuatnya merasa diingat, sesuatu yang mungkin sangat berarti bagi seseorang yang sudah berumur. Hanya sebuah sapaan, dan saya dibilang ganteng. Luar biasa. Dalam hati sedikit-sedikit saya berharap (atau lebih tepatnya berkhayal), kalau Mak bertemu dengan seorang ibu yang punya anak perempuan cantik lalu merekomendasikan saya sebagai calon menantu (saya senyum-senyum sendiri. Level 5). Hahahahaha…
         Sebuah sapaan bukan hal yang besar, bukan hal yang sulit. Berapa, sih ATP yang harus dipecah oleh sel supaya kita bisa tersenyum dan mengucap “Hai…”? Saya rasa gak sebanyak ketika kita berlari sprint atau push-up, misalnya. Tapi ternyata sebuah sapaan bisa menjadi sangat berarti bagi orang yang kita temui. Saya sendiri merasa senang kalau disapa, serasa dihargai karena telah ikut serta dalam minimal sebuah episode kehidupan orang lain. Agama Islam menganjurkan pada umatnya untuk saling menyapa bila bertemu. Bahkan secara tegas mengatakan kalau sebuah sapaan “Assalamualaikum” (semoga keselamatan untukmu) adalah hak dari muslim yang ditemui, dan oleh karena itu harus diucapkan. Kenapa? karena dalam sapaan, baik itu yang mendoakan keselamatan atau yang cuman sekedar memberitahu waktu (selamat pagi, selamat siang, selamat malam, dsb), terdapat indikasi kepedulian kita terhadap orang lain. Dengan menyapa, kita secara tidak langsung menganggap orang lain memiliki peran yang berharga, bukan sekedar figuran.
         Maka ayo mulai saling sapa-menyapa, apalagi kalau bertemu dengan jahim yang sama :-) . Tak perlu high-five atau breakdance, cuman sebut namanya atau minimal cuman “Akang…” atau”Teteh…” aja kalo gak tau nama. Lambaikan tangan atau rendahkan kepala (kalau berpapasan sama orang yang lebih tua), dan jangan lupa, Senyum! Tuh, gak susah, kan?
Baca selengkapnya »

Sebuah pesan dari Umar bin Khattab

| Thursday, December 31, 2009
"Ajarkanlah anakmu seni dan SASTRA, karena sastra itu akan membuat anak yang pengecut menjadi pemberani".

Ayo ayo, sebagai calon saintis dan engineer ataupun yang sudah bergelar S.Si dan S.T mari kita belajar seni dan juga sastra, apalagi yang mau bikin jurnal dan TA, kita harus belajar tata cara tulis menulis yang baik dan benar kan, hehe (apaan sih ga penting -,-)
Baca selengkapnya »
 

Copyright © 2010 Al-Hayaat | Design by Dzignine