Event

Event
Kegiatan mahasiswa yang akan, sedang, dan telah dilakukan.

Info dan Pengumuman

Info dan Pengumuman
Info tentang organisasi, anggota, majelis ilmu, dan berita eksternal lainnya.

Wahana Berpendapat

Wahana Berpendapat
Silahkan menyampaikan saran, kritik, dan pendapatnya.

cover photo

cover photo
Showing posts with label Risalah Kisah dan Tausyiah. Show all posts
Showing posts with label Risalah Kisah dan Tausyiah. Show all posts

Lingkungan yang Shaleh untuk Biji

| Sunday, June 10, 2012

بسم الله الرحمن الرحيم


Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

"Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketa, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun- susun, untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan". (QS. Qaaf : 9 - 11)

Bagaimana kabar teman-teman semua? Sehat kan? Waah, sudah lama nih saya tidak menulis lagi di sini. Rasanya sangat kangen untuk bisa menulis dan membagi cerita yang harapannya dapat bermanfaat dan menginspirasi..

Kali ini saya akan mengupas mangga (eh bukan), maksudnya membahas tentang suatu benih. Kenapa soal benih/bibit? Karena ini berhubungan dengan kegiatan KP (Kerja Praktek) yang saya lakukan. Ada pepatah, siapa yang menebar benih maka dia akan menuai hasilnya. Ungkapan ini benar, tetapi ternyata ada hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu bukan hanya siapa yang menebar benih, tetapi di mana dia menebar benih. Ya begitulah kira-kira. Silahkan kencangkan sabuk pengaman dan dudukan sandaran kursi anda (eh), pastikan cahayanya cukup untuk membaca.

Teman-teman tentu sering lihat tanaman-tanaman di sekitar kita. Setiap tanaman memiliki sumber keragaman genetik yang disebut plasma nutfah (tenang, bukan kuliah kok..). Nah tentu tahu dong kalo tanaman itu dapat bereproduksi secara seksual dan menghasilkan biji. Nah dari biji inilah yang akan berkecambah dan dapat tumbuh menjadi individu baru, tetapi....

Tetapi apa? Kenapa? Ya, itu sangat dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal (lingkungan). Proses ini disebut dengan perkecambahan/germinasi yang dimulai dari proses imbibisi (masuknya air). Proses tersebut akan memberikan sinyal sehingga terjadilah serangkaian proses di dalam tubuh (subhanallah ya, kompleks sekali). Hasil akhirnya adalah tanaman tersebut berkecambah dan akan tumbuh hingga dewasa. Itu idealnya.

Akan tetapi, ada hal yang membatasi proses ini. Apakah itu? Itu adalah faktor lingkungan (eksternal) yang terdiri dari berbagai hal antara lain cahaya matahari, suhu, kelembaban, substrat (tanah, dll), dan lainnya. Tanpa ada lingkungan yang sesuai, maka biji tersebut akan sangat sulit berkecambah. Bahkan tak jarang ada yang berdiam (dorman) hingga menemukan lingkungan yang tepat. Bisa dibayangkan kan nasib si biji kalau berada di lingkungan yang tidak pas? Dzat yang kecil itu ternyata sangat bergantung dengan lingkungan. Apabila benar-benar tidak mendapat lingkungan yang baik, bisa saja biji tersebut kehilangan kemampuannya untuk berkecambah dan mati.

Lalu apa yang bisa kita ambil dari kejadian tersebut? Wah ternyata kondisi lingkungan itu berpengaruh ya terhadap baik-buruknya kehidupan tanaman. Ini juga mempengaruhi kita sebagai manusia loh ternyata. Tentu saja, karena ada dua aspek yang dapat membentuk perilaku makhluk hidup, yaitu genetik dan lingkungan. Mengenai pengaruh lingkungan, terdapat hadits Rasulullah :

"Seorang laki-laki di atas agama sahabat dekatnya, maka hendaknya seseorang di antara kalian melihat kepada siapa dia bersahabat" [1]

Apa maksud hadits di atas?

Yaitu bahwa kualitas agama seseorang, baik dan buruknya, baik dari sisi pemahaman dan pengamalan, tergantung keadaan sahabat dekatnya. Jika sahabatnya itu shalih, maka dia akan terkena imbas baiknya pada kehidupan dan kepribadiannya, begitu juga sebaliknya.

Nah, tentu ini sangat berkaitan dengan kondisi lingkungan kan? Karena kita akan dapat menemukan orang-orang yang shaleh untuk menjadi teman di lingkungan yang baik dan mendukung tentunya. Lingkungan yang shaleh berisi orang-orang shaleh, sedangkan lingkungan yang penuh maksiat tentu diidominasi orang-orang yang bermaksiat.

Wah jadi kita harus pilih-pilih lingkungan dan teman bergaul dong? Jelas lah. Kalau ingin kecipratan bau minyak wangi ya kita bergaul dengan penjual minyak wangi, masa bergaul dengan tukang las. Kecuali kalau tukang lasnya juga menjual minyak wangi (eh). Kita tentu harus bersyukur, karena kita sebagai manusia memiliki pilihan, berbeda dengan si kecambah. Dia hanya pasrah terhadap lingkungan yang akan membawa dirinya. Kalau baik maka baiklah dia, kalau buruk maka sulitlah dia. Oleh karena itu, kita harus memilah dan memilih, tidak cuma sampah, tapi juga lingkungan pergaulan kita. Mau kan jadi orang shaleh? Mau lah. Yuk mari kita berusaha memilih lingkungan yang dapat membuat kita jadi lebih baik sehingga kita semakin dekat kepada Allah. Apabila belum dapat, mari kita tetap berusaha dan berharap Allah menguatkan kita.

Demikianlah tulisan ini saya buat, semoga dapat menginspirasi dan memberikan manfaat bagi teman-teman semua.

Mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan, hal ini disebabkan oleh kelemahan dan kurangnya ilmu dalam diri ini. Semoga Allah senantiasa menunjukkan jalan yang terbaik dan meneguhkan hati kita semua dalam ketaatan kepada Allah. Aamiin.

Wallahu a'lam bishshawab

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."

(QS.Al Insyirah:5-6)

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

1. Hadits ini diriwayatkan oleh:

- Imam Abu Daud dalam Sunan-nya, Kitabul Adab Bab Man Yu’maru An Yujaalisa, No. 4833

- Imam At Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Az Zuhd ‘an Rasulillah Bab Maa Jaa’a fi Akhdzil Maal bihaqqihi, No. 2378

- Imam Ahmad dalam Musnad-nya No. 8417, dengan lafaz: “Al Mar-u (seseorang) ‘ala diini khalilih ...dst”

- Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak-nya No. 7320, dengan lafaz: “Al Mar’u ‘ala diini khalilih ...dst”

- Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 9436

- Imam Alauddin Al Muttaqi Al Hinda dalam Kanzul ‘Ummal, No. 24777

- Imam ‘Abdu bin Humaid dalam Musnad-nya No. 1431

Hadits ini dihasankan oleh Imam At Tirmidzi. (Lihat Sunan At Tirmidzi No. 2378), dishahihkan oleh Imam An Nawawi. (Lihat Riyadhush Shalihin, Hal. 139), Imam Al Hakim dan Imam Adz Dzahabi mengatakan: “Shahih, Insya Allah.” (Al Mustadrak ‘alash Shahihain No. 7320), Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Isnadnya jayyid (baik).” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 8471), Syaikh Al Albani mengatakan: “hasan.” (Lihat Shahihul Jami’ No. 3545, As Silsilah Ash Shahihah No. 927, )

Sumber :

Farid, 2012. "Seseorang Tergantung Agama Kawan"

http://www.islamedia.web.id/2012/03/seseorang-tergantung-agama-kawan.html. Diakses pada tanggal 10 Juni 2012.


Baca selengkapnya »

Ibarat Pohon yang Tak Berbuah

| Wednesday, May 16, 2012

Syaikh Abdurrahman bin Qasim An Najdi rahimahullah mengatakan,
“Amal adalah buah dari ilmu. Ilmu itu dicari demi mencapai sesuatu yang lain.

Fungsi ilmu ibarat sebatang pohon, sedangkan amalan seperti buahnya.

Maka setelah mengetahui ajaran agama Islam seseorang harus menyertainya dengan amalan. Sebab orang yang berilmu akan tetapi tidak beramal dengannya lebih jelek keadaannya daripada orang bodoh.

Di dalam hadits disebutkan,
“Orang yang paling keras siksanya adalah seorang berilmu dan
tidak diberi manfaat oleh Allah dengan sebab ilmunya.”

Orang semacam inilah yang termasuk satu di antara tiga orang
yang dijadikan sebagai bahan bakar pertama-tama untuk menyalakan api neraka.

Di dalam sebuah sya’ir dikatakan,
Orang alim yang tidak mau mengamalkan ilmunya
Mereka akan disiksa sebelum disiksanya para penyembah berhala.
(lihat Hasyiyah Tsalatsatul Ushul, hal. 12)

Ancaman Bagi Orang yang Berilmu Tapi Tidak Beramal
---------------------------------------------------------------
Syaikh Nu’man bin Abdul Karim Al Watr mengatakan,
“Di dalam al-Qur’an Allah ta’ala sering sekali menyebutkan amal shalih beriringan dengan iman. Allah juga mencela orang-orang yang mengatakan apa-apa yang mereka tidak kerjakan. Dan Allah mengabarkan bahwa perbuatan seperti itu sangat dimurkai-Nya.

Allah berfirman (yang artinya),
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan. Sungguh besar kemurkaan di sisi Allah karena kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash Shaff [61]: 2-3)

***
Di dalam shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan hadits Usamah bin Zaid, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Pada hari kiamat nanti akan ada seseorang yang didatangkan kemudian dilemparkan ke dalam neraka. Isi perutnya terburai, sehingga ia berputar-putar sebagaimana berputarnya keledai yang menggerakkan penggilingan.

Penduduk neraka pun berkumpul mengerumuninya. Mereka bertanya,
‘Wahai fulan, apakah yang terjadi pada dirimu? Bukankah dahulu engkau memerintahkan kami untuk berbuat kebaikan dan melarang kami dari kemungkaran?’.

Dia menjawab, ‘Dahulu aku memerintahkan kalian berbuat baik akan tetapi aku tidak mengerjakannya. Dan aku melarang kemungkaran sedangkan aku sendiri justru melakukannya’.”


(Ayumi, 2012a)
Baca selengkapnya »

Tentang Sapa-Menyapa

| Wednesday, March 3, 2010
Oleh : Pijar Riza (Biologi 2008)

           Saya sedang berjalan menuju warnet langganan yang jauhnya beberapa blok dari rumah ketika berpapasan dengan dia. Wajahnya gak pernah berubah, semakin tua, namun rasanya tetap sama seperti ketika pertama kali saya melihatnya dulu (kalau tidak salah waktu SD). Dia masih menaiki sepeda yang sama, sepeda warna biru yang punya keranjang di depannya. Sepedanya pun masih oleng dengan cara yang sama. Semua orang di kompleks memanggil wanita itu “Mak”. Saya gak tahu nama aslinya siapa, saya juga memanggilnya dengan sebutan yang sama. Setau saya, Mak selalu dititipi uang (plus, plus) oleh orang-orang sekomplek yang terlalu sibuk untuk membayar tagihan listrik, air, atau telfon. Ibu saya sering sekali menggunakan jasa dari Mak, jadi saya cukup familiar dengan dia, dan sebaliknya. Namun akhir-akhir ini saya jarang ada di rumah (kampusku, rumahku), jadi sudah cukup jarang bertemu dengan Mak. Oleh karena itu, ketika berpapasan dengan dia, saya menyempatkan diri untuk menyapa, sambil sedikit menundukkan kepala dan tersenyum simpul (baru level 3 bila dibandingkan dengan senyum Herafi yang level 10), Sundanese style.
Saya: “Mak…”
Mak: “…”
Saya: “Saya anak Pak Safari, Mak.” Mak: “Pak Safari?” Saya: “Suaminya Bu Tatin.” Mak: “Waaaah…ncep, kasep pisan sekarang. Subhanallah…kelas berapa, sekarang cep? Eh, masih di pasantren yah?” Saya: “Sudah kuliah, bu.” Mak: “Ooooh…Iya? Di mana?” Saya: “ITB” Mak: “Hebaaaat, euy si Ncep. Nah gitu orang pinter, orang soleh mah nyapa ke orang tua, teh. Waah…meni kasep pisan, euy sekarang mah. Udah bujang, lagi…”


            Saya pun berlalu, tak mengharapkan respon apa-apa karena memang cuma formalitas belaka. Budaya sunda menyarankan anak muda untuk menyapa bila berpapasan dengan orang yang lebih tua,sebagai tanda hormat, minimal sekedar “punten…” kalau kita tidak tahu namanya. Tapi tak diduga, beberapa detik setelahnya saya mendengar rem sepedanya berdecit keras. Saya menoleh, berat tubuh Mak ikut terlempar kedepan sebagai konsekuensi dari Hukum Newton 1 (Inersia, setiap objek akan mencoba mempertahankan posisinya selama tidak ada gaya lain yang mempengaruhi objek tersebut). Kakinya berpijak ke tanah untuk ikut membantu menjalankan fungsi rem sepedanya yang sudah kurang pakem (maklum, sepeda tua). Tiba-tiba, Mak berhenti dan menoleh ke arah saya.
Mak: “Eh, kamu, kamu, kamu teh anak si itu, ya? Bapak siapa, sih? Emmm…..” (Dia menyebut nama-nama orang yang nyerempet nama-nama ayah saya: Sapardi, Suparman, Brad Pitt, Arnold Schwarzenneger, Bruce Willis, dll.)
         Saya hanya tersenyum (tapi level senyumannya naik karena saya senang habis dipuji ganteng). Saya sama sekali gak menyangka kalau sapaan sederhana yang diniatkan hanya untuk formalitas belaka bisa membuat Mak sangat senang. Mungkin, sapaan itu membuatnya merasa diingat, sesuatu yang mungkin sangat berarti bagi seseorang yang sudah berumur. Hanya sebuah sapaan, dan saya dibilang ganteng. Luar biasa. Dalam hati sedikit-sedikit saya berharap (atau lebih tepatnya berkhayal), kalau Mak bertemu dengan seorang ibu yang punya anak perempuan cantik lalu merekomendasikan saya sebagai calon menantu (saya senyum-senyum sendiri. Level 5). Hahahahaha…
         Sebuah sapaan bukan hal yang besar, bukan hal yang sulit. Berapa, sih ATP yang harus dipecah oleh sel supaya kita bisa tersenyum dan mengucap “Hai…”? Saya rasa gak sebanyak ketika kita berlari sprint atau push-up, misalnya. Tapi ternyata sebuah sapaan bisa menjadi sangat berarti bagi orang yang kita temui. Saya sendiri merasa senang kalau disapa, serasa dihargai karena telah ikut serta dalam minimal sebuah episode kehidupan orang lain. Agama Islam menganjurkan pada umatnya untuk saling menyapa bila bertemu. Bahkan secara tegas mengatakan kalau sebuah sapaan “Assalamualaikum” (semoga keselamatan untukmu) adalah hak dari muslim yang ditemui, dan oleh karena itu harus diucapkan. Kenapa? karena dalam sapaan, baik itu yang mendoakan keselamatan atau yang cuman sekedar memberitahu waktu (selamat pagi, selamat siang, selamat malam, dsb), terdapat indikasi kepedulian kita terhadap orang lain. Dengan menyapa, kita secara tidak langsung menganggap orang lain memiliki peran yang berharga, bukan sekedar figuran.
         Maka ayo mulai saling sapa-menyapa, apalagi kalau bertemu dengan jahim yang sama :-) . Tak perlu high-five atau breakdance, cuman sebut namanya atau minimal cuman “Akang…” atau”Teteh…” aja kalo gak tau nama. Lambaikan tangan atau rendahkan kepala (kalau berpapasan sama orang yang lebih tua), dan jangan lupa, Senyum! Tuh, gak susah, kan?
Baca selengkapnya »

Sebuah pesan dari Umar bin Khattab

| Thursday, December 31, 2009
"Ajarkanlah anakmu seni dan SASTRA, karena sastra itu akan membuat anak yang pengecut menjadi pemberani".

Ayo ayo, sebagai calon saintis dan engineer ataupun yang sudah bergelar S.Si dan S.T mari kita belajar seni dan juga sastra, apalagi yang mau bikin jurnal dan TA, kita harus belajar tata cara tulis menulis yang baik dan benar kan, hehe (apaan sih ga penting -,-)
Baca selengkapnya »

Proses Penciptaan Manusia Menurut Islam dan IPTEK

| Friday, December 18, 2009
Oleh : Ahliana Afifati (Biologi 2007)


Alhamdulillah nemu juga artikel keren..hehe. setelah dikompil2, diedit, dan ditambahkan pengetahuan yang afi tau,, jadilah notes ini. :)

semoga bermanfaat ya :) 


Penciptaan manusia dan aspek-aspeknya itu ditegaskan dalam banyak ayat. Beberapa informasi di dalam ayat-ayat ini sedemikian rinci. Beberapa di antaranya sebagai berikut:
1. Manusia tidak diciptakan dari mani yang lengkap, tetapi dari sebagian kecilnya
(spermazoa).
2. Sel kelamin laki-lakilah yang menentukan jenis kelamin bayi.
3. Janin manusia melekat pada rahim sang ibu bagaikan lintah.
4. Manusia berkembang di tiga kawasan yang gelap di dalam rahim.



Penjelasan :


.Setetes Mani.
Sebelum proses fertilisasi (baca : pembuahan) terjadi, 250 juta sperma terpancar dari si laki-laki pada satu waktu dan menuju sel telur yang jumlahnya hanya satu setiap siklusnya (hanya satu loh :p ). Sperma-sperma melakukan perjalanan yang sulit di tubuh si ibu sampai menuju sel telur karena saluran reproduksi wanita yang berbelok2, kadar keasaman yang tidak sesuai dengan sperma, gerakan ‘menyapu’ dari dalam saluran reproduksi wanita,dan juga gaya gravitasi yang berlawanan (lihat? susah tauu sperma ketemu sel telur. makanya orang yang aborsi itu PARAH banget dosanya dan ga bersyukurnya!)

Nah,Hanya seribu dari 250 juta sperma yang berhasil mencapai sel telur. Sel telur, hanya akan membolehkan masuk SATU sperma saja (persaingan ketat, kawan :p). Setelah masuk dan terjadi fertilisasi pun,,belum tentu si zygot ini (bahasa biologinya : konseptus) menempel di tempat yang tepat di rahim. kemungkinan salahnya banyak loh. dan sekali salah, bisa berbahaya buat ibunya. Alhamdulillah kita masih normal dan mungkin mamah kita ga mengalami gangguan pada masalah itu, maka, bersyukurlah teman :)
Dari uraian di atas,,terlihat bahwa bahan manusia bukan mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian kecil darinya.


Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an :
“Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan?” (QS Al Qiyamah:36-37)

Seperti yang telah kita amati, Al-Qur’an memberi tahu kita bahwa manusia tidak terbuat dari mani selengkapnya, tetapi hanya bagian kecil darinya. manusia juga terbuat dari sel telur ibunya. Bahwa tekanan khusus dalam pernyataan ini mengumumkan suatu fakta yang baru ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern itu merupakan bukti bahwa pernyataan tersebut berasal dari Ilahi.



.Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim.
Ketika sperma dari laki-laki bergabung dengan sel telur wanita,terbentuk sebuah sel tunggal. Sel tunggal yang dikenal sebagai “zigot” dalam ilmu biologi ini akan segera berkembang biak dengan membelah diri hingga akhirnya menjadi “segumpal daging”. Tentu saja hal ini hanya dapat dilihat oleh manusia dengan bantuan mikroskop. dan jangan dikira prosesnya simpel dan mudah. prosesnya kompleks dan kritis, teman! di setiap proses pembelahannya, kalo sampe ada kesalahan kecil sedikiiit aja pas tahap2 tertentu,, fetus bisa mengalami kecacatan..

lanjut lagi, ya.
Tapi, zigot tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja. Ia melekat pada dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan carangnya. Kenal istilah plasenta kan?? nah, tempat menempelnya embryo dengan rahim ibu itu disebut plasenta..

Melalui hubungan semacam ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu bagi pertumbuhannya (Moore, Keith L., E. Marshall Johnson, T. V. N. Persaud, Gerald C. Goeringer, Abdul-Majeed A. Zindani, and Mustafa A. Ahmed, 1992, Human Development as Described in the Qur’an and Sunnah, Makkah, Commission on Scientific Signs of the Qur’an and Sunnah, s. 36). jadi ungkapan anak adalah darah dan daging bapak ibunya itu sangat benar sekali. karena bener2 nempel di daging ibu, dan dapet darah dari ibu..

Di sini, pada bagian ini, satu keajaiban penting dari Al Qur’an terungkap. Saat merujuk pada zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu, Allah menggunakan kata “‘alaq” dalam Al Qur’an:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq (segumpal darah). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.” (QS Al ‘Alaq:1-3)

Arti kata “‘alaq” dalam bahasa Arab adalah “sesuatu yang menempel pada suatu tempat”. Kata ini secara harfiah digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah.


.Pembungkusan Tulang oleh Otot.
Sisi penting lain tentang informasi yang disebutkan dalam ayat-ayat Al Qur’an adalah tahap-tahap pembentukan manusia dalam rahim ibu. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa dalam rahim ibu, mulanya tulang-tulang terbentuk, dan selanjutnya terbentuklah otot yang membungkus tulang-tulang ini.

“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (QS Al Mu’minun:14)

Embriologi adalah cabang ilmu yang mempelajari perkembangan embrio dalam rahim ibu. Hingga akhir-akhir ini, para ahli embriologi beranggapan bahwa tulang dan otot dalam embrio terbentuk secara bersamaan. Karenanya, sejak lama banyak orang yang menyatakan bahwa ayat ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Namun, penelitian canggih dengan mikroskop yang dilakukan dengan menggunakan perkembangan teknologi baru telah mengungkap bahwa pernyataan Al Qur’an adalah benar kata demi katanya.

Penelitian di tingkat mikroskopis ini menunjukkan bahwa perkembangan dalam rahim ibu terjadi dengan cara persis seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut. Pertama, jaringan tulang rawan embrio mulai mengeras. Kemudian sel-sel otot yang terpilih dari jaringan di sekitar tulang-tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang ini.

Peristiwa ini digambarkan dalam sebuah terbitan ilmiah dengan kalimat berikut:
Dalam minggu ketujuh, rangka mulai tersebar ke seluruh tubuh dan tulang-tulang mencapai bentuknya yang kita kenal. Pada akhir minggu ketujuh dan selama minggu kedelapan, otot-otot menempati posisinya di sekeliling bentukan tulang. (Moore, Developing Human, 6. edition,1998.)


.Tiga Tahapan Bayi Dalam Rahim.
Dalam Al Qur’an dipaparkan bahwa manusia diciptakan melalui tiga tahapan dalam rahim ibunya.

“… Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (Al Qur’an, 39:6)

Sebagaimana yang akan dipahami, dalam ayat ini ditunjukkan bahwa seorang manusia diciptakan dalam tubuh ibunya dalam tiga tahapan yang berbeda. Sungguh, biologi modern telah mengungkap bahwa pembentukan embrio pada bayi terjadi dalam tiga tempat yang berbeda dalam rahim ibu. Sekarang, di semua buku pelajaran embriologi yang dipakai di berbagai fakultas kedokteran, hal ini dijadikan sebagai pengetahuan dasar. Misalnya, dalam buku Basic Human Embryology, sebuah buku referensi utama dalam bidang embriologi, fakta ini diuraikan sebagai berikut:

“Kehidupan dalam rahim memiliki tiga tahapan: pre-embrionik; dua setengah minggu pertama, embrionik; sampai akhir minggu ke delapan, dan janin; dari minggu ke delapan sampai kelahiran.” (Williams P., Basic Human Embryology, 3. edition, 1984, s. 64.)

Fase-fase ini mengacu pada tahap-tahap yang berbeda dari perkembangan seorang bayi. Ringkasnya, ciri-ciri tahap perkembangan bayi dalam rahim adalah sebagaimana berikut:
- Tahap Pre-embrionik
Pada tahap pertama, zigot tumbuh membesar melalui pembelahan sel, dan terbentuklah segumpalan sel yang kemudian membenamkan diri pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot yang semakin membesar, sel-sel penyusunnya pun mengatur diri mereka sendiri guna membentuk tiga lapisan (bahasa biologinya disebut lapisan lembaga ektoderm, mesoderm, endoderm :p)
- Tahap Embrionik
Tahap kedua ini berlangsung selama lima setengah minggu. Pada masa ini bayi disebut sebagai “embrio”. Pada tahap ini, organ dan sistem tubuh bayi mulai terbentuk dari lapisan- lapisan sel tersebut. pada tahap ini juga terjadi pembentukan organ2 tubuh. dan pengaturan posisi, sumbu tubuh, dan pembentukan tubuh. pernah nyadar ga kalo kita, manusia itu, sebelum tahap ini adalah sebuah KEPING ! jadi ga keping lagi ya karena adanya tahap2 ini.. :)
- Tahap fetus
Dimulai dari tahap ini dan seterusnya, bayi disebut sebagai “fetus”. Tahap ini dimulai sejak kehamilan bulan kedelapan dan berakhir hingga masa kelahiran. Ciri khusus tahapan ini adalah terlihatnya fetus menyerupai manusia, dengan wajah, kedua tangan dan kakinya. Meskipun pada awalnya memiliki panjang 3 cm, kesemua organnya telah nampak. Tahap ini berlangsung selama kurang lebih 30 minggu, dan perkembangan berlanjut hingga minggu kelahiran.


.Yang Menentukan Jenis Kelamin Bayi.
“Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita, dari air mani, apabila dipancarkan.” (QS An Najm:45-46)

Cabang-cabang ilmu pengetahuan yang berkembang seperti genetika dan biologi molekuler telah membenarkan secara ilmiah ketepatan informasi yang diberikan Al Qur’an ini. Kini diketahui bahwa jenis kelamin ditentukan oleh sel-sel sperma dari tubuh pria, dan bahwa wanita tidak berperan dalam proses penentuan jenis kelamin ini.

Kromosom adalah unsur utama dalam penentuan jenis kelamin. Dua dari 46 kromosom yang menentukan bentuk seorang manusia diketahui sebagai kromosom kelamin. Dua kromosom ini disebut “XY” pada pria, dan “XX” pada wanita. Penamaan ini didasarkan pada bentuk kromosom tersebut yang menyerupai bentuk huruf-huruf ini. Kromosom Y membawa gen-gen yang mengkode sifat-sifat kelelakian, sedangkan kromosom X membawa gen-gen yang mengkode sifat-sifat kewanitaan.

Pembentukan seorang manusia baru berawal dari penggabungan silang salah satu dari kromosom ini, yang pada pria dan wanita ada dalam keadaan berpasangan. Pada wanita, kedua bagian sel kelamin, yang membelah menjadi dua selama peristiwa ovulasi, membawa kromosom X. Sebaliknya, sel kelamin seorang pria menghasilkan dua sel sperma yang berbeda, satu berisi kromosom X, dan yang lainnya berisi kromosom Y. Jika satu sel telur berkromosom X dari wanita ini bergabung dengan sperma yang membawa kromosom Y, maka bayi yang akan lahir berjenis kelamin pria.

Dengan kata lain, jenis kelamin bayi ditentukan oleh jenis kromosom mana dari pria yang bergabung dengan sel telur wanita.


.Saripati Tanah dalam Campuran Air Mani.
Cairan yang disebut mani tidak mengandung sperma saja. Cairan ini justru tersusun dari campuran berbagai cairan yang berlainan. Cairan-cairan ini mempunyai fungsi-fungsi semisal mengandung gula yang diperlukan untuk menyediakan energi bagi sperma, menetralkan asam di pintu masuk rahim, dan melicinkan lingkungan agar memudahkan pergerakan sperma.

Yang cukup menarik, ketika mani disinggung di Al-Qur’an, fakta ini, yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern, juga menunjukkan bahwa mani itu ditetapkan sebagai cairan campuran:

“Sungguh, Kami ciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, lalu Kami beri dia (anugerah) pendengaran dan penglihatan.” (Al Qur’an, 76:2)

Di ayat lain, mani lagi-lagi disebut sebagai campuran dan ditekankan bahwa manusia diciptakan dari “bahan campuran” ini:
“Dialah Yang menciptakan segalanya dengan sebaik-baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian Ia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina.” (Al Qur’an, 32:7-8)

Kata Arab “sulala”, yang diterjemahkan sebagai “sari”, berarti bagian yang mendasar atau terbaik dari sesuatu. Dengan kata lain, ini berarti “bagian dari suatu kesatuan”. Ini menunjukkan bahwa Al Qur’an merupakan firman dari Yang Berkehendak Yang mengetahui penciptaan manusia hingga serinci-rincinya. Yang Berkehendak ini ialah Pencipta manusia.
Baca selengkapnya »

Ini yang Terbaik

| Thursday, December 17, 2009
Oleh : Gita Dwi Lestari (Biologi 2006)

Bismillahirrohmanirrohim,,

Kekuasaan Allah Yang Maha Menghendakilah atas segala yang terjadi pada setiap diri. Sebaik atau seburuk apapun keadaan yang terjadi pada kehidupan kita, itu hanyalah suatu persepsi yang dimunculkan oleh pikiran. Setiap kejadian terjadi atas ijin-Nya untuk suatu alasan-Nya. Keluhan tak akan membuat keadaan lebih baik. Bisa jadi sesuatu yang tidak kita sukai adalah ketetapan yang Allah pilihkan untuk kita. Bukankah hikmah dibaliknya yang lebih baik, maka tidak ada alasan lain untuk tidak meminta petunjuk-Nya atas hikmah untuk semua kejadian tersebut. Kadangkala ujian membuat kabur akan maksud sebenarnya.

‘Orang yang bersabar menghadapi ujian, menerima semua ketentuan Allah dan bersabar atas semua kesulitan, maka Allah akan menampakkan kebaikannya. Tujuannya, agar selanjutnya ia bisa memahami kemaslahatan yang tersembunyi di balik itu.’ (dikutip dari La Tahzan)

Karena setap urusan berasal dari-Nya dan kembali pada-Nya, maka tak ada pilihan lain dalam menjalani hidup ini selain ikhlas atas ketetapan-Nya dan cukuplah Allah sebagai Penolong.

Tak jarang hati ini gusar saat sesuatu berjalan tak sesuai dengan harapan, maka carilah ketenangan bersama Rabb.

“Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hatimu akan tentram”

Pintu hikmah akan terbuka saat prasangka baik tertuju pada Allah.

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku maka berprasangkalah ia kepada-Ku sesukanya.”

Saat ketukan itu tidak cukup kuat untuk membuka pintu-Nya, Allah mempunyai jawabannya untuk waktu yang tepat. Bersabar adalah sikap yang diutamakan..

“Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (Az-Zumar:10)

Muhasabah diri atas apa yang telah terlewati pun menjadi hal yang patut dilakukan.

Dari Ma’qal ibn Yasar, Rasulullah saw bersabda,’ Rabb kalian Yang MahaSuci lagi MahaTinggi  berfirman,”Wahai anak Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan isi hatimu dengan rasa kaya dan akan Aku penuhi tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam, janganlah kalian menajuhi Aku, hingga Aku isi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan.’
Astagfirullohal’adzim, barangkali kesibukan yang selama ini meliputi kita akibat kealpaan diri ini mendekat pada-Nya.

YaAllah Yang Maha Membukakan, Bukakanlah Hikmah sebesar-besarnya atas semua yang tejadi dalam kehidupan kami. Engkaulah sebaik-baik tempat Bergantung, Engkaulah Yang Maha Mengetahui Yang Gaib, Engkaulah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, maka janganlah pernah Kau Tinggalkan kami YaAllah..
Baca selengkapnya »

Satu Kisah Fatimah

| Wednesday, December 16, 2009
Oleh : Dewi Raihanasyah (Biologi 2007)


Assalamu’alaikum wr.wb.

Teman2 ku seperjuangan dalam syiar kampus kita di SITH…. Berikut ada suatu teladan yang subhanallah sekali, yaitu sedikit cerita tentang kemuliaan Fatimah Az-Zahra à orang yang paling dicintai Rasullullah SAW. Semoga bisa menjadi renungan kita bersama dan meneladani akhlaknya yang indah, Sehingga kita bisa masuk dalam daftar orang-orang yang dicintai Rasulullah Saw…. Amin…..

Pada suatu hari di Madinah, ketika Nabi Muhammad berada di masjid sedang dikelilingi para sahabat, tiba-tiba anaknya tercinta Fatima, yang telah menikah dengan Ali –prajurit umat Islam yang terkenal– datang pada Nabi. Dia meminta dengan sangat kepada ayah nya untuk dapat meminjam seorang pelayan yang dapat membantunya dalam melaksanakan tugas pekerjaan rumah. Dengan tubuhnya yang ceking dan kesehatannya yang buruk, dia tidak dapat melaksanakan tugas menggiling jagung dan mengambil air dari sumur yang jauh letaknya, di samping juga harus merawat anak-anaknya.

Nabi tampak terharu mendengar permohonan si anak, tapi sementara itu juga Beliau menjadi agak gugup. Tetapi dengan menekan perasaan, Beliau berkata kepada sang anak dengan sinis, “Anakku tersayang, aku tak dapat meluangkan seorang pun di antara mereka ya ng terlibat dalam pengabdian ‘Ashab-e Suffa. Sudah semestinya kau dapat menanggung segala hal yang berat di dunia ini, agar kau mendapat pahalanya di akhirat nanti.” Anak itu mengundurkan diri dengan rasa yang amat puas karena jawaban Nabi, dan selanjutnya tidak pernah lagi mencari pelay an selama hidupnya.

Fatima Az-Zahra si cantik dilahirkan delapan tahun sebelum Hijrah di Mekkah dari Khadijah, istri Nabi yang pertama. Fatima ialah anak yang keempat, sedang yang lainnya: Zainab, Ruqaya, dan Ummi Kalsum. Fatima dibesarkan di bawah asuhan ayahnya, guru dan dermawan yang terbesar bagi umat manusia. Tidak seperti anak-anak lainnya, Fatima mempunyai pembawaan yang tenang dan perangai yang agak melankolis. Badannya yang lemah, dan kesahatannya yang buruk men yebabkan ia terpisah dari kumpulan dan permainan anak-anak. Ajaran, bimbingan, dan aspirasi ayahnya yag agung itu membawanya menjadi wanita berbudi tinggi, ramah-tamah, simpatik, dan tahu mana yang benar.

Fatima, yang sangat mirip dengan ayahnya, baik roman muka maupun dalam hal kebiasaan yang saleh, adalah seorang anak perempuan yang paling diayang ayahnya dan sangat berbakti terhadap Nabi setelah ibunya meninggal dunia. Dengan demikian, dialan yang sang at besar jasanya mengisi kekosongan yang ditinggalkan ibunya.

Pada beberapa kesempatan Nabi Muhammad SAW menunjukkan rasa sayang yang amat besar kepada Fatima. Suatu saat Beliau berkata, “O… Fatima, Allah tidak suka orang yang membuat kau tidak senang, dan Allah akan senang orang yang kau senangi.”

Juga Nabi dikabarkan telah berucap: “Fatima itu anak saya, siapa yang membuatnya sedih, berarti membuat aku juga menjadi sedih, dan siapa yang menyenangkannya, berarti menyenangkan aku juga.”

Aisyah, istri Nabi tercinta pernah berkata, “Saya tidak pernah berjumpa dengan sosok probadi yang lebih besar daripada Fatima, kecuali kepribadian ayahnya.”

Atas suatu pertanyaan, Aisyah menjawab, “Fatima-lah yang paling disayang oleh Nabi.”

Abu Bakar dan Umar keduanya berusaha agar dapat menikah denga Fatima, tapi Nabi diam saja. Ali yang telah dibesarkan oleh Nabi sendiri, seorang laki-laki yang padanya tergabung berbagai kebajikan yang langka, bersifat kesatria dan penuh keberanian, kesal ehan, dan kecerdasan, merasa ragu-ragu mencari jalan untuk dapat meminang Fatima. Karena dirinya begitu miskin. Tetapi akhirnya ia memberanikan diri meminang Fatima, dan langsung diterima oleh Nabi. Ali menjual kwiras (pelindung dada dari kulit) milikn ya yang bagus. Kwiras ini dimenangkannya pada waktu Perang Badar. Ia menerima 400 dirham sebagai hasil penjualan, dan dengan uang itu ia mempersiapkan upacara pernikahannya. Upacara yang amat sederhana. Agaknya, maksud utama yang mendasari perayaan it u dengan kesederhanaa, ialah untuk mencontohkan kepada para Musllim dan Musllimah perlunya merayakan pernikahan tapa jor-joran dan serba pamer.

fatima hampir berumur delapan belas tahun ketika menikah dengan Ali. Sebagai mahar dari ayahnya yang terkenal itu, ia memperoleh sebuah tempat air dari kulit, sebuah kendi dari tanah, sehelai tikar, dan sebuah batu gilingan jagung.

Kepada putrinya Nabi berkata, “Anakku, aku telah menikahkanmu dengan laki laki yang kepercayaannya lebih kuat dan lebih tinggi daripada yang lainnya, dan seorang yang menonjol dalam hal moral dan kebijaksanaan.”

Kehidupan perkawinan Fatima berjalan lanjcar dalam bentuknya yang sangat sederhana, gigih, dan tidak mengenal lelah. Ali bekerja keras tiap hari untuk mendapatkan nafkah, sedangkan istrinya bersikap rajin, hemat, dan berbakti. Fatima di rumah melaksanak an tugas-tugas rumah tangga; seperti menggiling jagung dan mengambil air dari sumur. Pasangan suami-istri ini terkenal saleh dan dermawan. Mereka tidak pernah membiarkan pengemis melangkah pintunya tanpa memberikan apa saja yang mereka punyai, meskipun mereka sendiri masih lapar. Sifat penuh perikemanusiaan dan murah hati yang terlekat pada keluarga Nabi tidak banyak tandingannya. Di dalam catatan sejarah manusia, Fatima Zahra terkenal karena kemurahan hatinya.

Pada suatu waktu, seorang dari suku bani Salim yang terkenal kampiun dalam praktek sihir datang kepada Nabi, melontarkan kata-kata makian. Tetapi Nabi menjawab dengan lemah-lembut. Ahli sihir itu begitu heran menghadapi sikap luar biasa ini, hingga ia m emeluk agama Islam. Nabi lalu bertanya: “Apakah Anda berbekal makanan?” Jawab orang itu: “Tidak.” Maka, Nabi menanyai Muslimin yang hadir di situ: “Adakah orang yang mau menghadiahkan seekor unta tamu kita ini?” Mu’ad ibn Ibada menghadiahkan seekor unta. Nabi sangat berkenan hati dan melanjutkan: “Barangkali ada orang yang bisa memberikan selembar kain u ntuk penutup kepala saudara seagama Islam?” Kepala orang itu tidak memaki tutup sama sekali. Sayyidina Ali langsung melepas serbannya dan menaruh di a tas kepala orang itu. Kemudian Nabi minta kepada Salman untuk membawa orang itu ke tempat seseorang saudara seagama Islam yang dapat memberinya makan, karena dia lapar.

Salman membawa orang yang baru masuk Islam itu mengunjungi beberapa rumah, tetapi tidak seorang pun yang dapat memberinya makan, kearna waktu itu bukan waktu orang makan.

Akhirnya Salman pergi ke rumah Fatima, dan setelah mengetuk pintu, Salman memberi tahu maksud kunjungannya. Dengan air mata berlinang, putri Nabi ini mengatakan bahwa di rumahnya tidak ada makanan sejak sudah tiga hari yang lalu. Namun putri Nabi itu en ggan menolak seorang tamu, dan tuturnya: “Saya tidak dapat menolak seorang tamu yang lapar tanpa memberinya makan sampai kenyang.”

Fatima lalu melepas kain kerudungnya, lalu memberikannya kepada Slaman, dengan permintaan agar Salman membawanya barang itu ke Shamoon, seorang Yahudi, untuk ditukar dengan jagung. Salman dan orang yang baru saja memeluk agama Islam itu sangat terharu. Dan orang Yahudi itu pun sangat terkesan atas kemurahan hati putri Nabi, dan ia juga memeluk agama Islam dengan menyatakan bahwa Taurat telah memberitahukan kepada golongannya tentang berita akan lahirnya sebuah keluarga yang amat berbudi luhur.
Salman balik ke rumah Fatima dengan membawa jagung. Dan dengan tangannya sendiri, Fatima menggiling jagung itu, dan membakarnya menjadi roti. Salman menyarankan agar Fatima menyisihkan beberapa buath roti intuk anak-anaknya yang kelaparan, tapi dijawab bahwa dirinya tidak berhak untuk berbuat demikian, karena ia telah memberikan kain kerudungnya uitu untuk kepentinga Allah.

Fatima dianugerahi lima orang anak, tiga putra: Hasan, Husein, dan Muhsin, dan dua putri: Zainab dan Umi Kalsum. Hasan lahir pada tahun kegia dan Husein pada tahun keempat Hijrah. Muhsin meninggal dunia waktu masih kecil.

Fatima merawat luka Nabi sepulangnya dari Perang Uhud. Fatima juga ikut bersama Nabi ketika merebut Mekkah, begitu juga ia ikut ketika Nabi melaksanakan ibadah Haji Waqad, apda akhir tahun 11 Hijrah.

Dalam perjalanan haji terakhir ini Nabi jatuh sakit. Fatima tetap mendampingi beliau di sisi tempat tidur. Ketika itu Nabi membisikkan sesuatu ke kuping Fatima yang membuat Fatima menangis, dan kemudian Nabi membisikkan sesuatu lagi yang membuat Fatima tersenyum. Setelah nabi wafat, Fatima menceritakan kejadian itu kepada Aisyah. Ayahnya membisikkan bertia kematianya, itulah yang menyebabkan Fatima menangis, tapi waktu Nabi mengatakan bahwa Fatima-lah orang pertama yang akan berkumpul dengannya di alam baka, maka fatima menjadi bahagia.

Tidak lama setelah Nabi wafat, Fatima meninggal dunia, dalam tahun itu juga, eman bulan setelah nabi wafat. Waktu itu Fatima berumur 28 tahun dan dimakamkan oleh Ali di Jaat ul Baqih (Medina), diantar dengan dukacita masyarakat luas.

Fatima telah menjadi simbol segala yang suci dalam diri wanita, dan pada konsepsi manusa yang paling mulia. Nabi sendiri menyatakan bahwa Fatima akan menjadi “Ratu segenap wanita yang berada di Surga.”
Baca selengkapnya »

MALIK BIN DINAR

| Tuesday, December 15, 2009
Oleh : Okta Noviantina (Biologi 2007)


MALIK BIN DINAR, seorang sufi asal Persia , meninggalkan kisa pertobatan yang menggugah. Bertampang keren dengan harta yang melimpah, Malik masih juga punya angan untuk diangkat menjadi takmir masjid agung yang baru dibangun Mu’awiyah di Damaskus. Maka rajinlah ia pergi ke mesjid itu. Di salah satu pojoknya, ia bentangkan sajadah dan selama setahun terus-menerus beribadah seraya berharap agar setiap orang yang melihatnya tersentuh.

“Alangkah munafiknya engkau ini” bisik hatinya. Setelah setahun berlalu, bila malam datang, ia keluar dari mesjid itu dan pergi bersenang-senang. Pada suatu malam., di tengah-tengah keasyikannya bermain musik, tiba-tiba dari kecapi yang dimainkannya seperti terdengar suara: “Malik, mengapalah engkau belum juga bertobat?” Hatinya bergetar, kecapi dilemparkannya dan ia bergegas ke mesjid.

Selama setahun penuh aku berpura-pura mengembah Allah,”kata fajar budinya. “Bukankah lebih baik jika Kusembah Allah dengan sepenuh hati? Alangkah hinanya beribadah sekedar untuk kedudukan. Bila orang hendak mengangkatku sebagai takmir mesjid, aku tak mau menerimanya” Untuk pertama kalinya malam itu ia shalat dengan khusuk dan ikhlas.

Keesok harinya, orang-orang yang berkumpul di masjid seperti baru tersadar, “Hai, lihatlah dinding masjid telah retak-retak.Kita harus mengangkat seorang pengawas untuk memperbaikinya.” Mereka bersepakat, Malik lah orang yang tepat. Menungguinya hingga usai shalat, mereka lantas berkata: “Kami memohon kepadamu, sudilah menerima pengangkatan kami.”

“ya Allah,” seru Malik, “setahun penuh aku menyembahmu secara munafik dan tak seorangpun memandangku. Kini, seterah kuserahkan jiwaku pada-Mu dan bertekad tak akan menerima jabatan itu, Engkau menyuruh dua puluh orang menghadapku untuk mengalungkan tugas itu ke leherku. Demi kebesaran-Mu, aku tak menginginkan pengangkatan atas diriku.”
Baca selengkapnya »

Cahaya Kebenaran

| Thursday, December 10, 2009
Oleh : Indra Chandra (Bi’06)


Seorang laki-laki dengan mata tertutup mencoba berjalan di dalam sebuah rumah. Langkah pertama berjalan mulus. Langkah-langkah selanjutnya mulai tidak teratur. Dia mulai menendang tempat sampah yang terletak di salah satu sudut ruangan. Isinya berhamburan sehingga membuat kotor lantai rumah. Kemudian kepalanya terantuk tangga. Selang beberapa saat, kakinya keseleo karena salah menginjak undakan yang ada di hadapannya.

Dalam beberapa menit, laki-laki itu membuat ruangan menjadi berantakan, letak barang-barnag pun jadi berubah. Belum lagi luka tubuh akibat benturan dan tabrakan dengan benda keras dan tajam. Jatuh dari tangga, kepala terbentur, dan badan terantuk membuatnya ragu untuk melangkah kagi. Akhirnya dia memilih diam di tempat, karena merasa setiap langkahnya mengandung resiko tinggi dan dia tidak siap menghadapinya. Agar lebih aman, dia memilih berdiri diam mematung.

Begitulah kira-kira gambaran orang yang tidak mendapatkan cahaya dalam hidup ini. Hati yang tidak tersinari cahaya kebenaran akan membuatnya ragu untuk melangkah bahkan dia pun tidak berani untuk mundur. Orang seperti demikian tidak mampu melakukan evaluasi diri dan dia tidak punya kemampuan untuk memperbaikinya karena selama hidupnya penuh dengan keraguan dan ketidaktahuan. Dunianya gelap, tidak mampu melihat mana yang benar dan salah. Hidupnya tidak beraturan karena tidak memiliki panduan hidup yang jelas.

”Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah, sesungguhnya petunjuk yang harus diikuti ialah petunjuk Allah” (Q.S Ali -’Imran :73)

Panduan inilah yang mahal. Kekayaan bagi kita adalah hidayah Ilahi yang harus disyukuri. Bersyukurlah karena kita dianugerahi cahaya kebenaran. Jika tidak, setiap langkah akan sangat merepotkan dan membuat kita cemas, was-was, dan tindak tanduk kita tidak terkendali. Orang yang jauh dari cahaya kebenaran akan akrab dengan ketakutan; takut tidak mendapat bagian, takut mati, takut oleh manusia; takut melangkah dan takut segalanya. Akibatnya hidupnya penuh dengan kepanikan.

Orang yang jauh dari agama dan jauh dari al-qur’an akan sengsara. Semua yang dimilikinya hanya akan menghinakan dirinya. Oleh karena itu, jika ingin menikmati hidup ini, maka minta dan syukurilah karunia terbesar dari Allah, yaitu dibukakan hati kepada ilmu agama. Wallahu’alam.
Baca selengkapnya »

JIWA-JIWA BARZAKH

|
Diambil dari: Aktivis Dakwah Facebook


Merekalah jiwa-jiwa Barzakh
Malam gelap……
Malam sunyi……
Malam senyap……

Dalam kesendirian malam, keramaian padang ilalang, jiwa barzakh melangkah melewati gundukan-gundukan tanah membujur teratur. TANAH PEKUBURAN…….

Disebuah gundukan yang bertuliskan namanya, jiwa barzakh itu berhenti, menunduk dan sejurus kemudian berdo’a diiringi isak tangis halilintar, gemetar.

Tangannya meraih skup yang sudah tergeletak sejak tadi dipinggir kubur, dan mulailah menggali.

Lima menit berlalu, dan menganga lubang kecil yang memang sudah biasa dibuka. Sekelilingnya disemen rapi. Jiwa barzakh masuk kedalamnya, menutup pintu atasnya, dan mulailah ia merenung.

“Inilah rumahku sesungguhnya. Rumah abadi, rumah kesendirian, rumah kegelapan”. G E L A P.

Jiwa barzakh mendudukkan tubuhnya, bersila. Sekelebat bayangan hadits nabi mulai memenuhi memorinya. “Wakafaa bil mauti waaidzo” dan cukuplah kematian menjadi nasihat.

Tangisan mulai mendera. Air mata mulai menghiasi wajahnya. Guncangan kembali terasa.

“Siapakah engkau?’ tanya jiwa barzakh.

“Aku adalah utusan ALLAH, yang akan mencabut nyawamu. Telah habis masamu di dunia”

“Tidak, tidak, aku belum siap !!!”

“ALLAH telah memberimu waktu untuk beramal. Telah datang peringatan kepadamu tentang usiamu yang hampir usai, tidak ada lagi kesempatan buatmu !!!”

“Tidak,…..tidak…..”

Ditariknya jiwa dari ubun-ubun.

“Sakit……sakiiiiiiit……toloo
ooong”

Meronta, ditarik, jiwa barzakh melawan, ditarik lagi,

“Tidaaaaaaaaaaak”
ditarik lagi

“Tidaaaaaaaaaaak”
ditarik lagi,

“Tidaaaaaaaaaaak…………

“Tidaaaaaaaaaaak…………

Aaaaaaaaaaaaaaa………….
Jiwa-jiwa barzakh itu menangis, dalam kubur, sunyi, sepi… Merekalah jiwa-jiwa barzakh

Kubur gelap…..

Kubur sunyi…..

Kubur senyap…

Jiwa itu dibungkus dalam kain kafan yang hitam, basi baunya, bau menyebar kebusukan.

Dibawa naik keatas langit

Tidak bertemu dengan malaikat penjaga langit, kecuali ditanya,

“Jiwa siapakah yang bau busuk ini?”

“Jiwa fulan bin fulan” disebutkan nama jiwa barzakh dengan sebutan yang amat menyeramkan, menggetarkan, menggelegar.

Kembali jiwa barzakh menangis.

Lalu malaikat pembawa sampai dipintu langit, minta dibukakan pintunya.

Pintu langit tidak terbuka, malah terdengar jawaban. “Laa tufattahu lahum abwaabussamaa’iWalaa yadkhulunal jannata hatta yalijal jamalu fii sammil khiyaath”

“Bagi mereka-mereka yang ingkar kepada ALLAH, tidak akan pernah dibukakan pintu langit dan tidak akan pernah masuk kedalam syurga, sampai unta masuk kedalam lubang jarum”.

Terdengar suara

“Dusta hamba Ku, catatkan namanya dalam kitab sijjin, daftarkan ia dineraka jahannam”. Lalu jiwa itu dicampakkan kembali kedunia, dilempar masuk dalam alam kubur. Jiwa barzakh melolong.

“Oh ya ALLAH, ampuni dosa hamba Mu. Kutahu kehidupan didunia hanyalah sebentar. Dan aku akan menghadap kepada Mu, kembali ketempat tujuanku. Kehidupan hari akhir yang penuh dengan kegamangan, kebingungan dan ketakutan orang-orang yang ingkar. Hamba sadar, hamba sadar, hamba sadar……..ALLAH.

Merekalah jiwa-jiwa barzakh

Alam gelap…..

Alam sunyi…..

Alam senyap…

Datang dua orang malaikat

“SIAPA TUHAN MU?” gemetar tanya mereka.

“Aku…aku…aku…tidak tahuuuuu………….”

Ya ALLAH, kenapa lidah ini begitu kelu menyebut asma Mu, kenapa lisan ini begitu kaku. Sungguh, aku telah menghafalnya di dunia, telah kuulang puluhan, ratusan, ribuan ,milyaran kali…… tapi kenapa ya ALLAH,

Apakah kurang khusyu shalatku?,

Apakah kurang panjang do’a ku?,

Apakah kurang basah lisanku?,

Apakah kurang cintaku, dan kurusak dengan cinta-cinta lain selain Mu? Oh….ALLAH.

“Aku…aa….aku tidak tahuuuuuuu…….

“Rasakan siksanya!!!”

Gada, palu, dan rantai menghampiri tubuhnya,

H A N C U R,

Darah berceceran,

Sakit, menjerit, aaaaa….

Dibarukan lagi, dihancurkan lagi,

Darah mengalir, sakit, menjerit, aaaaaaaaa, dibarukan lagi.

“SIAPA NABI MU?” gelegar tanya mereka.

“Aku,…aku…aku…tidak tahuuuuu…..”

Ya habibi, ya Muhammad, kenapa lidah ini begitu kelu menyebutmu, kenapa aku sulit menjawab pertanyaan ini, kenapa? Sungguh telah kuikuti langkahmu, mengajak manusia, berda’wah dengan sungguh-sungguh kepada mereka, mengajak mereka mengenal ALLAH dan engkau. Sungguh telah kuamalkan semua sunahmu. Kujauhi semua laranganmu. Telah kurindu engkau dalam hatiku, bersemayam engkau dalam lubuk batinku.

Apakah kurang ikhlas da’wahku?

Apakah kurang pengorbananku dalam da’wah ini?

Apakah ia diiringi dengan riya’, dan mengharapkan pamrih manusia? Oh, Muhammad.

“Aku….aku…aku tidak tahuuuuu….”

“Rasakan siksanya!!!”

“APA KITAB MU?” gelegar petir tanya mereka.

“Aku..aku….aku… tidak tahuuuuu…..”

Ya hudaaan, ya Qur’an, kenapa lagi lidahku? Kenapa namamu tak mampu kusebut dan kujawab pertanyaan ini, agar selesai sudah semua penderitaan?

Telah kubaca engkau, dihari-hari sibukku, penghias batinku ditengah-tengah kehidupan yang penuh coreng moreng nista, dosa dan maksiat. Telah kuhafal engkau sebagai teman malamku. Saat orang lain terlelap, kulantunkan kalimatmu yang indah, dan menangis daku. Mana air mataku, ia telah menjadi saksi bahwa aku pernah menangis didunia karena membacamu. Telah kubela engkau, saat manusia bodoh menghina dan menginjak-injak isi kandunganmu.

Apakah kurang suci lisanku?

Apakah kurang baik tajwidku?

Apakah kupermainkan engkau, karena kutahu isinya namun tak mengamalkan?Oh….Qur’an ,

“aku….aku….aku tidak tahuuu…….”

“Rasakan siksanya!!!!”

“DI MANA KIBLATMU?” tanya mereka

“Oh……oh….oh aku tidak tahuuuu….”

Ya Ka’bah mukarromah, kenapakah lidahku? Kenapa engkau tak mampu kusebut dan kujawab pertanyaan ini agar ringan penderitaanku? Sungguh, telah kuhadapkan wajahku mengarah kepadamu, puluhan kali dalam sehari. Kutambah amalan yang wajib dengan shalat-shalat sunnah. Telah kuraba engkau, sesampainya dirumahmu bersama jutaan manusia lain yang melaksanakan haji. Telah sering kubincangkan engkau dalam seruan mengajak manusia untuk membangun masjid agar bertambah banyak yang mengarahkan wajahnya padamu.

Apakah kurang bermakna shalatku?

Apakah kurang lantunan takbirku?

Apakah kukhianati engkau, karena ada kiblat lain dalam kehidupanku? Oh….Ka’bah mukarromah.

“aku…aku…akutidak tahuuuu……”

“Rasakan siksanya!!!”

Gada, palu dan rantai menghampiri tubuhnya, HANCUR, Darah berceceran, sakit, menjerit,aaaa……
Dibarukan lagi,

Dihancurkan lagi, Darah mengalir, sakit, menjerit, aaaaa, dibarukan lagi.

Jiwa-jiwa barzakh menangis, pilu menyayat hati. Mengguncang keras bagai pipit, menghias dinding-dinding kubur yang sempit, menghimpit.

Merekalah jiwa-jiwa barzakh…

Seluruh tubuhnya basah dengan air mata.Kristal-kristal putih berloncatan dari matanya yang sendu kuyu. Linangannya menggenang jatuh kedasar kubur buatan yang sengaja dikarya jiwa berzakh untuk selalu mengingatkannya pada rumah abadi.

Ditempat inilah, jiwa berzakh mengadukan keluh kesahnya kepada ALLAH, zat yang menciptakan mereka tentang kelemahan dirinya. Mereka, jiwa-jiwa berzakh itu selalu merasa tak sempurna walau telah berusaha memenuhi tugasnya didunia. Mereka siapkan hidupnya untuk menjawab pertanyaan sulit, hasil evaluasinya terhadap fungsi kehidupannya sebagai manusia.

Mereka, jiwa-jiwa berzakh itu sadar, mereka akan masuk kedalam kubur buatannya. Suatu hari nanti. Dan tak akan pernah membukanya kembali sampai saat ia dibangunkan dialam mahsyar. Ia tebar banyak saksi, kristal air mata disana, agar dapat membelanya, menunjukkan pada sang penanya, Munkar-Nakir, bahwa ia pernah menangis ditempat ini, mengingat kematian. Dan alam berzakh……

Malam ini, jiwa berzakh itu masih dapat membuka pintu kubur, untuk melanjutkan kehidupan. Entah sampai kapan waktunya……..

Merekalah jiwa-jiwa barzakh…..

Malam gelap, kubur gelap, langit gelap,

Hati terang seterang rembulan……………

# Al-‘Izzah ed……. #

“ Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk syurga, hingga unta masuk kelobang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.

Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan diatas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami beri balasan kepada orang-orang yang zalim.”

QS. Al- A’raaf : 40 & 41.
Baca selengkapnya »

Tarbiyyah dan Aktivis Lilin

|
Diambil dari majalah Tawazun edisi 1 Muharram 1427 H


Dinamis dalam dakwah, performa sempurna, dan membangun kesan produktif. Dikenal sebagai, Aktivis Da’wah. Tapi benarkah ini proses membangun? Yang memberikan cahaya tapi menghabiskan potensi dan nilai diri? Membakar habis ruh yang bergerak dalam jasad yang ragu, seperti lilin.

“Sebenarnya umat islam tidak kekurangan kuantitas, tetapi telah kehilangan kualitas. Kita telah kehilangan bentuk dan keteladanan manusia muslim yang kuat imannya, yang membulatkan dirinya untuk dakwah, yang rela berkorban di jalan dakwah dan jihad fii sabilillah, dan yang senantiasa istoqomah sampai akhir hayatnya. Maka marilah kita beriltizam dengan tarbiyah dan janganlah kita ridha menukarnya dengan cara- cara yang lain.” Demikian taujihat yang disampaikan ustad Musthafa Masyur.

Inilah arahan yang mengajarkan kita tentang tujuan dari sebuah kerisauan. Suatu perasaan yang senantiasa kita butuhkan untuk memantapkan satu kata dalam konsep diri kita, kedewasaan. Kerisauan inilah yang seharusnya ditempatkan di atas rel yang benar. Kepada umat dan kader dakwah ini, risau karena kualitas, dan bukan sekedar pada kuantitas. Risau kapada diri kita, kepada kelarga, dan kepada seluruh manusia yang telah dan akan membangun interaksinya dengan kita. Interaksi spesifik, interaksi ketaatan, interaksi dakwah.

Gambaran tersebut diwakili oleh fulan, Seorang Aktivis Dakwah Kampus. Perenungan mengantarkan pada diskusi suatu majelis yang diikutinya. “Ustadz, ini menjadi masalah dalam diri ane. Ane mencermati perilaku dan keluhan aktivis dakwah. Gambarannya begini, ketika seorang hamba memiliki kuantitas ibadah yang bertambah, maka seharusnya berkorelasi positif terhadap kualitas keimanan hamba tersebut. Dalam perspektif dakwah pun seharusnya berlaku hal yang sama. Seorang aktivis, ketika frekuensi aktivitas dakwahnya semakin padat, maka seharusnya ia juga memiliki kualitas keimanan yang juga meningkat. Akan tetapi kenyataan di lapangan terlihat agak berbeda. Seringkali aktivitas dakwah yang padat menggerus dan menyerap habis kesabaran, tabungan empati, dan kedewasaan da’i. Kami menjadi lebih emosional , kehilangan nuansa ukhuwah, dan yang parah adalah melihat amanah dakwah sebagai suatu beban. Kami merasa terjebak dalam sekedar aktivitas formal keorganisasian, sekedar ‘robot- robot’ pelaksana proker. Bahwa amalan tersebut tidak berbeda dengan amalan mahasiswa lain yang menggelar konser musik kampus dan sejenisnya. Parahnya lagi, mereka terlihat lebih ‘hidup’ dengan dinamika aktivitasnya dibandingkan dengan nuansa yang kami miliki dalam mengemban amanah dakwah ini. Bahkan terkadang setan datang dan memberikan was was. Muncul pertanyaan-pertanyaan, susah amat sih menjadi selalu baik di hadapan orang. Atau ungkapan bahwa ane merasa memiliki kepribadian ganda, di depan orang lain selalu dituntut baik, tetapi sebenarnya lemah ketika sendirian, dan seterusnya. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?”



Aktivis Lilin
Gambaran yang dimiliki oleh Fulan tersebut merupakan gambaran dari aktivis lilin. Tampil sebagai Da’I yangmemberikan pencerahan kepada masyarakat kampus, akan tetapi secara sadar membakar potensi keimanan yang dimilikinya. Penyebabnya adalah pemahaman yang memandang agenda dakwah berbingkai keiatan organisasi lebih utama daripada agenda pembinaan. Perilaku turunannya adalah tidak jarang aktivis dakwah meminta izin dari jadwal tarbiyah karena ada syura dakwah. Pada saat itulah potensi keimanan sang aktivis tidak ter upgrade. Padahal itulah bekalan yang harus selalu tersedia dalam agenda dakwah sekecil apapun. Dari pemahaman yang keliru tadi, aktivitas dakwah sang aktivis ‘membakar’ habis potensi dirinya. Menjadi futur adalah konsekuensi logis yang pasti terjadi.

Tanpa kita sadari seringkali kita terjebak di dalam konteks tersebut. Semangat yang kita miliki dalam dakwah sangat kondisional. Ketika lingkungan kondusif untuk dakwah, maka kita akan tampil optimal. Akan tetapi ketika lingkungan melemah dan amanah dakwah hanya tersampir di pundak segelintir ikhwah, maka kita pun melemah, meleleh, dan akhirnya padam, seperti lilin.




Substansi dan Kedudukan Tarbiyah
Jika tarbiyah tidak penting tidak mungkin Syaikh M.Masyhur menegaskan “Marilah kita beriltizam dengan tarbiyah dan janganlah kita ridha dengan cara-cara yang lain.” Sebab tarbiyah adalah wadah dimana kita melengkapi pemahaman dan bekalan dakwah. Modal yang menjelma menjadi ciri dan karakter kita dalam menegakkan amanah kebaikan dan menyerukan islam.

Dimanakah kiranya kita bisa dapatkan tempat yang menempa kita menjadi seorang mujahid? Sosok yang memiliki tingkat pemahaman yang tinggi terhadap agamanya, pemahaman yang menyeluruh, lengkap dan orisinal terhadap kitabullah dan Sunnaturrasul. Dan ia harus memiliki keihlasan yang besar untuk menjadi laskar dakwah dan aqidah. Bukan laskar organisasi kampus apalagi laskar lainnya yang hanya mengejar keuntungan dan tujuan materi semata. Bukan pula laskar yang semata- mata mengejar kepentingan diri sendiri dan popularitas. Menjadi sosok yang mengutamakan kerja daripada hanya sekedar berbicara. Yang seimbang perkataan dan perbuatan. Yang mengena dengan pasti jalan yang dilaluinya dan mengikhlaskan niatnya karena Allah semata.
Baca selengkapnya »

Mengenal Manusia

| Wednesday, December 9, 2009
Oleh : Abdul Rosyad (Biologi 2007)

Telah sering didengar, manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Manusia dibekali dengan akal dan hati untuk berpikir dan menuntun tindakan yang dilakukan dalam kehidupannya. Pada hakikatnya, manusia memang diciptakan untuk sulit berada pada keadaan ideal dimana bisa menggunakan kedua alat pikirnya. Sering kita jumpai dalam kehidupan, seorang teman yang hanya menggunakan rasionya saja dalam bertindak. Penggunaan alat pikir ini tidak terkait dengan status gender dimana disebutkan bahwa kaum pria lebih suka berpikir dengan akal ketimbang mempergunakan perasaannya (hatinya) sedangkan kaum wanita lebih suka berpikir dengan perasaannya ketimbang dengan logikanya. 

Dalam banyak kesempatan, sebaiknya kita mencoba untuk mengenali sahabat-sahabat yang dititipkan Allah kepada kita. Mereka bagaikan cermin diri kita sendiri, sifat buruk dan sifat baik yang ada pada diri sahabat-sahabat kita akan menjadi bahan evaluasi diri kita sendiri untuk menjadi manusia yang lebih baik. Seringkali, setelah kita mengamati tindakan buruk seorang sahabat, timbullah prasangka-prasangka buruk, caci maki dan celaan akan pribadi yang melakukan tindakan itu. Keadaan berpikir seperti inilah yang membawa potensi kehancuran kehidupan sosial-persaudaraan yang telah dijalin. Disisi lain, saat kita mempergunakan kelembekan rasio dalam berpikir – keadaan ini bisa dianggap kita berpikir dibantu perasaan dengan proporsi yang tidak imbang – akan melahirkan sebuah kemakluman, toleransi-toleransi yang cenderung tidak jelas dan tanpa batas. Lalu, bagaimana sebaiknya cara kita berpikir ?. Sejujurnya penulis pun tidak tahu bagaimana cara mempergunakan rasio dan hati dalam berpikir dengan benar.

Rasulallah SAW bersabda ada segumpal darah dalam tubuh manusia yang ketika itu baik maka baiklah segala tingkah lakunya. Sebenarnya, apa yang terpikir dengan ratio kita telah lebih dulu dipikirkan dengan hati. Hanya saja, buah pikir itu sendiri dihasilkan dari hati yang seperti apa, yang hitam penuh benci dan dengki ataukah yang putih bersih menyejukkan. Merupakan hal yang wajar ketika manusia tidak bisa berlaku adil dalam melakukan segala sesuatu termasuk dalam mempergunakan alat pikirnya. Dalam menilai sesuatu –dalam konteks ini ketika mengamati perbuatan yang tidak baik dari seorang sahabat, merupakan contoh yang sering kita temukan dalam kehidupan kita- cobalah untuk berprasangka baik terlebih dahulu kemudian telusuri apa penyebab keburukan itu terjadi. Seorang sahabat yang baik akan berusaha mengenal sahabatnya dengan segala cara yang ia punya, baik secara intensif, perlahan, terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Dengan cara ini, insyaallah, Allah akan melahirkan buah pikir hasil pengoptimalisasian hati dan rasio dalam menilai sesuatu. Langkah berikutnya adalah menyampaikan apa yang perlu kita sampaikan, sebuah nasehat misalnya, kepada sahabat yang kita rasa telah melakukan kehilafan yang sengaja atau tidak sengaja dilakukan. Pada keadaan inilah kita akan merasakan indahnya persahabatan dan persaudaraan yang kita jalin bersama.
Baca selengkapnya »

Hanya “Allah”

| Tuesday, December 8, 2009
Oleh : Arni (Biologi 2007)

Kenapa pada komukasi lisan maupun tulisan kita lebih memilih menggunakan kata “Allah” daripada kata “Tuhan”? Sebuah fenomena sederhana yang penting, namun sayangnya tidak semua orang mengerti dan memahami alasan di balik hal ini. Bahkan kadang kala, orang malah memilih untuk melakukan hal yang sebaliknya.

Pada dasarnya, setiap orang harus mengetahui bahwa kata “Tuhan” merupakan kata yang bersifat umum, tidak mengacu pada siapa kita tengah berbicara. Dengan kata lain, tidak jelas sama sekali “Tuhan” mana yang sedang kita bicarakan. Hal ini terjadi salah satunya karena pada dasarnya, kata “Tuhan” atau “God” sendiri berasal dari sisa kebudayaan religi politheisme yang dalam satu kepercayaan pun terdapat lebih dari satu “Tuhan” atau “God”.

Istilah “Tuhan” sendiri, secara etimologis berasal dari kata “Tuh” atau “Teuh” yang setara dengan istilah “Hyang” atau “Sang Hyang”. Kata tersebut kemudian masuk dan diserap ke dalam istilah bahasa Melayu, yaitu “Tuhan”. Padanannya dalam bahasa Inggris adalah “God”, dalam bahasa Jepang berupa kata “Kami-(sama)” sedangkan dalam bahasa Sansakerta berupa istilah “Dev” atau “Dewa”. Misal, dalam bahasa Jepang, Tuhan atau Dewa Matahari disebut Ameterasu Omikami dan Dewa Kematian adalah Shinigami (gami adalah turunan dari “kami”). Nampak di sini bahwa “Tuhan”, “God”, “Dewa” atau “Kami” cenderung merupakan panggilan gelar daripada sebutan tunggal yang spesifik seperti “Allah”.

Hal yang berbeda terjadi pada penggunaan kata “Allah”. Dengan sifat spesifiknya, penggunaan kata ini akan menyebabkan diketahuinya dengan mudah oleh setiap orang bahwa pembicaraan yang menggunakan kata ini tentulah mengacu pada term Islam atau Muslim. Meskipun begitu, hal yang juga sangat penting untuk dipertimbangkan adalah bahwa kata “Tuhan” dan segala padanannya dapat dipermainkan, diubah dan dimanipulasi sedemikian hingga menciptakan makna yang sama sekali berbeda.

Misal, pada penggunaan istilah “God”. Ketika ditambahkan “s”, “God” menjadi “Gods” atau Tuhan dalam bentuk jamak sesuai dengan inti politheisme. Ketika “dess” yang ditambahkan, “God” menjadi “Goddess” atau Tuhan Wanita yang dalam bahasa Sansakerta disebut “Devi” atau “Dewi” yang mencirikan personifikasi yang tidak dikenal dalam ketauhidan. Hal yang serupa juga terjadi pada pembentukan kata “demigod”, “godfather”, “godmother” atau “shinigami”.

Dalam Islam, dalam ketauhidan yang kita imani, tidak ada istilah “Allah’s”, “Allah Wanita” atau “Allah-dess”, “Allah-father”, “Allah-mother”, “Allah Kematian” atau istilah lain yang serupa salahnya. Kata dan istilah “Allah” adalah unik, spesifik dan tidak dapat tergantikan tempatnya oleh istilah apapun.

Karena itu, dalam penggunaan umum atau ketika tidak mengacu pada “Allah”, maka boleh kita menggunakan istilah “Tuhan”, “Dewa”, “God”, dll. Namun, di saat yang kita maksudkan adalah “Allah”, maka lebih utama untuk tetap menggunakan kata “Allah” dan tidak menggantinya dengan istilah lain.

Wallaahualam.
Baca selengkapnya »

Memiliki dan Menjadi

| Monday, December 7, 2009
Oleh : Andini Warih (Biologi 2007)


Assalamu’alaikum… aLooooha para pengunjung bazaar ilmu Al-Hayaat… Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan sebuah tulisan. Sebelumnya maaf ya bagi semua teman-teman karena saya telat mengirimkan artikel ini. hehehehe….

KISAH INI HANYA PIKTIP BELAKA APABILA ADA KESAMAAN NAMA TOKOH DAN LOKASI KEJADIAN HAL TERSEBUT MERUPAKAN SUATU KETIDAKSENGAJAAN YANG DISENGAJA …

selamat menikmati.



#kasus 1

Saudagar Gibran (bukan nama sebenarnya) membangun vila megah dilereng bukit. Pemandangannya indah dan udaranya segar. di tempat lain beliau masih mempunyai dua buah villa lagi yang juga megah. (maklum tajir, hahaha….) Namun, belum tentu dua bulan sekali pak Gibran sempat menginap di salah satu vilanya karena ia sangat sibuuuuk sekali. Praktis villa tersebut sangat sepi. Sementara itu, Bang Oji (bukan nama sebenarnya) sekeluarga, orang yang dibayar untuk menunggu villa tersebut justru menikmati kemegahan bangunan dan kesegaran udaranya. Meskipun saudagar Gibran jarang sekali menikmati villanya, bahkan harus mengeluarkan uang untuk orang yang menungguinya, dia tetap puas dan bangga karena dia memiliki villa itu. Di rumahnya ada sepuluh mobil. Anggota keluarga saudagar Gibran hanya lima orang. Maka ada mobil yang jarang terpakai yaitu mobil yang paling mahal. Mobil mahal tersebut hanya dipakai pada acara-acara kehormatan saja. Meskipun jarang dipakai namun perawatan dan pajak membutuhkan biaya yang sangat besar, saudagar Gibran telah puas sebagai pemilik.



#kasus 2

Ada seorang petani tua, pak AduL namanya (bukan nama sebenarnya). Suatu hari, ia menanam pohon asam dan pohon mangga dikebunya dekat jalan. Waktu berlalu dan pohon itu dirawat dengan cermat. Tingkah laku Pak AduL yang aneh membuat heran saudagar Gibran yang lewat dengan kereta kencananya. Ia heran mengapa kenapa pohon yang baru akan berbuah dan memberikan hasil bertahun-tahun lamanya ditanam pak AduL? Bukankah pak AduL sudah bau tanah? (parah lo geb, hehoho…) Kenapa tidak menanam pohon yang siap dipanen dalam waktu dekat saja?

Coba cermati ucapan Pak AduL, ”Saya sekarang sudah bau tanah (bau banget duL!!!). Ketika pohon besar dan berbuah mungkin saya sudah meninggal, (ooooooh…..). Tetapi pohon itu akan tetap bermanfaat. Orang yang lewat bisa berteduh, anak-anak bisa bermain sambil memanjat dan memetik buahnya”. Nah, kepuasan pak AduL bukan karena memiliki melainkan karena dapat memberi.

Sahabatku, dari dua kasus diatas dapat kita lihat bahwa dalam hidup ini ada orang-orang yang puas karena memiliki dan menguasai tetapi ada orang-orang yang menemukan kepuasan karena dapat memberi. Berdasarkan hal tersebut orientasi manusia dapat dibedakan menjdi dua yaitu orientasi ”memiliki” dan orientasi ”menjadi”. Masing-masing memiliki dampak yang sangat berbeda. Ciri utama orientasi memiliki adalah cenderung melakukan setiap orang dan setiap hal menjadi miliknya. Memiliki berarti menguasai dan memperlakukan sesuatu sebagai objek. Segala sesuatu dibendakan atau diperlakukan seperti benda. Orang yang memiliki orientasi seperti ini tidak bisa hidup dengan dirinya sendiri karena bergantung pada simbol-simbol yang menjadi miliknya. Kepuasan saudagar Gibran ini hanya pada kepemilikannya bukan pemanfaatannya. Ketika miliknya hilang maka ia merasa eksistensinya juga hilang. Semakin banyak yang dimiliki maka ia akan semakin sombong dan apabila hanya sedikit yang dimiliki maka ia akan kuarng percaya diri.

Berbeda dengan orientasi memiliki (to have) pada orientasi menjadi ini mendorong orang melakukan aktivitas yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri dengan tujuan yang jelas serta membawa perubahan yang berguna secara sosial. Sikap ini menuntun kita untuk membuang sikap memeningkan diri sendiri. Orientasi menjadi mengharuskan adanya memberi, membagi dan berkorban. Orientasi memiliki berarti jalan menurun sedangkan orientasi menjadi berarti jalan mendaki. Jalan mendaki adalah jalan pengorbanan untuk mencapai puncak tujuan sedangkan jalan menurun adalah jalan yang mudah dan menyenagkan karena menurut ego kita. Hayooo, berpikir sejenak dan pastikan kita termasuk yang mana, orientasi ”memiliki” atau orientasi ”menjadi” ya??? hmmmm…

Jika kita kembali apada ajaran agama maka apa-apa yang kita punya di dunia ini hanyalah milik Allah dan kepada-Nya lah semua akan dikembalikan.



CARILAH KEBAHAGIAAN DENGAN CARA MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN. CARILAH KESENANGAN DENGAN CARA MENYENANGKAN ORANG LAIN.

Mohon maaf ya kalu ada kesalahan karena sesunguhnya Yang Maha Benar hanyalah Allah…
Makasi yaaa…. nantika artikel saya berikutnya…

Aufwiedersehen….

”Wahai sahabatku, kuharap Allah akan memegangmu erat, malaikat akan menjagamu selalu tidak hanya membuatmu baik-baik tetapi agar kamu mendapat segala yang terbaik”.
amiin….
Baca selengkapnya »

Siapakah Teman Hidupmu??

| Sunday, December 6, 2009
Oleh : Dewi Raihanasyah (Biologi 2007)

Assalamu’alaikum wr.wb.

Sebelumnya, marilah kita senantiasa mengucap syukur atas nikmat Allah SWT sejak kita lahir sampai sekarang ini kita tetap menggunakan nikmat-Nya. Dan tak lupa pula salawat atas utusan Allah, Rasulullah saw yang baru-baru ini kita memperingati hari kelahiran sang insan pembaharu dalam islam. Semoga kita semua mendapat syafa’at beliau dihari akhir kelak… Amin……

Sesuai dengan judul di atas, kita akan membahas tentang teman hidup. Pertama kali membacanya, mungkin terlintas bahwa teman hidup adalah seseorang yang akan mendampingi kita dikala suka-duka sepanjang hidup kita di dunia ini. Dialah yang menemani kita disaat kita membutuhkan seseorang untuk bersandar dan berkeluh kesah. Kemudian, dia hanya bisa diam mendengarkan semua curahatan hati kita dan sedikit empatinya atau mungkin senyuman kecil untuk membuat kita tenang. Mungkin sedikit kalimat-kalimat bijak yang dilontarkannya sebagai nasihat. Tapi, alangkah sempitnya pemikiran kita jika hanya itu yang terpikirkan oleh kita. Semua itu hanyalah kesenangan dunia semata, ingat kawan akhirat jauh jauh jauh dan jauh lebih lama dari dunia.

Mengapa kita tidak mencari teman hidup yang kekal dan insyaAllah akan senantiasa menemani kita hingga hari akhir.

Al-Quran………….

Yang merupakan wahyu-wahyu Allah, Sang Pencipta kita semua, dimana terdapat banyak pengobat hati didalamnya. Dia lah yang menciptakan kita, pastilah Dia lebih tau tentang kesedihan dan kebahagiaan hamba-Nya. Lalu mengapa kita tak kembali mengingat-Nya disaat kita berduka ataupun bahagia??????

Pertanyakan lagi hal ini pada hati dan pikiranmu, wahai saudari/a ku…. Begitu pula diriku yang tak luput dari dosa-dosa…..

Mari kita dekatkan diri kita pada Al-quran, seiring waktu kita juga mendekatkan diri kita pada Allah SWT. Dikala senang jangan lupa bersyukur atas kebahagiaan yang diberikan-Nya pada kita. Dan dikala sedih, kita juga harus bersyukur karena kesedihan ini berarti Allah perhatian pada kita sehingga kita diberi sedikit teguran……


Ingat ukhti, akhi, bahwa:

“Allah tidak akan memberikan ujian yang tidak mampu dijalani hamba-Nya.” Dan……

“….Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan dan bila engkau telah selesai dalam suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain….”

Karena rencana Allah selalu indah………


Kembali kekonteks awal, bahwa teman hidup yang ideal itu adalah Al-quran. Dimana, kita bisa selalu bertemu dengannya dan berdekatan denganya. Saat senang ataupun sedih kita tinggal membuka lembarannya yang sejuk dan membaca dengan hati dan pikiran kita tertuju pada-Nya. Membaca Al-quran sungguh melegakan hati kita dan sebelumnya alangkah baiknya kita berwudlu terlebih dahulu.

Nikmati setiap huruf yang kita baca dari kitab umat islam ini, begitu indah dan penuh keharuan dikala kita bisa hanyut dalam lantunan bacaan kita sendiri hingga air mata pun mengalir tanpa kita sadari…. Sungguh nikmat ukh, akh, jika kita bisa merasakannya…..

Marilah, kita bersama-sama lebih mengenal kitab agama kita dan melakukan pendekatan lalu mulai meraihnya dan menggenggamnya erat, membuka lembaranya dan sssssstts……..sepertinya sudah ada yang mulai membacanya sambil sesenggukan… Alhamdulillah……….

Ya Allah,, jadikanlah kami hamba-Mu ini yang senantiasa dekat dengan wahyu-wahyu Mu….. Amin…………

Ya Allah, pertemukanlah kami segenap insan dakwah yang telah Kau tiupkan roh kejasad-jasad kami, di Syurga Mu…..Ya Rabb……… amin……………….


Wassalamu’alaikum wr.wb.
Baca selengkapnya »
 

Copyright © 2010 Al-Hayaat | Design by Dzignine