Event

Event
Kegiatan mahasiswa yang akan, sedang, dan telah dilakukan.

Info dan Pengumuman

Info dan Pengumuman
Info tentang organisasi, anggota, majelis ilmu, dan berita eksternal lainnya.

Wahana Berpendapat

Wahana Berpendapat
Silahkan menyampaikan saran, kritik, dan pendapatnya.

cover photo

cover photo

SITH MENGAJI dan DOA BERSAMA

| Tuesday, April 24, 2012


SITH MENGAJI
JUM'AT, 4 MEI 2012 BA'DA ASHAR JAM 16.00 @ KEBAB
*Bakal ada doa bersama buat UAS juga loh!
Baca selengkapnya »

Mengikat yang mendesir, yang membuatmu melayang..

|
oleh Hajah Sofyamarwa Rachmawati 
image source


Saya sangat suka membaca, dibawah ini resume yang saya buat dari sebuah buku yang situlis salah satu penulis favorit saya, Hernowo. Tulisannya ringan, dan banyak dari tulisan tulisannya yang membuat kita jadi termotivasi buat banyak membaca dan menulis. Tanpa menggurui, bahkan beliau memaparkan sejelas jelasnya tahapan menulis. Bukan sekedar "langkah-langkah", tapi seolah beliau memahami perasaan kita sebagai pembaca.

*   *   *   *

PERKAYA DIRI DENGAN MEMBACA
Ketika kau sedang memegang buku di tangan dan membacanya, bayangkan kau sedang berada pada balon udara yang terus membawamu melambung tinggi ke atas. Seperti itulah dirimu ketika membaca buku, materi yang baru membuatmu semakin tinggi dan lebih tahu banyak hal ketimbang sebelumnya. (h. 22)
Walaupun tidak semua isi buku aku pahami, tapi setidaknya aku telah melatih sel-sel otak ku untuk terus bekerja dan banyak hal yang dapat aku ketahui dari bacaanku. (Sofyamarwa, 2010)

"Makna adalah sesuatu yang mendesir di hatimu,hal-hal yang membuatmu melayang.." (Hernowo, 2004)
Membaca buku membuat pembacanya aktif.  Tulisan-tulisan pada buku dapat menimbulkan imajinasi-imajinasi tersendiri bagi pembaca. Ketika kau membaca sebuah novel misalnya, muncul berbagai adegan dalam kepalamu, karakter pemain, setting latar, suara, warna, bahkan rasa. Ya, itulah yang membedakan ketika kita membaca buku dengan hanya sekedar menonton sajian di kotak  kecil bernama televisi.
UBAH BEBAN YANG ADA MENJADI MANFAAT, MAKA BALON UDARAMU AKAN TERBANG LEBIH TINGGI LAGI :D


JAGA DAN SEBARKAN 'KEKAYAANMU' DENGAN MENULIS
Salah satu manfaat menulis adalah mengefektifkan kegiatan membaca buku (Hernowo, 2004).
Jika kau suka membaca, nampaknya merupakan suatu keharusan untuk menuliskan apa yang kau dapatkan. Tulis saja kesan atau kalimat-kalimat ringan yang kau sukai, pokoknya "ikat" hal-hal yang bermanfaat bagi dirimu lewat tulisan.
Karena kau tahu? Betapa hebatnya efek yang ditimbulkan dari kegiatan baca-tulis yang dipadukan!
Pada mulanya mungkin kau hanya mencoba merumuskan gagasan -gagasan orang lain dari buku, namun pada akhirnya, kau akan terdorong untuk dapat menuliskan gagasan-gagasan mu sendiri lewat tulisan-tulisanmu! Ya, aku sudah merasakannya! Nah,sekarang saatnya merenung, apakah selama ini cara membaca saya sudah efektif bila tak dituliskan? Luangkan saja secuil waktumu (7-10 menit) untuk membaca buku dan menuliskan apa yang sudah diperoleh dari kegiatan membaca tersebut. Tak usah khawatir bila kau tak bisa jadi penulis hebat dalam waktu yang sebentar, toh yang harus kau pikirkan adalah apa manfaatnya bagi dirimu, itu saja.
Untuk mengetahui apakah suatu hal bermanfaat bagimu atau tidak, tanyakan secara tajam pada dirimu! Dengan begitu, biasanya otak akan mulai berpikir, mencari berbagai motivasi, sehingga akhirnya kau dapat mengemukakan berbagai alasan kenapa kau mau melakukan hal itu.

PILIHLAH BUKU-BUKU YANG MENGGERAKKAN PIKIRANMU.
"Kita membaca buku untuk mencari tahu tentang diri kita sendiri. Apa yang dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan oleh orang lain, entah mereka nyata atau hanya imajiner, merupakan petunjuk yang sangat penting terhadap pemahaman kita mengenai apa sebenarnya diri kita ini, dan bisa menjadi apakah kita ini." (Ursula K. Le Guin-seorang penulis) h. 67

Seseorang dengan judul buku pilihannya bisa menunjukkan siapa dirinya. Tentu saja, kebutuhannya lah yang mendorong dirinya untuk memilih judul buku tersebut. Pada hakikatnya tidak ada buku yang tidak bermanfaat. Namun juga tidak bisa dipungkiri bahwa banyak buku yang sebenarnya kurang pantas untuk dibaca serta tidak penting untuk diketahui.
Pintar-pintarnya kita lah untuk memilih mana buku yang 'bergizi' mana yang tidak. Tapi ingat, yang kita cari adalah manfaat, maka petiklah manfaat dari apapun yang kau baca.

BERUSAHALAH SEKUAT TENAGA UNTUK MENULISKAN PIKIRANMU
Yang perlu ditulis adalah PIKIRANMU, bukan sekedar susunan huruf-huruf yang mati. Artinya,
ketika menulis, maka yang dipelajari adalah isi (pikiranmu), bukan sarana (kata-katamu). Jadi ketika menulis, bebaskan pikiranmu, ya, Sangat bebas!  Maka bebaskan segala pikiran dari segala hal yang membatasi pikiranmu ketika menulis. Menurut James W. Pennebaker (seorang psikolog yang telah meneliti manfaat menulis secara bebas untuk keperluan penyembuhan diri. Penemuan tentang keajaiban menulis yang membuat sesorang dapat kebal dari serangan penyakit dan terutama sembuh dari tekanan yang menderanya) dalam bukunya Opening Up, jika kamu dalam keadaan bebas saat menulis, dan yang kau tulis adalah hal-hal yang menyesakimu, maka kamu akan terbantu dalam mengatasi tekanan yang menderamu.
Alirkan saja secara bebas! Kesalahan-kesalahanmu, pengalaman-pengalamanmu, perasaanmu
tentang dirimu, potensi-potensimu, pendapatmu,--semuanya! Sekali lagi, bebaskan dirimu dari segala hal! Keluarkan hingga bersih, Keluarkan, keluarkan! Kuras semuanya! Jadi plong? Ya, Lega!
Tak usahlah berpusing-pusing dulu dengan kaidah-kaidah kebahasaan. Lebih baik biasakan dirimu saja untuk terus menulis.
Nah, hasil tulisanmu yang bebas ini adalah bahan untuk tulisanmu. Bedakan kegiatan menulis
bebas (mengumpulkan bahan) dan menulis untuk dipublikasikan (yang dirapikan). Karena dua hal itu sangat berbeda.
PESAN PENTINGNYA: MENULISLAH UNTUK MELATIH DIRIMU AGAR MAU MENERIMA DIRIMU SECARA APA ADANYA. MENULISLAH BERBEKAL KEJUJURAN. TULISLAH APAPUN YANG ADA DI PIKIRAN DAN PERASAANMU. TERBUKALAH PADA DIRIMU SENDIRI KETIKA MENULIS.

BIASAKANLAH MEMBACA DAN MENULISKAN DIRIMU SETIAP HARI
Menulis yang baik diawali dengan menulis sesuatu yang ditujukan untuk keperluan diri sendiri dahulu. Baru setelah berlatih menulis bebas untuk keperuan diri sendiri secara rutin, tahap berikutnya adalah mempelajari kaidah-kaidah kebahasaan. Jika tahapan ini ditempuh, menulis dapat memberikan efek yang dahsyat!
Kaubisa tuliskan dalam buku catatan kecilmu dulu, tuliskan saja setiap hal berkesan yang kau alami, ya,tuliskan saja! Karena menulis dapat membantu seseorang untuk mengenali diri - mengenali pikiran, perasaan dan apapun yang bergejolak dalam diri.

IF YOU CAN DREAM IT, YOU CAN DO IT!
"Pikiran bukan sebuah wadah untuk diisi melainkan api yang harus dinyalakan." Plutarch
Membaca dan menulislah setiap hari, lalu temukan bahwa kehidupanmu sangat menarik!
***********************
Resume buku Mengikat Makna karya Hernowo, 2004. Penerbit Mizan Learning Center: Bandung.
Diresume antara tanggal 29 Des-2 Jan

Baca selengkapnya »

Nilai, Kebudayaan, dan Semangat Perubahan

| Saturday, April 21, 2012



Oleh : Fasa Aditya
Biologi : 2009

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa kebudayaan merupakan unsur penting dalam membangun suatu peradaban. Berbicara kata kebudayaan disini tidak hanya sebatas kata “budaya” yang seperti kita kenal bersama, seperti budaya reog, budaya jaipong, budaya membatik dan lain sebagainya.  Berbicara mengenai budaya disini merupakan suatu nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sehingga akan 
berguna dalam membentuk karakter warga negara Indonesia dalam menghadapi era teknologi informasi yang tumbuh dengan cepat.

Kemajuan teknologi informasi yang begitu cepat dapat memberikan efek kerusakan moral dan kepribadian yang buruk pada setiap masyarakatnya. Dengan latar belakang tersebut, maka orang-orang tersadarkan akan pentingnya suatu etika dalam kehidupan sehari-hari dimana industri dan teknologi tidaklah cukup untuk mencapai suatu kesuksesan. Dengan era dan jaman yang telah berubah maka setiap orang wajib untuk mempersiapkan diri utuk menghadapi era tersebut.

Negara Indonesia telah banyak berganti sistem dan pemimpin. Hasilnya adalah tidak menghasilakan suatu perbuahan yang signifikan dalam perkembangan negara Indonesia. Hal tersebut karena negara ini tidak membangun kepribadian dan budaya dari rakyatnya. Suatu penelitian menyebutkan bahwa 80% kesuksesan seseorang adalah karena kepribadianya yang bagus dan sisanya adalah wawasan yang luas dan kecerdasannya yang tinggi.

Negara indonesia merupakan negara yang pandai dalam mengkonsep suatu strategi. Akan tetapi pada saat eksekusinya tidaklah baik. Eksekusi yang tidak baik disebabkan oleh sumber daya manusia yang kurang baik. Sumber daya manusia  yang kurang baik disebabkan oleh semangat orang-orangnya untuk melaksanakan konsep tersebut masih sangatlah kurang. Semangat tersebut dapat dibangun oleh suatu kebanggaan pada instansinya. Kebanggan tersebut dapat dibangun melalui budaya masyarakatnya. Dengan kebanggaan yang tinggi tersebut dapat menstimulus orang untuk dapat menjadi yang terbaik.

Dalam mencapai targetan untuk menjadi negara maju, setiap negara akana mengalami entropi atau hambatan. Entropi dapat dianalogikan sebagai mobil yang pada awalnya dalam 1 liter dapat mencapai 10 kilometer pada realisasinya hanya dapat menempuh 5 kilometer dalam 1 liternya. Hal tersebut karena karburatornya yang terhambat atau  onderdilnya yang sudah tua. Nilai entropy yang mencapai 50% dalam suat masyarakatnya dapat menyebabkan keruntuhan negara tersebut. Untuk menilai suatu entropy dapat di hitung berdasarkan 4 aspek yakni Karakter leadeship, value, dan sistem.

Dari keempat aspek tersebut, tidak bisa dijalankan secara satu persatu.contohnya adalah leadership tidak bisa berdiri sendiri. Banyak orang yang memiliki leadership yang baik akan tetapi kepribadiannya buruk. Hal tersebut dapat membahayakan bagi negara Indonesia. Akan tetapi, celakannya negara Indonesia hanya membangun leadershipnya tanpa membangun kepribadiannya.

Baca selengkapnya »

Belajar dari Shaf Shalat yang Bolong

| Thursday, April 19, 2012
oleh : Hajah Sofyamarwa R. (Biologi 2009)
Bismillahirrahmaanirrahiim..
Ahad, 15 April 2012
Dhuhur itu, tidak seperti biasanya, saya membantu mbak Rini dan bu Idar (karyawan salman-red) merapatkan shaf shalat. Hal itu jarang saya bisa lakukan (padahal harusnya saya sebagai anak asrama salman bisa), karena aktivitas semacam ini tidak mudah bagi saya. Walaupun pernah tahu bahwa shaf shalat harus rapat, saya masih segan untuk mengingatkan orang yang akan shalat. Pasti saat itu saya hanya dapat melakukannya dengan isyarat tangan dengan suara yang lebih kecil. Berusaha tidak menyinggung siapapun terutama jama'ah yang sudah lebih tua.
Shalat berjamaah akan dimulai, saya pun bergegas mencari tempat untuk saya shalat. Ternyata di shaf yang mau saya tempati, sudah penuh. Saya harus bikin shaf baru di depan. Grasak grusuk, saya dan beberapa jamaah lainnya membuat shaf baru sambil memakai mukena. Karena saat itu saya udah siap, saya langsung takbiratul ikhram dan mulai shalat mendahului yang lain.
Ibu-ibu di sebelah saya menyusul, namun menyisakan satu lubang kosong di shaf kami. Saat mulai shalat, beliau agak kurang merapat, sehingga antara saya dan ibu tersebut ada jarak yang cukup besar, yang bila saya coba bergeser, hanya akan memindahkan lubangnya ke sisi lainnya. Saat itu kami lagi shalat, dalam posisi yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Padahal tadi di awal saya yang menyuruh jamaah untuk merapatkan shaf, tapi ternyata shaf saya yang berlubang, persis di sebelah saya!
Semoga shalat saya tetap diterima, karena saya memikirkan hal ini ketika shalat. Separuh berharap ibu tersebut akan bergeser atau akan ada orang lain yang mengisinya. Tapi sekali lagi, saat itu saya dalam kondisi shalat dan tidak tahu harus berbuat apa.
Mungkin ilustrasinya begini:
"Help. Ayolah ada yang datang dan ngisi shaf ini. Ayo pahami bahwa kami ingin shaf yang rapat.."
Oh ya kalo bisa telepati itu mungkin. Tapi toh saya kan ngga bisa.
Sampe beberapa rakaat, beberapa orang yang mau shalat, ngga mengambil tempat di sebelah saya. T_T
Terus saya jadi mulai mikir bahwa itulah salah satu alasan mengapa seharusnya setiap muslim memahami dan menjalankan agamanya, (kalau dalam hal ini keutamaan dari shaf yang rapat).
Bahwa dalam filosofi shalat berjamaah yang saya rasakan, pada dasarnya makmum harus 'kompak' saling memahami. Kalau hanya beberapa saja yang paham, jadi seperti istilah bertepuk sebelah tangan. Dan ini berlaku tidak hanya di waktu shalat, tapi kapanpun. 
Bahwa semua muslim memang harus paham dirinya sebagai muslim yang akan melengkapi yang lainnya seperti sebuah bangunan yang kokoh.
Bahwa seorang penyampai (dalam kasus ini saya yang meminta orang untuk merapatkan shafnya), memang hanya bisa menyampaikan, karena yang mengatur semuanya juga Allah.
Yang rapat ya shafnya!
Foot to Foot, Shoulder to Shoulder! :D
"Barang siapa menutup shaf, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya satu kali dan akan membangunkan sebuah istana untuknya di Surga." (HR. Nasa'i & Huzaimah)
PS: Salah saya juga karena mulai shalat duluan, tanpa bersama-sama mengondisikan kerapihan dengan jamaah di sebelah saya. Alhamdulillah pada akhirnya ada juga yang mengisi tempat di sebelah saya, saat itu juga saya langsung lega.
 
 
Kamis, 19 April 2012
00:54
:)

image source
Baca selengkapnya »

Ta'lim: Peran Wanita dalam Peradaban

| Wednesday, April 18, 2012

Judul Ta'lim : Peran Wanita dalam Peradaban
Waktu        : Jum'at, 20 April 2012 pukul 16.00 teng!
Tempat       : R.1401 Labtek Biru (double helix)
Be there! 

Baca selengkapnya »

BCL (Beginilah Cerita si Lebah) Season 1

|
Oleh : Joko Pebrianto T. (Biologi 2009)

سم الله الرحمن الرحيم

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia" (QS. An-Nahl : 68)


Saya yakin, kata lebah sudah tidak asing lagi di telinga kita. Semua orang tentu mengetahui hewan yang bernama lebah ini. Hewan ini biasa kita ditemukan pada tanaman-tanaman berbunga. Hewan ini dikenal karena dapat menghasilkan madu. Lebah termasuk dalam ordo Hymenoptera atau disebut juga serangga bersayap selaput (tenang, ini bukan kuliah kok). Lebah tersebar di seluruh penjuru dunia. Subhanallah ya.

Teman-teman semua, sebenarnya banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari lebah. Mungkin selama ini kita tidak menyadari bahwa dari perilaku lebah terkandung nilai-nilai yang sangat dalam bila kita pelajari (kenapa malah membicarakan nilai sih?). Mau tau nilai-nilainya? Yuk mari kita simak berikut ini :

1. Lebah hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih.

Lebah hanya hinggap di tempat-tempat pilihan. Dia sangat berbeda dengan lalat yang senang di tempat-tempat kotor. Lebah hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lainnya yang mengandung bahan madu atau nektar.

Begitulah pula sifat seorang mukmin. Allah swt. berfirman:

"Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu." (Al-Baqarah: 168)

2. Mengeluarkan yang bersih.

Kita semua tentu mengetahui zat penting yang dapat dihasilkan oleh lebah, yaitu madu yang sangat dikenal karena berfungsi untuk kesehatan dan membantu menyembuhkan penyakit. Akan tetapi, sesungguhnya dari organ tubuh manakah madu dikeluarkan? Itulah salah satu keistimewaan lebah. Lebah produktif dengan kebaikan, bahkan dari organ tubuh yang pada binatang lain merupakan najis. Baru-baru ini, ditemukan pula produk lebah selain madu yang juga mempunyai khasiat tertentu untuk kesehatan. Produk apakah itu? AIR LIUR.

Seorang mukmin haruslah menjadi orang yang produktif dengan kebajikan. Allah berfirman :

"Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan." (Al-Hajj: 77)

Al-khair adalah kebaikan atau kebajikan. Akan tetapi al-khair dalam ayat di atas bukan merujuk pada kebaikan dalam bentuk ibadah ritual. Sebab, perintah ke arah ibadah ritual sudah terwakili dengan kalimat “rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu” (irka’u, wasjudu, wa’budu rabbakum). Al-khair di dalam ayat itu justru bermakna kebaikan atau kebajikan yang buahnya dirasakan oleh manusia dan makhluk lainnya.

3. Tidak pernah merusak

Lebah tidak suka merusak ataupun mematahkan bunga, ranting, apalagi pohon yang dihinggapinya. Begitu juga seharusnya seorang mukmin. Seorang mukmin tidak pernah melakukan perusakan dalam hal apa pun. Bahkan dia selalu melakukan perbaikan-perbaikan dengan cara-cara yang tepat, salah satunya dengan berdakwah. Seorang mukmin juga harus berani mencegah dan menghentikan kezaliman.

4. Bekerja keras

Lebah adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat "menetas"), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuk sari madu. Subhanallah, hari-harinya dipenuhi dengan semangat berkarya dan beramal. Bukankah Allah pun memerintahkan kita untuk bekerja keras? Hal ini dijelaskan dalam firman Allah :

"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." (Alam Nasyrah: 7)

5. Bekerja secara kelompok dan tunduk pada satu pimpinan

Lebah hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif, dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri. Pembagian kerja yang dilakukan sangat baik dan efektif. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya. Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan

feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengundang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman. "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaff: 4)

6. Tidak pernah melukai kecuali diganggu

Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan "kehormatan" umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin juga harus seperti itu, yaitu tidak mencari-cari musuh, tetapi ketika kehormatan kita diancam, maka kita harus siap untuk membelanya. Karena kehormatan sebagai seorang muslim dan mukmin harus kita jaga sampai kapan pun.

Teman-teman, ternyata banyak sekali hikmah yang dapat diambil dari kehidupan lebah. Hikmah tersebut perlu kita renungi untuk perbaikan diri kita. Apakah kita sudah berusaha untuk mengimplementasikan hikmah-hikmah tersebut? Hanya diri masing-masing dan Allah yang tahu.

Semoga kisah lebah ini dapat menginspirasi kita untuk terus lebih baik sebagaimana seorang muslim dan mukmin semestinya. Sehingga kita bisa menjadi muslim dan mukmin yang lebih baik sebagaimana yang diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah. Aamiin.

Wallahu a'lam bishshawab.

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."

(QS.Al Insyirah:5-6)

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bersambung ke BCL Season 2 ...

Daftar Pustaka

Muhammad, Arya. 2009. Hikmah Sang Lebah Madu. arya-muhamad.blogspot.com/2009/08/hikmah sang-lebah-madu.html. Diakses pada tanggal 24 Mei 2011.

Ozzan, 2007.Jadilah Seperti Lebah. http://bacaanhikmah.blogspot.com/2007/05/jadilah-seperti-lebah.html. Diakses pada tanggal 24 Mei 2011.

Anonim1, 2010. Dakwatuna.com. Diakses pada tanggal 24 Mei 2011.

Anonim2.2010. Keajaiban Lebah Madu. www.harunyahya.com/indo/buku/pesona02.htm. Diakses pada tanggal 24 Mei 2011.

Baca selengkapnya »

Pedang Damaskus: Pedang Legenda Dalam Sejarah

| Monday, April 16, 2012
Oleh: Arekha Bentangan (Mikrobiologi 2008)
Damascus Sabre


Pedang Damaskus pertama kali dikenal oleh para tentara salib yang secara langsung menyaksikan senjata ini pada pertempuran dengan pasukan muslim pada sekitar tahun 1750. Pedang menawan ini dikenal dengan sebutan baja “berair”. Dijuluki seperti itu dikarenakan terdapat pola garis seperti ombak berwarna gelap dan terang serupa dengan pola air pada seluruh permukaan logam. Ada banyak cerita yang beredar mengenai kemampuan pedang ini, Dikatakan bahwa pedang ini cukup kuat untuk membelah batu besar, dan bila pedang diletakkan dan di atasnya dijatuhkan kain sutra, maka kain akan terbelah menjadi dua tanpa terlihat bekas potongan. Dalam kisah lain juga diceritakan bahwa pedang ini dapat memotong pedang lawan dalam sekali tebas tanpa menyebabkan kerusakan sedikitpun, dan dapat diduga, tebasan selanjutnya merupakan hal terakhir yang dilihat oleh para musuh. Reputasi tersebut yang sangat mengintimidasi para pasukan salib yang tengah menginvasi wilayah kependudukan umat islam.



Wave Pattern
Close up of Islamic Sabre #10, made by Assad Ullah in the 17th Century.



Pada masa itu, Damaskus berada dalam kekuasaan Dinasti Ayyubiyah. Ibnu Asakir (wafat pada 1177 M) dalam bukunya berjudul “Sejarah Kota Damaskus” juga mengisahkan kota yang sempat menjadi ibu kota Dinasti Umayyah pada abad ke-7 M dan 8 M itu sebagai pusat pembuatan pedang yang kesohor. Pedang buatan Damaskus yang kerap disebut sebagai pedang Persia sangat lentur dan ulet. Kehebatan pedang dari dunia Islam sempat membuat peradaban Barat terperangah dan terkagum-kagum.

Damascus Blacksmith 1900

Salah satu penyebab kekalahan pasukan salib ialah faktor peralatan tempur. Walaupun pasukan Salib memiliki jumlah pasukan yang lebih besar, namun pasukan muslim memiliki kuda perang yang tangguh dan memiliki perlengkapan dan persenjataan yang lebih baik, misalnya baju perang yang ringan dan kuat sehingga dapat bergerak dengan lincah serta bersenjatakan pedang Damaskus.

Nanoteknologi
Dengan teknologi terkini, diketahui bahwa efek pola air yang dimiliki oleh pedang Damaskus diperoleh dengan menempa baja yang mengandung proporsi jumlah karbon yang besar. Daerah gelap pada permukaan pedang akibat pola yang dibuat residu karbon, sedangkan pola terang dibentuk oleh partikel ikatan karbit besi. Kandungan karbon yang tinggi memungkinkan diperolehnya pedang dengan ketahanan tinggi, namun kehadiran karbon di campuran bahan mentah sangat sulit atau hampir tidak mungkin untuk dikontrol. Terlalu sedikit karbon menyebabkan pedang menjadi lemah, namun terlalu banyak karbon menyebabkan pedang menjadi getas. Bila proses pembuatan pedang tidak berlangsung dengan baik, baja akan membentuk besi sementit, fase besi yang sangat rentan. Namun, para ahli metalurgi Islam mampu mengontrol kerentanan inheren dan menempa bahan mentah tersebut menjadi senjata. Suatu artikel jurnal di Nature  menceritakan bahwa tim riset yang diketuai oleh Peter Paulfer dari universitas Dresden memiliki ide yang menceritakan mengapa baja karbon dapat dibuat dan mengapa saat ini menghilang. Ide tersebut didasari oleh ilmu pengetahuan material modern: Nanoteknologi, hal yang sulit terpikirkan pada abad ke-17. 

Pembuatan baja telah dipelajari dengan seksama dan didokumentasikan oleh para ilmuan muslim. Ilmu diturunkan bagi para ahli pedang di Dunia Islam, yang menjaga dengan baik rahasia ini. Baja Damaskus sangat berharga karena menggabungkan antara kekuatan, elastisitas dan ketahanannya. Saat ini, ilmu mengenai teknik membuat baja Damaskus telah menghilang. Walaupun pembuatan baja telah berkembang dengan pesat, namun para peneliti sampai saat ini masih saja kesulitan untuk meniru dan membuat baja yang mirip dengan baja Damaskus. Dapat kita lihat bahwa ilmuan Islam pada abad 7 sudah memiliki kehebatan dalam pengembangan teknologi material yang bahkan melebihi bangsa lainnya. Saat ini tinggal bagaimana kita sebagai calon cendekiawan Islam yang harus menunjukan kemampuan kita dalam memecahkan berbagai persoalan bangsa bahkan menunjukan pada dunia bahwa ilmuan Islam juga tidak kalah dari ilmuan lainnya.   

Baca selengkapnya »

PENJELASAN DAUROH TENGAH TAHUN

| Wednesday, April 11, 2012
           Untuk menjalankan visi dan misi al hayat khususnya dalam bidang pembinaan kader dan calon kader al hayat. Diperlukan suatu alur kaderisasi yang jelas agar proses dakwah di kampus khusunya di SITH dapat berjalan dengan baik dan berjalan secara berkesinambungan. Salah satu permasalahan yang sering terjadi di lembaga dakwah fakultas Al hayat, seringkali terjadi semacam kesenjangan ketika akan memasuki fase magang bagi calon kader al-hayat. Hal terebut sangat disayangkan mengingat ketika masa TPB tingkat partisipasi calon kader al hayat dalam lembaga dakwah fakultas SITH dan Farmasi (FATEHA) sangatlah tinggi.
            Setelah dianalisis lebih lanjut, salah satu permasalahan yang terjadi adalah sesuatu yang sangat mendasar. Yakni kurang mengenalnya calon kader al-hayat terhadap al-hayat, baik secara organisasi maupun secara personal ke orang-orangnya. Hal tersebutlah yang menyebabkan kesenjangan ketika akan memasuki fase magang sehingga tingkat partisipasi kader al hayat (2011) berkurang.
            Didasarkan atas latar belakang tersebut sehingga dibutuhkan suatu metode yang dimaksudkan untuk memperkenalkan calon kader al-hayat (SITH 2011) terhadap organisasi al-hayat baik itu secara organisasi maupun secara personal. Salah satu metode yang paling feasible untuk kondisi saat ini (waktu, biaya dan tenaga) adalah dengan mengadakan acara dauroh.
            Acara dauroh yang dimaksud saat ini akan berisi tentang pengenalan calon kader al hayat (SITH 2011) terhadap organisasi al hayat. Pada kemasannya, diharapakan juga terjadi interaksi antara kader-kader al-hayat sehingga terdapat suatu proses pengakraban anatara kader-kader al-hayat (angkatan 2008 keatas,2009,2010) dengan calon kader al hayat (2011).
            Untuk melancarkan acara dauroh tersebut, diperlukan pembentukan kepanitiaan khusus (Pansus) yang fokus agar acara tersebut dapat terlaksana dengan baik. Oleh karena itu, pembentukan pansus akan segera dilaksanakan dengan panitia kader al hayat angkatan 2010. Pemilihan angkatan 2010  sebagai panitia merupakan suatu bentuk kaderisasi berjenjang pada kader al hayat. Dimana pada kesempatan tersebut, akan terjadi kerjasama lintas departemen pada kader al hayat angkatan 2010 sehingga diharpakan akan terjadi kekompakan internal pada al hayat 2010.


FASA ADITYA (10609020)
Kepala Departemen Pembinaan
Baca selengkapnya »

Tentang Sapa-Menyapa

| Wednesday, March 3, 2010
Oleh : Pijar Riza (Biologi 2008)

           Saya sedang berjalan menuju warnet langganan yang jauhnya beberapa blok dari rumah ketika berpapasan dengan dia. Wajahnya gak pernah berubah, semakin tua, namun rasanya tetap sama seperti ketika pertama kali saya melihatnya dulu (kalau tidak salah waktu SD). Dia masih menaiki sepeda yang sama, sepeda warna biru yang punya keranjang di depannya. Sepedanya pun masih oleng dengan cara yang sama. Semua orang di kompleks memanggil wanita itu “Mak”. Saya gak tahu nama aslinya siapa, saya juga memanggilnya dengan sebutan yang sama. Setau saya, Mak selalu dititipi uang (plus, plus) oleh orang-orang sekomplek yang terlalu sibuk untuk membayar tagihan listrik, air, atau telfon. Ibu saya sering sekali menggunakan jasa dari Mak, jadi saya cukup familiar dengan dia, dan sebaliknya. Namun akhir-akhir ini saya jarang ada di rumah (kampusku, rumahku), jadi sudah cukup jarang bertemu dengan Mak. Oleh karena itu, ketika berpapasan dengan dia, saya menyempatkan diri untuk menyapa, sambil sedikit menundukkan kepala dan tersenyum simpul (baru level 3 bila dibandingkan dengan senyum Herafi yang level 10), Sundanese style.
Saya: “Mak…”
Mak: “…”
Saya: “Saya anak Pak Safari, Mak.” Mak: “Pak Safari?” Saya: “Suaminya Bu Tatin.” Mak: “Waaaah…ncep, kasep pisan sekarang. Subhanallah…kelas berapa, sekarang cep? Eh, masih di pasantren yah?” Saya: “Sudah kuliah, bu.” Mak: “Ooooh…Iya? Di mana?” Saya: “ITB” Mak: “Hebaaaat, euy si Ncep. Nah gitu orang pinter, orang soleh mah nyapa ke orang tua, teh. Waah…meni kasep pisan, euy sekarang mah. Udah bujang, lagi…”


            Saya pun berlalu, tak mengharapkan respon apa-apa karena memang cuma formalitas belaka. Budaya sunda menyarankan anak muda untuk menyapa bila berpapasan dengan orang yang lebih tua,sebagai tanda hormat, minimal sekedar “punten…” kalau kita tidak tahu namanya. Tapi tak diduga, beberapa detik setelahnya saya mendengar rem sepedanya berdecit keras. Saya menoleh, berat tubuh Mak ikut terlempar kedepan sebagai konsekuensi dari Hukum Newton 1 (Inersia, setiap objek akan mencoba mempertahankan posisinya selama tidak ada gaya lain yang mempengaruhi objek tersebut). Kakinya berpijak ke tanah untuk ikut membantu menjalankan fungsi rem sepedanya yang sudah kurang pakem (maklum, sepeda tua). Tiba-tiba, Mak berhenti dan menoleh ke arah saya.
Mak: “Eh, kamu, kamu, kamu teh anak si itu, ya? Bapak siapa, sih? Emmm…..” (Dia menyebut nama-nama orang yang nyerempet nama-nama ayah saya: Sapardi, Suparman, Brad Pitt, Arnold Schwarzenneger, Bruce Willis, dll.)
         Saya hanya tersenyum (tapi level senyumannya naik karena saya senang habis dipuji ganteng). Saya sama sekali gak menyangka kalau sapaan sederhana yang diniatkan hanya untuk formalitas belaka bisa membuat Mak sangat senang. Mungkin, sapaan itu membuatnya merasa diingat, sesuatu yang mungkin sangat berarti bagi seseorang yang sudah berumur. Hanya sebuah sapaan, dan saya dibilang ganteng. Luar biasa. Dalam hati sedikit-sedikit saya berharap (atau lebih tepatnya berkhayal), kalau Mak bertemu dengan seorang ibu yang punya anak perempuan cantik lalu merekomendasikan saya sebagai calon menantu (saya senyum-senyum sendiri. Level 5). Hahahahaha…
         Sebuah sapaan bukan hal yang besar, bukan hal yang sulit. Berapa, sih ATP yang harus dipecah oleh sel supaya kita bisa tersenyum dan mengucap “Hai…”? Saya rasa gak sebanyak ketika kita berlari sprint atau push-up, misalnya. Tapi ternyata sebuah sapaan bisa menjadi sangat berarti bagi orang yang kita temui. Saya sendiri merasa senang kalau disapa, serasa dihargai karena telah ikut serta dalam minimal sebuah episode kehidupan orang lain. Agama Islam menganjurkan pada umatnya untuk saling menyapa bila bertemu. Bahkan secara tegas mengatakan kalau sebuah sapaan “Assalamualaikum” (semoga keselamatan untukmu) adalah hak dari muslim yang ditemui, dan oleh karena itu harus diucapkan. Kenapa? karena dalam sapaan, baik itu yang mendoakan keselamatan atau yang cuman sekedar memberitahu waktu (selamat pagi, selamat siang, selamat malam, dsb), terdapat indikasi kepedulian kita terhadap orang lain. Dengan menyapa, kita secara tidak langsung menganggap orang lain memiliki peran yang berharga, bukan sekedar figuran.
         Maka ayo mulai saling sapa-menyapa, apalagi kalau bertemu dengan jahim yang sama :-) . Tak perlu high-five atau breakdance, cuman sebut namanya atau minimal cuman “Akang…” atau”Teteh…” aja kalo gak tau nama. Lambaikan tangan atau rendahkan kepala (kalau berpapasan sama orang yang lebih tua), dan jangan lupa, Senyum! Tuh, gak susah, kan?
Baca selengkapnya »

Sebuah pesan dari Umar bin Khattab

| Thursday, December 31, 2009
"Ajarkanlah anakmu seni dan SASTRA, karena sastra itu akan membuat anak yang pengecut menjadi pemberani".

Ayo ayo, sebagai calon saintis dan engineer ataupun yang sudah bergelar S.Si dan S.T mari kita belajar seni dan juga sastra, apalagi yang mau bikin jurnal dan TA, kita harus belajar tata cara tulis menulis yang baik dan benar kan, hehe (apaan sih ga penting -,-)
Baca selengkapnya »

Suatu Kajian Terhadap Sisi Lain Kehidupan

| Wednesday, December 30, 2009
Oleh: Falma Kemalasari (Biologi 2008)


Bicara tentang realita kehidupan jalanan, izinkan saya memulai dari realita yang ada di suatu tempat. Pasar Ciroyom. Ciroyom merupakan pasar induk yang berfungsi sebagai penyedia kebutuhan sehari – hari penduduk. Namun, bagi beberapa gelintir golongan, seperti anak – anak jalanan, pasar ini juga berfungsi sebagai tempat bernaung , tempat mencari nafkah, hingga tempat  menjalani kehidupan. Realita yang dapat diamati di sini mungkin mewakili realita yang dapat kita temui pada kehidupan anak jalanan di kota –kota besar lainnya. Banyaknya anak yang putus sekolah, bekerja sebagai pengamen, kuli angkut, pembersih gerbong kereta, dan peminta – minta, banyaknya anak yang terjerumus dalam penyalahgunaan inhalan (khususnya dengan media lem), serta banyaknya anak yang terpisah dari keluarganya pada tahap perkembangan psikologis yang masih sangat membutuhkan bimbingan orang tua, adalah beberapa realita permasalahan anak jalanan yang tercermin dari kehidupan mereka yang tinggal di Ciroyom.

Pada essay kali ini, saya ingin memfokuskan pembahasan pada masalah penyalahgunaan inhalan oleh anak – anak jalanan karena penggunaan inhalan yang tidak pada tempatnya ini akan memberi dampak yang dapat dirasakan seumur hidup mereka.Ketergantungan inhalan dapat merusak fungsi otak, fungsi koordinasi tubuh, kemampuan berbicara, serta kecerdasan. Padahal hal – hal tersebut merupakan bekal bagi seorang anak untuk tumbuh dan berkembang dengan normal. Oleh karena itu, penanggulangan ketergantungan anak –anak jalanan tersebut pada inhalan, menurut saya, adalah hal yang paling penting untuk dikaji dan dicari solusinya.

Menurut literatur, inhalan adalah bahan uap yang mudah menguap saat dihirup, serta memiliki sifat depresan yang memperlambat fungsi koordinasi tubuh. Contoh inhalan antara lain aerosol, aica aibon, isi korek api gas, cairan dry cleaning, uap bensin, vernis, cairan pemantik api, lem, semen karet, cairan pembersih, cat semprot, semir sepatu, cairan tip-ex, perekat kayu, bahan pembakar aerosol, pengencer cat (tinner). Penyalahgunaan inhalan berarti menggunakan inhalan tersebut bukan untuk fungsi yang semestinya. Bila dihirup zat-zat tersebut akan menimbulkan perasaan euphoria, kegembiraan, serta perasaan mengambang yang menyenangkan, semacam reaksi yang dirasakan pengguna narkoba. Hal ini menyebabkan banyak terjadi penyalahgunaan inhalan untuk menanggulangi depresi. Namun, pada dosis tinggi zat ini juga dapat mengakibatkan halusinasi, ketakutan, hingga distorsi ukuran tubuh.  Inhalan adalah zat yang berbahaya, tapi nyatanya fakta – fakta di lapangan sebagian besar menyatakan bahwa penyalahgunaan produk – produk inhalan ini adalah penyalahgunaan yang paling sering digunakan oleh anak – anak dan remaja, terutama mereka yang hidup di jalanan.

Untuk memecahkan masalah penyalahgunaan inhalan oleh anak jalanan, mungkin akan lebih mudah bagi kita untuk terlebih dahulu menganalisis latar belakang penyalahgunaan tersebut. Realita kehidupan yang dialami oleh anak – anak jalanan mungkin akan sulit dipahami bila tidak dialami sendiri. Karena realita bukanlah ilmu pasti yang dapat diprediksi maupun dipelajari seperti buku yang terbuka, saya hanya dapat berteori. Menurut saya, sebagaimana penyalahgunaan zat – zat adiktif lainnya, penyalahgunaan inhalan terutama dipicu oleh faktor depresi dan keadaan psikologis yang tertekan. Inhalan dipergunakan sebagai media untuk meringankan perasaan depresi yang dirasakan anak – anak tersebut. Latar belakang penyalahgunaan inhalan ini dapat dilihat dari 3 segi latar belakang , yakni keluarga, lingkungan, dan pendidikan.

Ditinjau dari latar belakang keluarga, banyak anak jalanan yang memiliki status keluarga yang tidak jelas. Beberapa memiliki orang tua lebih dari satu pasang, beberapa merupakan korban perceraian, beberapa bahkan tidak mengetahui di mana orang tua mereka. Di lain pihak, umumnya anak – anak pengguna inhalan berusia antara 10 hingga 18 tahun, bahkan lebih muda. Usia ini merupakan usia pembelajaran yang masih sangat butuh bimbingan, terutama dari orang tua. Saat keluarga mereka dalam keadaan yang tidak jelas, orang tua mereka yang sibuk dengan urusan lain, anak –anak tidak dalam kondisi yang dapat menerima bimbingan maupun pembelajaran apapun sehingga menyebabkan ada proses pembelajaran yang hilang dari kehidupan mereka. Hal ini mengakibatkan proses pencarian pembelajaran serta bimbingan tersebut dilakukan pada orang – orang di luar keluarga mereka. Di sinilah peran lingkungan masuk dalam proses pembentukan diri seorang anak. Pada kasus anak jalanan, ketika di rumah dan keluarga mereka tidak menemukan apa yang seharusnya mereka temukan, seperti kasih sayang dan perhatian, maka mereka akan mencari hal – hal tersebut di jalanan. Hingga akhirnya kehidupan di jalanan menjadi kehidupan nyata yang bebas dan lebih menyenangkan untuk mereka. Namun, bebasnya kehidupan jalanan pulalah yang akhirnya mengenalkan mereka pada zat –zat seperti inhalan sebagai suatu solusi permasalahan. Di lain pihak, latar belakang pendidikan yang rendah pada anak – anak jalanan tersebut juga mendukung terjadinya penyalahgunaan inhalan. Setelah lingkungan mengenalkan mereka pada inhalan, latar belakang pendidikan yang rendah mengakibatkan mereka mudah mempercayai penggunaan inhalan tersebut sebagai solusi permasalahan mereka, hingga akhirnya mereka jadi ketergantungan. Ketiga faktor latar belakang tersebut saling mendukung sehingga penyalahgunaan inhalan akhirnya menjadi bagian dari kehidupan anak – anak jalanan.

Setelah berteori memprediksi hal – hal yang menjadi faktor anak – anak tersebut menghirup inhalan, maka kita dapat berteori serta menganalisis solusi yang dapat diterapkan. Solusinya akan lebih mudah ditinjau dari tiga segi pula, yaitu keluarga, lingkungan, dan pendidikan. Dari segi keluarga, mungkin ini merupakan persoalan yang cukup rumit sebab melibatkan banyak pihak. Namun, tetap harus ditemukan solusi karena segalanya dimulai dari keluarga sebagai lingkungan terdekat dengan kehidupan anak. Kemungkinan solusi yang dapat diterapkan antara lain dengan membangun konseling rutin bagi para orang tua mengenai kehidupan keluarga serta bagaimana cara mendidik anak. Konseling ini memang butuh pendekatan secara personal dan teratur sehingga dibutuhkan banyak tenaga sukarelawan dan butuh proses yang memerlukan waktu. Namun diharapkan dari konseling ini orang tua akan lebih menyadari perannya dalam kehidupan anak – anak mereka. Bagi anak – anak jalanan yang telah kehilangan orang tua, ada baiknya diusahakan program seperti orang tua asuh atau kakak asuh. Namun, program seperti ini juga butuh proses, tidak seperti proses pengadopsian anak dari panti asuhan di mana sang anak langsung dibawa masuk ke kehidupan orang tua asuh, program orang tua asuh untuk anak jalanan harus dibedakan. Mereka yang telah terbiasa dengan bebasnya kehidupan di jalanan tidak akan tahan bila langsung dibawa ke kehidupan yang sangat berbeda. Orang- orang yang akan menjadi orang tua asuh harus bisa bersabar melakukan pendekatan personal pada anak – anak tersebut serta sedikit banyak ikut terlibat dalam kehidupan mereka di jalanan. Hal ini untuk menghindari kasus kaburnya anak – anak tersebut kembali ke jalanan ketika mereka tidak dapat beradaptasi saat di bawa ke dalam kehidupan orang tua asuhnya.

Selain keluarga, solusi lain dapat diterapkan pada segi pendidikan. Putus sekolah karena tidak ada biaya merupakan ciri yang umum ditemukan pada anak-anak jalanan. Namun, pendidikan dapat diperoleh dari mana saja. Bila memungkinkan, dapat diupayakan dana demi menyekolahkan anak – anak tersebut ke bangku sekolah umum lagi, tapi akan sulit memasukkan anak – anak tersebut ke sekolah bila mereka masih hidup di jalanan dan harus mencari nafkah setiap hari. Solusi lain adalah dengan mengadakan pendidikan di tempat mereka tinggal, pendidikan yang sesuai dengan jadwal rutinitas mereka dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Pendidikan yang diberikan tidak sebatas pendidikan baca tulis dan berhitung, tapi juga pendidikan yang bertujuan agar mereka dapat mengaplikasikannya pada kehidupan mereka di jalanan. Contohnya pendidikan motivasi diri seperti bagaimana mengelola stress, menjalani kehidupan, dan motivasi berprestasi, pendidikan agama, tentang bagaimana shalat dan puasa, bersyukur serta bersabar, pendidikan kesehatan seperti sanitasi dan bahayanya inhalan, hingga pelatihan keterampilan yang dapat menjadi bekal bagi kehidupan mereka. Bentuk pendidikan ini nantinya juga dapat membuat kegiatan – kegiatan sebagai penyaluran seni dan ekspresi emosi yang terpendam dalam diri anak – anak tersebut sehingga sedikit demi sedikit aktivitas mereka menghirup inhalan akan berkurang. Tentu pendidikan seperti ini butuh pengajar yang banyak serta dapat membawakan pengajaran dengan ringan dan mudah dimengerti. Namun dengan adanya pendidikan seperti ini, diharapkan apa yang anak – anak jalanan tersebut peroleh dari pendidikan dapat mengisi kekosongan ilmu – ilmu yang seharusnya diperoleh di rumah. Jadi, solusi ini dapat menjadi pendukung solusi bagi permasalahan keluarga yang telah dibahas sebelumnya.

Selain pendidikan kehidupan, sebaiknya didirikan lembaga rehabilitasi bagi penyalahgunaan inhalan. Lembaga rehabilitasi ini diperlukan untuk menangani tahap kecanduan pada anak – anak jalanan tersebut. Merehabilitasi seseorang  bukanlah hal yang dapat dilakukan semua orang, butuh tenaga khusus untuk memastikan orang yang direhabilitasi tidak kambuh lagi sehingga perlu adanya suatu lembaga rehabilitasi bagi pengguna inhalan terutama bagi anak – anak jalanan. Lembaga rehabilitasi ini harus secepatnya diwujudkan karena semakin lama anak –anak jalanan tersebut menghirup inhalan, semakin sulit bagi mereka untuk lepas dari ketergantungannya.

Mencari solusi untuk diterapkan dari segi lingkungan anak – anak jalanan tersebut mungkin hal yang paling sulit karena melibatkan begitu banyak komponen dan skala yang luas. Lingkungan anak jalanan mungkin juga dapat diubah dengan pendekatan bimbingan dan pendidikan. Namun butuh waktu yang cukup lama serta perlu diperolehnya kepercayaan dari komponen – komponen kehidupan di lingkungan tersebut. Menerapkan suatu solusi di suatu lingkungan seperti layaknya mengubah dan membangun suatu peradaban, dibutuhkan rencana yang jelas dan jangka panjang sehingga perlu dipikirkan sebaik – baiknya.

Selain solusi – solusi yang saya kemukakan di atas, menurut saya, mungkin dapat dibentuk suatu lapangan kerja yang secara tidak langsung dapat melokalisasikan anak – anak jalanan tersebut di suatu tempat tertentu dengan pekerjaan yang disesuaikan, baik dari segi bobot kerja, waktu kerja, serta penghasilannya disesuaikan dengan kapasitas masing – masing anak. Lapangan kerjanya dapat berbentuk kerja sosial seperti membantu di panti jompo, di panti asuhan, hingga penampungan pengungsian. Dengan ini diharapkan mereka dapat mengenal kehidupan lain di luar kehidupan mereka, di samping mereka juga ikut membantu orang serta belajar bertanggung jawab. Pekerjaan mereka juga dapat menjadi saran penyejahteraan sosial bagi komponen kehidupan sosial lainnya dan mereka pun terlatih untuk lebih menyayangi serta memperhatikan sesama. Program ini dapat diselenggarakan dalam bentuk kerja sama dengan pemerintah, terutama departemen sosial. Namun, apakah lapangan kerja seperti ini termasuk bentuk eksploitasi tenaga kerja di bawah umur? Sementara di lain pihak pekerjaan yang selama ini digeluti oleh anak – anak itu merupakan pekerjaan untuk orang dewasa?

Di sisi lain, penyusunan essay ini melahirkan beberapa pertanyaan baru di pikiran saya. Ada UUD 45 yang mencantumkan bahwa fakir miskin dan anak jalanan di tangggung oleh pemerintah. Memang kita tidak boleh selalu menyalahkan pemerintah, tapi sebenarnya dalam bentuk apakah tanggungan tersebut dimaksudkan? Apa saja yang telah dilakukan pemerintah untuk memenuhi kewajibannya terhadap anak – anak jalanan? Apakah pemerintah hingga saat ini belum tahu bentuk tanggungan dari kewajiban mereka terhadap para anak jalanan tersebut? Bila ternyata belum, dapatkah kita sebagai mahasiswa menangani rancangan bentuk “tanggungan pemerintah terhadap anak jalanan” tersebut dan menjadi semacam agen pelaksana sehingga pemerintah hanya perlu mengalokasikan dana serta melakukan pengujian dan persetujuan terhadap rencana yang disusun mahasiswa?
Baca selengkapnya »

Ramadhan dan Anak Jalanan

| Tuesday, December 29, 2009
Oleh: Maliki Utama Putra (Biologi 2007)


Kedatangan bulan Ramadhan merupakan momen yang memiliki keistimewaan tersendiri bagi seluruh umat muslim karena berbagai macam kebaikan yang ditawarkan di dalamnya. Hal tersebut turut dimanfaatkan oleh Lembaga Dakwah Mahasiswa Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB dengan menyusun agenda yang terangkum sebagai proyek dengan sebutan “Peramal” atau Pelayanan Ramadhan Al-Hayaat. Salah satu agenda penting yang dijalankan berjudul “Ramadhan Dengan Mereka” (RDM)  yang melibatkan anak-anak di sekitar Pasar Ciroyom sebagai salah satu bentuk apresiasi terhadap realita masyarakat yang tersembunyi di balik gemerlap kehidupan perkotaan, khususnya di Kota Bandung. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 5-6 September 2009 dan mengambil tempat di sekitar kompleks Pasar Ciroyom dengan bimbingan dari berbagai pihak yang tergabung dalam organisasi yang dikenal dengan nama “Rumah Belajar Sahaja Ciroyom.” Melalui kegiatan ini, anak-anak Pasar Ciroyom dengan berbagai latar belakang yang mereka jalani sempat menjelaskan seluk-beluk kehidupan mereka yang sebagian besar memuntahkan emosi para pendengarnya.

Cukup banyak manfaat yang saya peroleh dengan mengikuti kegiatan ini. Seringkali kita beranggapan bahwa dengan memberikan uang kecil atau receh bagi anak jalanan sudah merupakan wujud kepedulian kita bagi mereka, akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Uang yang mereka peroleh tidak lain hanya untuk memenuhi kebutuhan sesaat mereka yang bahkan di luar kebutuhan primer yang orang ketahui seperti makan dan minum. Contoh yang terlihat pada anak-anak Pasar Ciroyom adalah bagaimana uang tersebut digunakan untuk memenuhi ketergantungan mereka pada benda-benda yang adiktif seperti rokok dan Lem Aibon (metonimia). Dari informasi tersebut saya kembali menyadari pentingnya menempuh solusi lain terutama yang bersifat jangka panjang sehingga bentuk dari kepedulian kita terwujudkan dengan baik sedikit demi sedikit dengan ikut membaiknya kehidupan mereka.

Kemiskinan tidak dipungkiri menjadi akar permasalahan yang terlihat pada anak-anak Pasar Ciroyom yang saya temui, namun tidak selalu hal tersebut dapat dijadikan alasan untuk mempertahankan keadaan yang dialami oleh mereka saat ini. Kemiskinan merupakan faktor yang bersifat statis dengan manusia yang menjalani sebagai faktor dinamisnya sehingga perubahan yang diinginkan selayaknya bukan merupakan hal yang mustahil untuk diwujudkan. Pendidikan saya rasa harus menjadi hal yang dititikberatkan. Dengan pendidikan, banyak hal baru yang akan mereka peroleh dibandingkan kehidupan lampau mereka yang hanya dihabiskan di jalan dengan aktivitas yang sama setiap harinya. Karena hal-hal tersebut diharapkan mereka dapat keluar dari zona nyaman mereka dan termotivasi untuk kembali membentangkan impian hidup mereka dalam ruang lebih luas yang tercipta oleh pendidikan serta dorongan moril yang melimpah dari lingkungannya.
Baca selengkapnya »

Catatan Ramadhan Dengan Mereka

| Monday, December 28, 2009
Oleh: Dian Magfirah Hala (Biologi 2008)


Kawan, beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan ikut acara Ramadhan Bareng Mereka di Pasar Ciroyom Bandung bareng pengurus al Hayat ITB lainya. Acara apa sih?? Acara ini adalah agenda spesial ramadhan yang udah dirancang oleh al Hayat jauh hari untuk para pengurusnya. Merupakan acara buka puasa dan sahur bareng dengan anak-anak jalanan yang ada di  Pasar Ciroyom. Ngapain aja?? Berikut, saya akan coba menceritakan pengalaman semalam itu ma kalian. Semoga berguna,..

Tiba di pasar ciroyom, kira-kira jam setengah delapan malam, kami dijemput oleh kawan lain yang telah lebih dulu sampai untuk diantarkan ke tempat berlangsungnya acara. Mulanya, acara RBM ini akan diadakan di Rumah Belajar Ciroyom (Rubel Ciroyom) yang letaknya di tengah pasar, namun karena tempatnya yang begitu kecil makanya pelaksanaannya dialihkan ke salah satu ruang kelas madrasah tak jauh dari Rubel. Untuk sampai ke tempat acara, kami harus melewati jalan pasar ciroyom. Bertemu dengan para pedagang yang sibuk mengatur dagangannya, para sopir mobil angkutan barang, serta orang-orang yang hanya duduk ngobrol atau ngopi, ternyata membuat bulu kuduk saya berdiri! Kalau dianalogikan dengan bakteri yang berada dalam lingkungan yang tak menguntungkan, maka malam itu saya  telah berbentuk kista. Hhahahha, berlebihan yak?? Tapi begitulah kawan! Percaya deh! Gambaran buruk tentang pasar dan orang-orangnya membuat sistem perlindungan terhadap diri ini meningkat, apalagi saat itu udah jauh lewat dari jam malam akhwat. Namun, dari perjalanan menyusuri pasar ini juga, ada pelajaran baru yang bisa saya dapatkan. Apa itu?? Yaitu bahwa ternyata ada juga orang-orang, saudara kita yang justru malam harinya adalah waktunya mencari rejeki Allah, sementara orang lain terlelap dalam tidur. Ga kebayang yah kalo mereka-mereka itu adalah orang tua kita?? Kerja keras banting tulang dari awal malam, hingga menjelang dini hari untuk menghidupi keluarganya. Sementara itu, kita anak-anaknya dibiarkannya tidur dengan lelap di rumah untuk sekolah besok pagi. selain itu, buat sebagian orang, malam hari merupakan waktu tepat untuk kumpul keluarga. Ayah ibu telah pulang dari kerja, anak-anak juga telah kembali ke rumah. Tapi gimana yah dengan orang-orang yang saya temui ini???adakah mereka punya waktu berkumpul dengan keluarganya juga??saat anak-anak mereka pulang dari sekolah, orang tuanya justru telah bersiap-siap mencari nafkah. Subhanallah… Maha Suci Allah yang mengatur segala kegiatan makhluk-Nya.

Ketika di perjalanan, saya membayangkan bahwa anak-anak jalanan itu bakalan duduk rapi sambil main-main bareng atau ngobrol bareng dengan panitia. Tapi ternyata,.SURPRISE!!! Begitu masuk ke ruangan, yang ada adalah anak-anak jalanan itu berseliweran, lari-larian kesana kemari kayak gundu yang melesat di tanah disentil pemiliknya! Gerakannya cepat, out of control. Saking terkejutnya, saya dan teman lainnya yang datang bersamaan cuma bisa bengong dan bingung ga tahu harus berbuat apa. Sedangkan,teman-teman yang udah lebih dulu datang malah udah berbaur dengan mereka, maksudnya ikut bermain, lari-larian bareng mereka. Ckckckkc, adaptasi yang cepat yah???salut loh!d^^b

Kawan, saat melihat anak-anak jalanan itu, jujur saya bilang kalo ada sedikit rasa jijik yang muncul di hati. Bagaimana tidak??Kulit mereka hitam kusam, rambut pirang awut-awutan, badan dan kaki yang penuh debu, serta baju yang entah sudah dipakai berapa hari membuat saya berpikir berulang kali untuk merangkul mereka. Belum lagi berbagai pikiran negatif tentang bakteri dan segala macam panyakit terus berkecamuk di kepala saya. Namun, kemudian saya teringat bahwa yang membedakan makhluk Allah di hadapan-Nya itu bukanlah fisik ataupun tampilan makhluk tersebut, melainkan ketaqwaannya pada Allah. Saya lalu sadar kalo saya tidaklah lebih baik dari mereka di hadapan Allah. Boleh jadi, justru mereka yang derajatnya lebih tinggi di hadapan-Nya. Astaghfirullah!!! Saya, engkau, mereka sama-sama tercipta dari setetes air mani yang hina, sehingga kita semua adalah sama dan tak ada yang patut disombongkan. Hanya saja, mungkin nasib yang memposisikan kita sedikit lebih beruntung dari mereka. Akhirnya, setelah berhasil mengusir rasa itu, saya pun kemudian ikut berbaur dengan teman-teman yang lain untuk bermain brsama mereka (anak-anak jalanan tersebut). Dan tenyata rasanya biasa saja kok! Hee,.. secara saat itu juga saya belum mandi sore, jadi ga terlalu merasa bersih banget.. Hahahhaah. (Jangan dicontoh ya! Baik itu kesombongannya, ataupun ga mandinya..)

Belum lama rasanya main-main dengan anak-anak itu, seorang Ibu kemudian berusaha menenangkan keadaan. Ups! Ternyata saya baru sadar bahwa ada orang lain selain kami dari al Hayat, dan anak-anak jalanan itu yang juga ada di ruangan itu. Si ibu lalu berkata pada kami agar sebaiknya adik-adik (anak-anak jalanan)ini diajak untuk shalat isya sekaligus tarawih bareng dengan kami. Ide yang bagus pikirku, karena saya juga ga tahu sebenarnya rundown acara dari teman panitia seperti apa untuk saat itu. Akhirnya satu persatu anak kami tuntun untuk berwudhu. Umumnya, mereka semua sudah tahu tata cara berwudhu, sehingga tidak perlu kami ajari dari awal lagi. Hanya sedikit perbaikan-perbaikan untuk penyempurnaan wudhu yang kami berikan. Ide untuk memisahkan anak laki-laki dan perempuan untuk berwudhu ternyata agak sulit dilaksanakan. Selain karena mereka memang masih sulit diatur, anak-anak perempuannya juga hanya dua orang dan belum mencapai usia baligh. Jadi, tak apalah dulu, pikirku. Kawan, saat sedang berwudhu itu, tiba-tiba salah seorang diantara mereka berhenti wudhu. Dengan wajah serius, dia berkata,”saya ga akan shalat ah kak. Pakaian saya kotor, ga ada sarung.” Mendengar pernyataan seperti ini diucapkan oleh seorang anak jalan membuat hati ini miris. Ga peduli itu hanya sekedar alasan belaka ataupun bukan, ga peduli dikatakan dalam keadaan sadar ataupun ga sadar. Yang penting adalah darimana kata-kata itu dikeluarkan. Dia, seorang anak jalanan yang mengatakannya. Dia yang-boleh dibilang-dibesarkan oleh jalanan, jauh dari pendidikan agama, ternyata masih mau mempersembahkan penghargaan tertingginya saat akan bertemu Tuhannya, Allah SWT. Masih merasa bahwa pakaiannya belum cukup pantas untuk bertemu dengan Rabb yang Maha Suci. Masih merasa kotor, walaupun yang mengotorinya itu hanyalah debu. Subhanallah! Padahal di luar sana, masih banyak orang-termasuk saya- yang jauh lebih cukup darinya justru hanya memilih pakaian sehari-hari mereka saat akan berhadapan dengan Rabbnya. Tak malukah kita dengannya??? Renungkanlah kawan, dan mari bersama-sama memperbaiki diri.

Shalat isya pun dilakukan  berjamaah di ruang kelas madrasah, kemudian dilanjutkan dengan tarawih. Shalat di tempat sesederhana malam itu memberi nuansa malam Ramadhan yang lain. Kening yang biasanya sujud di dinginnya lantai Salman, malam itu sujud diatas pemukaan karpet usang yang berpasir. Alhamdulillah, Allahu Akbar. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kau dustakan..

Setelah shalat, kami pun duduk membentuk lingkaran bersama dengan adik-adik jalanan, serta orang-orang lain yang belum saya kenal. Menurut panitia, saat itu waktunya life sharing alias ngobrol-ngobrol dengan adik-adik jalanan di sana serta dengan para pengurus Rubel Ciroyom. Ooo, ternyata orang-orang yang belum saya kenal itu adalah para pengurus Rubel Ciroyom. Pantas saja, mereka tampak sudah sangat dekat dengan para adik jalanan di sana. Siapa sajakah mereka??? Mereka ada 4 orang, terdiri Pak Gamesh, bu Eka, teh Iyus, teh Ipiet, dan kang Ramdhan. Mereka adalah orang-orang yang care sama kehidupan para anak jalanan di Ciroyom, yang rela meluangkan sedikit waktu disela-sela aktivitas mereka untuk anak-anak jalanan. Mungkin kau akan mengira bahwa mereka semua adalah warga yang tinggal di sekitar pasar. Tapi, ternyata faktanya adalah ga ada satupun dari mereka yang berdomisili di Ciroyom! Hahhahaha, koq bisa ya nyasar jauh-jauh ke ciroyom?? Saat ditanya, angin apa yang membawa mereka ke Ciroyom, kompak mereka menjawab bahwa keberadaan mereka di sana itu karena kepedulian mereka terhadap kehidupan anak jalanan yang memprihatinkan. Pak Gamesh, yang paling senior diantara mereka berempat justru merupakan salah satu pionir lahirnya Rubel Ciroyom sebagai rumah singgah anak jalanan disana, sekaligus sekolah bagi mereka. Oh ya kawan, jangan pikir mereka ga sesibuk kita-kita loh.. Teh Iyus, the Ipiet, dan kang Ramdhan juga adalah mahasiswa kawan, sama seperti kita.  Hanya saja, mereka telah lebih dulu mengenal adik-adik di Ciroyom, dan telah lebih dulu tergerak hatinya untuk menyumbangkan tenaga dan pikiran mereka untuk membina adik-adik jalanan di sana. Apakah hati kita juga akan sama tergeraknya seperti mereka???? Kembalikan ke hati masing-masing ya kawan..

Forum life sharing malam itu dibuka Pak Gamesh dengan menceritakan awal mula terbentuknya Rubel Ciroyom. Beliau bercerita bahwa bilik kecil di tengah pasar, yang menjadi sekre Rubel Ciroyom ini didaaptkan dengan penuh perjuangan. Bagaimana dulu Rubel itu harus pindah karena diusir orang, sempat juga Rubel direncanakan akan dibangun di atas timbunan sampah pasar, dan berbagai perjuangan lainya hingga akhirnya kini mendapat bilik kecil di tengah pasar itu. Beliau juga bercerita bahwa Rubel ini bukan baru sekali ini dikunjungi oleh orang luar, melainkan sudah ada beberapa kali kunjungan yang diterima Rubel ini. Ada kunjungan dari mahasiswa-mahasiswa PT di Bandung, LSM-LSM, bahkan dari pemerintah setempat. Namun, yang mau care dan turun langsung berkontribusi disana itulah yang kurang. Hee,..seperti biasa,ngomong biasanya lebih enak dari pada bertindak! Cerita beliau kemudian beralih pada cerita tentang anak-anak jalanan disana. Anak-anak yang diceritakan itu juga ikut mendengar, seringkali menimpali Pak Gamesh dengan tambahan-tambahan, ataupun meluruskan cerita si bapak. Walaupun mata beberapa anak sudah sangat redup, samapai-sampai sudah ada yang tidur, tapi mereka masih semangat menceritakan pengalamannya pada kami. Begitu pula dengan kami, ganti-gantian kami bertanya pada mereka ataupun pada pak Gamesh. Menurut cerita pak Gamesh, anak-anak jalanan yang ada di ciroyom ini, umumnya adalah pendatang di Ciroyom. Ada yang asalnya dari Jakarta, Bogor, Bekasi, ada juga yang berasal dari daerah bandung dan sekitarnya. Ketika ditanya tentang latar belakang mereka bisa sampai disana, jawaban yang keluar pun beragam. Ada yang latar belakangnya itu adalah kabur dari paksaan orang tua untuk mencari uang, marah sama orang tua (ayah atau ibu) yang menikah lagi, orang tua yang sudah tiada, atau orang tua yang sudah tak mampu lagi membiayai mereka. Ada juga anak yang menyebutkan bahwa mereka bisa sampai di sana itu karena mengejar (baca:menyusul) abangnya yang telah lebih dulu ada di jalanan. Sedih, dan memprihatinkan. Kalau diperhatikan, umumnya orang tua adalah penyebab utama mereka bisa sampai menggelandang di jalanan. Seorang teman ada yang berkata seperti ini,” Ini dia niy, banyak orang tua yang mau punya anak, tapi begitu punya anak ga mau bertanggung jawab.” Yah, tanggung jawab. Itulah yang menurut saya harus ditanamkan pada diri-diri kita. Keberadaan anak-anak jalanan di sekitar kita mungkin memang akibat kelalaian orang tuanya, tapi tidak bisa juga disalahkan sepenuhnya. Orang tua harus bertanggung jawab atas anak-anak mereka, namun kita juga orang-orang yag ada di sekitar mereka bertanggung jawab untuk mambantu mereka. Pemerintah juga memiliki tanggung jawab yang sama besarnya dalam menangani masalah anak jalanan ini. Bayangkan, jika kita orang-orang di sekitar mereka peduli ama mereka, pemerintah juga begitu, orang-orang kaya juga bgitu, para ornag tua juga begitu, insyaAllah mereka ga akan menggelandang seperti ini. Makanya, ayo kita pendekkan pagar pembatas rumah kita, agar kita bisa tahu ada kesusahan apa yang bisa kita bantu di luar sana. Tinggal di kastil dengan tembok-tembok tinggi di sekitarnya akan menyisihkan kita dari dunia riil, tapi jangan sampai juga  kita hidup bagaikan air mancur yang justru tidak memberi efek bagi lingkungannya yang terdekat. Kawan, hiduplah bagai air sungai yang mengalir. Buat dirinya sendiri membawa manfaat, buat orang lain di sekitarnya juga begitu.

Kawan mungkin kau bertanya-tanya, emang seperti apa kehidupan para anak jalanan itu??? Mereka sehari-hari umumnya bekerja sebagai pengamen di bus atau kereta, ada juga yang bekerja sebagai buruh angkut sayur di pasar, buruh kretek (delman), atau sebagai penyewa alat musik buat teman-teman mereka yang ngamen (hahhaha, jiwa enterpreneur banget yah?). Pendapatan mereka sehari kisaran Rp. 10.000-15.000. Mereka gunakan untuk apa uang itu?? Sebagian mereka sisihkan untuk membeli makanan, namun yang lainnya mereka gunakan untuk membeli lem Aibon. Pernah dengar istilah ‘nge-lem’ kan??? Yah, mayoritas anak-anak jalanan di sana telah kecanduan aroma lem tersebut alias kecanduan nge-lem. Entah siapa yang mengajari mereka mengenal barang yang dapat menurunkan kerja otak itu. Lem ini, bukanlah barang yang sulit untuk mereka dapatkan, seperti halnya obat-obatan terlarang. Lem ini bisa dengan mudah mereka dapatkan di lingkungan pasar, karena lem ini dijual bebas. Wong biasanya dipakai untuk lem kayu kok! Cukup dengan uang Rp1500,00, mereka bisa dengan mudah mendapatkan barang itu di tangan. Menurut pengakuan mereka, dalam sehari itu, mereka bisa saja mengkonsumsi lem aibon mulai dari 2 kaleng per harinya sampai 20 kaleng per harinya! Ckckckck, bisa mabok seharian tuh..  Biasanya, mereka mengkonsumsi lem ini dengan mengotrek-otrek isi kaleng dengan potongan lidi, ataupun memasukkannya dalam baju mereka untuk dihirup.  Saat ditanya enaknya nge-lem, mereka hanya tersenyum dan bilang,”enak aja.” Literatur membahas bahwa aroma yang dimiliki lem tersebut itu mampu memberi efek nge-fly buat orang yang menghisapnya. Efek ini, membuat orang untuk sementara waktu mendapat kesenangan, imajinasi, sehingga mereka mampu menghilangkan rasa dingin akibat angin, sakit, capek karena seharian kerja keras, dan ksenangan-kesenangan semu lainnya. Aroma lem ini juga menciptakan kecanduan buat penghirupnya. Dari segi bahaya kesehatannya, lem ini tidak seberbahaya obat-obatan terlarang. Akan tetapi, bila kebanyakan menghirup baunya, maka orang akan lemot dalam berpikir, susah konsentrasi, dan kerja serta kemampuan otaknya menurun. Untuk itu, kata teh Ipiet yang saat ini masih kuliah di UPI Bandung, sebelum mengajari mereka pelajaran-pelajaran sekolahan, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyingkirkan lem itu sejauh-jauhnya dari mereka. Ternyata, hal itu tidak semudah membalikkan tangan kawan! Kadang kita harus tega melihat mereka meronta-ronta saat lem itu ditarik paksa  dari tangannya, kadang pula, kata bu Eka, kita harus bergulat memperebutkan lem itu denga mereka. Saat lem itu berhasil kita singkirkan, maka mereka tidak kehabisan akal untuk kemudian membeli lagi yang baru. Mereka bahkan rela ga makan, asalkan bisa nge-lem. Yah, seperti itulah yang dilakukan kawan-kawan kita seperti Pak Gamesh, bu Eka, dan lain-lain. Mereka melindungi anak-anak jalanan itu dari ketergantungan terhadap lem yang merusak, walaupun terkadang berarti harus bertindak tegas ataupun kejam terhadap mereka. Mereka menerapkan prinsip reward and punish buat anak-anak jalanan didikan mereka. Seperti halnya di bulan ramadhan ini, mereka mengajak anak-anak jalanan itu untuk ikut shaum. Buat mereka yang shaum-termasuk dari nge-lem-, diberikan buka puasa dan sahur gratis. Selain itu, para anak jalanan itu juga akan mendapatkan baju baru di hari lebaran nanti. Nah, buat mereka yang bandel ga mau shaum, maka tidak akan mendapat makanan begitu juga baju. Juga tidak akan diajak ikut dalam penampilan anak jalanan yang biasanya kebanjiran order tampil di bulan ramadhan. Ada yag jera, tapi ada juga yang bebel ga mau nurut. Sedangkan untuk mengajarkan pelajaran-pelajaran sekolah, biasanya di Rubel Ciroyom ini diadakan pertemuan tiap 2 hari sekali dengan mereka.  Dalam pertemuan itu, biasanya kondisi para anak jalanan itu juga di-check. Adakah yang sakit, belum makan, dan segala macam pertanyaan sejenisnya. Selain itu, Rubel ini juga mencarikan pesantren-pesantren yang kira-kira bisa dijadikan sebagai tempat bernaung sekaligus belajar buat anak-anak jalanan itu. Kenapa??? Tujuannya agar mereka tidak terlalu lama hidup menggelandang di jalan, sebab rubel juga memiliki kemampuan yang terbatas dalam melindungi mereka. Namun, dasar mereka sudah betah di jalan! Sempat ada beberapa anak yang dimasukkan dalam pesantren, tapi kabur karena katanya tidak tahan hidup dalam pengaturan.

Waktu telah menunjukkan angka 23.00 WIB saat forum life sharing itu ditutup. Langsung tidur kah?? Ga lah!!! Agenda selanjutnya adalah observasi ke tempat-tempat dimana anak-anak jalanan itu biasanya tidur, bermain, kerja, dan lain-lain. Kawan, tahukah kau bahwa apa yang dikatakan oleh anak jalanan itu tempat tidur adalah tanah yang ada di bawah meja-meja dagang di pasar??? Atau tegel dingin di teras toko-toko di pasar??? Atau di emper stasiun??Mereka tidur di sana kawan! Ga pakai selimut, hanya berbalut pakaian tipis yang melekat di tubuhnya. Modal mereka hanyalah lem yang mereka bawa kemana-mana untuk mengusir rasa dingin itu. Hanya itu! Taman bermain??? Kenal saja mereka mungkin tidak. Tempat main mereka adalah pasar. Hiburan mereka adalah pasar dan lagi-lagi lem. Jadi, jangan pikir mereka pernah bermimpi bermain sepuasnya di Dufan. Malam itu pun akhirnya kami akhiri dengan beristirahat untuk kemudian mempersiapkan diri bangun sahur.

Begitulah kawan cerita yang dapat saya bagi dengan kalian semalam itu. Andai kalian bisa ikut juga malam itu, saya yakin akan lebih banyak lagi pelajaran yang akan kita petik bersama. Oh ya, ada satu lagi yang lupa saya sampaikan! Walaupun mereka susah untuk mendapatkan makan, tapi kawan ketika salah satu dari mereka punya rejeki makanan, maka makanan itu pasti akan dibagikan ke teman-temannya yang lain. Subhanallah.. adakah kita mampu berlaku seperti mereka??? Hee,.. kontribusi kalian ditunggu buat anak-anak jalanan di sana yah!!

Buatlah Indonesia Tersenyum dengan Generasi-Generasi mudanya yang Cemerlang.
Baca selengkapnya »

Wajah Sebuah Peradaban

| Sunday, December 27, 2009
Oleh : Angga Kusnan (Mikrobiologi 2007)


Selama ini mungkin kita tak memahami atau memang tidak mau memahami sama sekali. Disadari atau tidak seringkali kali mata kita tertutup –sengaja menutup- untuk memahami pesoalan yang ada diluar kita. Banyak persoalan sosial tetapi  hanya segelintir orang yang tahu dan mau tahu untuk memahami persoalan itu secara mendalam. Sebut saja persoalan yang akan saya kaji dalam tulisan ini.

Ciroyom, apa yang anda tahu ketika mendengar kata ini. Apakah sebuah pasar biasa layaknya pasar tradisional, ataukah sebuah stasiun transit di pinggiran Kota Bandung, atau juga sebuah terminal angkutan Umum biasa yang tergabung dengan pasar. Secara morfologi wilayah Ciroyom memang perwujudan dari ketiganya. Terminal, pasar, dan juga stasiun kereta api. Berperan sebagai pasar Ciroyom melakukan fungsinya sebagai salah satu penggerak peradaban dengan ciri kumuh sekaligus sibuk. Selama sehari semalam pasar ini tidak pernah mati. Selama 24 jam penuh terjadi perputaran uang sekaligus perputaran penyakit yang sangat luar biasa. Sebagai stasiun transit, tempat ini pun menjadi sangat ramai. Merupakan tempat bertemunya orang-orang dari daerah disekitar Bandung seperti Sumedang, Garut, bahkan mungkin Sukabumi. Sangat mungkin terjadi akulturasi kebiasaan dan watak dari masing-masing daerah. Sebagai terminal angkutan Kota, menjadikan Ciroyom sebagai magnet berkumpulnya warga Pinggiran Kota Bandung, selain itu menjadikan salah satu simpul Polusi yang ada di Kota Bandung. Ketiga peran tersebut sangat menggambarkan betapa Ciroyom merupakan daerah yang selalu hidup, sibuk, heterogen, dan kumuh.

Perpaduan ketiga peran ini menjadikan masalah-masalah sosial terkonsentrasi disini. Premanisme yang menganut paham “yang kuat dialah yang berkuasa” menjadi ideologi yang mendarah daging di wilayah ini. Lingkungan yang kumuh dan pusat polusi (udara, tanah, dan air) membentuk pola hidup yang tidak sehat seperti makan sembarangan ataupun budaya nge-Lem pada anak jalanan. Akulturasi watak dan kebisaan menyebabkan sulitnya membentuk sebuah sistem yang sehat, yang juga disebabkan oleh akulturasi masalah-masalah yang dibawa oleh para lakon (anak jalanan, preman, pedagang dll) di Ciroyom ini. Kesibukannya menyebabkan masyarakat lebih terfokus pada apa yang mereka inginkan yang bersifat materiil dan duniawi. Hal ini juga yang menumbulkan adanya sikap acuh tak acuh terhadap permasalahan sekitar atau bisa dikatakan terhadap masalahnya sendiri. Tidak adanya pendidikan positif yang bersifat kultural menyebabkan rusaknya struktur emosi dan spritual pada tempat ini.

Masalah ini memang diawali dari heterogennya orang-orang yang bergumul di tempat ini. Kemudian dilanjutkan oleh sistem positif yang tidak terbentuk, yang terbentuk justru hirarki premanisme yang berlandaskan hukum rimba. Hirarki ini kemudian menjelma menjadi sebuah tameng bagi terbentuknya Kekumuhan, pola hidup yang tak sehat, pendidikan yang negatif, dsb. Hirarki ini bersinergi dengan kesibukan yang tak pernah mati, kesibukan yang berlandaskan kepada materiil dan duniawi, yang dari sini membentuk pola acuh tak acuh terhadap masalah yang ada atau mungkin membuat mereka tak paham jika ada masalah. Hal ini terus terjadi bagaikan lingkaran setan yang tidak pernah habis. Ambillah satu kasus yang kemudian kita kenal sebagai anak jalanan di Ciroyom. Anak jalanan di Ciroyom cukup unik tapi tetap memiliki ciri umum sebagai anak jalanan. Unik karena mereka bukanlah warga asli Ciroyom melainkan anak yang terkosentrasi di Ciroyom dari berbagai daerah dan dengan latar belakan masalah yang berbeda di setiap individu. Memiliki ciri kumuh , kotor, kumal, tak berpendidikan, tidak sehat dsb. Umumnya mereka datang dengan membawa segudang masalah dan berusaha mencari tempat dimana mereka dapat mengaktualisasikan diri secara penuh sebagai anak. Pencarian aktualisasi diri ini memang alami dan menjadi naluri bagi setiap anak. Dari sini “perhatian” dari orang tua atau siapapun yang mengasuh sangat diperlukan bagi perkembangan anak. Masalah yang melatarbelakangi seperti masalah keluarga, yaitu orang tua yang bercerai, orang tua menikah lagi namun tidak mendapat perhatian secara penuh, dan juga status anak haram yang melekat pada anak tersebut sehingga Ciroyom menjadi tempat pembuangan –maaf- anak

Anak-anak tersebut hadir dan berkumpul dalam komunitas yang tidak mencerminkan keteladanan positif. Mereka disatukan oleh masalah –dengan variasi yang berbeda- yang kemudian membentuk karakter mereka. Awalnya mereka menjadi objek dari sistem yang mereka infiltrasi perlahan, menjadi korban dari ganasnya premanisme seperti kekerasan seksual, nge-Lem (yang ternyata dikoordinir oleh mantan preman demi keuntungan semata) dan lain sebagainya. Kemudian mereka akan belajar memahami lingkungan yang mereka tempati dan menganggap bahwa ini adalah jalan hidup yang harus mereka tempuh dan lewati. Dari proses pemahaman inilah mereka nantinya akan meneruskan budaya premanisme bahkan menjadi pelaku utama sistem ini di masa yang akan datang. Inilah yang disebut lingkaran setan Ciroyom.

Lumpur yang bau masih dapat menumbuhkan bunga teratai yang indah, begitu juga Ciroyom yang secara sosial nyaris bobrok. Harapan akan struktur masyarakat yang lebih baik pasti selalu ada, ibarat mengaharapkan mekarnya bunga teratai di kolam lumpur. Masyarakat sekitar yang notabenenya masyarakat asli Ciroyom telah paham akan hal ini dan mereka melakukan langkah untuk memproteksi terlebih dahulu generasi dan lingkungan mereka. Pembentukan Karang Taruna, pendirian Taman Pengajian Al-quran seperti madrasah dan sekolah, dan juga Perhatian lebih keluarga terhadap anak-anak mereka. Kemudian adanya inisiatif dari LSM yang masih melek untuk membentuk rumah belajar bagi anak jalanan langsung, meskipun awalnya sulit namun sekarang sistem tersebut telah terbentuk dan rumah belajar menjadi bagian dari ekosistem pasar yang diterima oleh setiap komponen pasar seperti preman dan anak jalanan itu sendiri. Kini rumah belajar tersebut menjadi Biofilter yang menyaring kotoran-kotoran peradaban.

Untuk mengatasi wabah penyakit menular maka kita harus memutus siklus dari vektornya (pembawa penyakit). Untuk memutus siklusnya maka kita juga harus tahu pola kehidupan seperti apa yang ada pada si vektor. Begitu juga dalam memutus lingkaran setan Ciroyom. Kita harus paham budaya mereka seperti apa, kita harus mengerti latar belakang apa yang menggerakan mereka (anak jalan, preman, dll). Kemudian kita bisa masuk di salah satu komponennya untuk keudian bergerak secara massif keseluruh komponen. Solusi yang telah dilakukan selama ini masih bersifat reaktif dan belum terarah, meski sekarang sudah lebih baik karena memiliki acuan dan tujuan yang disertai tahapan. Namun masih kurang karena masih menyentuh satu komponen. Sebenarnya ini tak jadi masalah selama solusi sistem yang diberikan berjalan maksimal dan tak kenal menyerah. Tetapi yang terjadi adalah evolusi bukan revolusi sosial. Solusi diatas perlu disentuh oleh sentuhan birokrasi yang bersih dan antikorup untuk melibas premanisme sampai ke akarnya, bukan dengan razia tangan besi dimana justru anak-anak jalanan yang lebih sering menjadi korban. Dengan adanya dukungan birokrasi (dalam hal ini Pemkot Bandung) program yang dilaksanakan menjadi lebih serius dan terstruktur. Ini juga akan menjadi landasan kuat bagi terbentuknya sistem positif yang kokoh dan kuat. Kemudian masyarakat sekitar yang sudah membangun sistem proteksi kini mulai mengarahkan sasarannya kepada anak-anak jalanan langsung. Program yang diusulkan adalah (Gering) Gerakan Sadar Ririungan, dimana gerakan kesadaran masyarakat utnuk mengubah lingkungan sekitar, ririungan disini berarti seluruh komponen baik itu stakeholder, tokoh agama, tokoh masyarakat, memiliki komitmenn untuk menyelesaikan masalah ini. Substansi yang dibawa pada program Gering ini adalah “Kasih Sayang dan Pendidikan untuk Peradaban”. Dengan visi dan misi dari program yang terarah Insya Allah Ciroyom akan berubah. Masih ingat dengan Kalijodo, Saritem, dan Kramat Tunggak yang menjadi Islamic center saat ini. Mereka adalah contoh dari revolusi sosial yang terintegrasi dan sistematis.

“Ciroyom hanyalah salah satu dari dari ribuan ekosistem yang bobrok, masih banyak tempat lainnya yang menjadi tugas besar dalam pewujudan peradaban yang madani”
Baca selengkapnya »
 

Copyright © 2010 Al-Hayaat | Design by Dzignine